Presiden Ukrainia Volodymyr Zelenskyy. | AP/Efrem Lukatsky

Internasional

29 Apr 2022, 03:45 WIB

Zelenskyy Mengaku Diundang Jokowi ke KTT G-20

AS melalui Gedung Putih menyambut langkah Indonesia mengundang Ukraina.

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah melakukan percakapan via telepon dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, Rabu (27/4). Pada kesempatan itu, Jokowi mengundang Zelenskyy untuk hadir dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 di Bali pada November mendatang.

Lewat akun Twitter resminya, Zelenskyy mengungkapkan, dia berterima kasih atas dukungan Indonesia bagi kedaulatan dan integritas teritorial Ukraina. Zelenskyy mengatakan, dia dan Jokowi turut membahas isu ketahanan pangan di Ukraina. “Saya berterima kasih atas undangan untuk ambil bagian dalam KTT G20,” tulis Zelenskyy di akhir cicitannya.

Zelenskyy tak memberi informasi lain, termasuk tentang apakah dia akan memenuhi undangan tersebut. Ukraina sendiri tidak termasuk anggota G-20, Namun, adalah hal wajar bagi presiden G-20 untuk mengundang negara lain sebagai tamu.

Terkait pernyataan Zelenskyy, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Indonesia Teuku Faizasyah mengatakan kepada Reuters bahwa Kemenlu terus melakukan konsultasi dengan pihak terkait. Setiap perkembangan, katanya, disampaikan kepada Jokowi.

Laman South China Morning Post atau SCMP pada Senin (26/4) melaporkan, ada desakan kepada Indonesia untuk mengundang Ukraina ke KTT G-20 pada November mendatang.  Menurut SCMP, alasannya adalah karena sejumlah negara merasa frustrasi karena Indonesia untuk tidak mengundang Presiden Rusia Vladimir Putin.

Namun, Indonesia tetap memilih untuk bersikap tidak memihak kepada siapapun dalam konflik Rusia dan Ukraina. Sementara itu Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva pernah menyebutkan, Putin berniat untuk datang ke KTT G-20.

Amerika Serikat (AS) melalui Gedung Putih menyambut langkah Indonesia mengundang Ukraina. Hal ini diungkap Juru Bicara Gedung Putih Jen Psaki saat menanggapi pertanyaan seorang wartawan.

"Kami tentu saja menyambut baik hal itu. Seperti Anda tahu, Presiden (Joe) Biden pada bulan lalu mengatakan bahwa Ukraina seharusnya bisa ikut berpartisipasi," kata Psaki dalam briefing rutin yang dikutip laman resmi Gedung Putih, Rabu (27/4).

"Namun, kami tidak mengetahui konfirmasi lebih jauh dari berita yang ada, menurut kami ini hal positif," katanya menambahkan.

photo
Sejumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang telah berhasil di evakuasi dari Ukraina mengikuti pelepasan PMI dari Ukraina ke Daerah Asal di Kantor BP2MI, Jakarta, Senin (7/3/2022). Sebanyak 26 PMI dipulangkan ke daerah asal usai tiba dari Ukraina dan telah menjalani isolasi sejak 3 Maret lalu.Prayogi/Republika. - (Prayogi/Republika)

Psaki mengakui bahwa Biden menilai Rusia seharusnya tidak diundang ke KTT G-20. "Namun, pada akhirnya, terserah G20 untuk memutuskan. Jadi kami tidak punya pernyataan apapun saat ini. Kami akan terus berhubungan. Tentu saja kami juga telah menghubungi Indonesia," kata Psaki.

"Masih ada waktu enam bulan. Namun biasanya, presiden memang hadir, namun saya tidak bisa mengkonfirmasi apapun tentang rencana yang masih enam bulan ke depan itu," ujar Psaki.

Namun, dalam pertemuan tingkat pejabat keuangan G-20 pekan lalu di Washington, DC, delegasi AS, Inggris, dan Kanada telah menunjukkan sikap. Mereka sengaja walk out atau meninggalkan arena sidang saat delegasi Rusia berbicara.

Menurut pengamat Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Rizal Sukma, kepada Reuters, undangan Indonesia kepada Ukraina adalah langkah strategis. Undangan itu, katanya, "mencerminkan niat Indonesia untuk menjamin partisipasi seluruh anggota G-20 agar hadir di KTT di Bali, sekaligus menciptakan peluang bagi Rusia dan Ukraina untuk menemukan cara dalam mencapai perdamaian."

Pada Selasa lalu, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi telah terlebih dulu melakukan percakapan via telepon dengan Menlu Ukraina Dmitry Kuleba. Pada kesempatan itu, Retno menyampaikan kesiapan Indonesia untuk memberikan kemanusiaan kepada Ukraina.

“Berbicara di telepon dengan Menlu Ukraina Dmitry Kuleba. Menlu Kuleba menjelaskan situasi terkini di Ukraina, termasuk krisis kemanusiaan. Saya menyampaikan kesiapan Indonesia untuk menyediakan bantuan kemanusiaan bagi rakyat di Ukraina,” kata Retno lewat akun Twitter resminya. 

Bertemu dalam waktu dekat

Dalam perkembangan lain, Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar mengungkapkan, negaranya berharap Putin dan Zelenskyy dapat bertemu dalam beberapa hari mendatang. Hal itu dia sampaikan setelah menghadiri pertemuan untuk membahas bantuan militer Barat ke Kiev yang digelar di Pangkalan Udara Ramstein, Jerman, Rabu.

photo
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melakukan pertemuan di Istanbul, 2019 lalu. - (Kantor Kepresidenan Turki)

"Kami berharap, meskipun ada beberapa kesulitan, kedua pemimpin akan dapat bertemu dalam beberapa hari mendatang berkat usulan dari presiden kami (Recep Tayyip Erdogan)," kata Akar seperti dikutip dalam keterangan pers yang dirilis Kementerian Pertahanan Turki, dilaporkan kantor berita Rusia, TASS.

Dia menekankan, Turki terus melakukan segala sesuatu yang diperlukan, termasuk memainkan peran mediasi, guna mengakhiri konflik di Ukraina. “Sehingga situasi kemanusiaan di Ukraina tidak memburuk dan gencatan senjata dicapai sesegera mungkin,” ujarnya.

Meski merupakan salah satu anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Turki menjadi negara paling aktif dalam memediasi Rusia dan Ukraina. Pada 29 Maret lalu, delegasi Rusia dan Ukraina menggelar negosiasi di Istanbul. Meski tak mencapai kesepakatan gencatan senjata, Moskow berjanji mengurangi operasi militernya di sekitar Kiev dan Chernihiv.

Pada Selasa (24/4) lalu, Putin melakukan pertemuan dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres di Moskow. Pada momen itu, Putin menyampaikan, dia masih berharap dialog dapat mengakhiri konflik di Ukraina. 

"Terlepas dari kenyataan bahwa operasi militer sedang berlangsung, kami masih berharap bahwa kami akan dapat mencapai kesepakatan di jalur diplomatik. Kami sedang bernegosiasi, kami tidak menolak (pembicaraan)," kata Putin kepada Guterres.

Setelah bertemu Putin, Guterres terbang ke Ukraina. Guterres dijadwalkan bertemu Zelenskyy dalam kunjungan tersebut. n reuters/ap

Tunggu Kepastian

Pada Kamis, Kementerian Luar Negeri menyatakan, kepastian kehadiran Ukraina diputuskan Istana Merdeka RI. "Dan yang jelas, Ukraina telah diundang dalam pertemuan menteri keuangan G-20 lalu di Washington DC," ujar Duta Besar RI sekaligus Stafsus Program Prioritas Kemenlu dan Co-Sherpa G-20 Indonesia Dian Triansyah Djani kepada media secara daring, Kamis.

Dian mengatakan, sebagai pemegang presidensi, G-20 Indonesia berkewajiban untuk menjamin dan memainkan peran agar berbagai rangkaian pertemuan G-20 berjalan dengan sukses. Sehingga, lanjutnya dalam kaitan agenda global kepentingan seluruh anggota dapat tersampaikan.

"Dalam presidensi kita akan mendorong isu-isu substansif di berbagai working group, sherpa track hingga financial meeting dan akan tetap berjalan sebagaimana mestinya," ujar Dian. 


Fikih yang Memudahkan

Ibadah dalam Islam hakikatnya tetap sejalan dengan fitrah manusia.

SELENGKAPNYA

Rusia Setop Gas ke Polandia dan Bulgaria

Guterres dan Putin sepakat mengatur evakuasi warga sipil di pabrik baja Azovstal.

SELENGKAPNYA

Menlu Rusia Ingatkan Provokasi Perang Dunia III

Lavrov menyebut, senjata pasokan Barat akan menjadi target yang sah bagi Rusia.

SELENGKAPNYA
×