Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov. | AP/Shamil Zhumatov/Pool Reuters

Internasional

27 Apr 2022, 03:45 WIB

Menlu Rusia Ingatkan Provokasi Perang Dunia III

Lavrov menyebut, senjata pasokan Barat akan menjadi target yang sah bagi Rusia.

MOSKOW – Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan, potensi pecahnya Perang Dunia III tidak bisa diremehkan. Mengingat konflik di Ukraina masih berlangsung, peluang terjadinya perang tersebut nyata.

"Rusia merasa, Barat ingin Ukraina terus berperang dan sepertinya menurut mereka, ini akan menguras tenaga prajurit Rusia, dan membuat industri senjata Rusia dirundung kerumitan. Ini ilusi," kata Lavrov saat diwawancara kantor berita Interfax, Senin (25/4). Persenjataan yang dipasok Barat, kata Lavrov, "akan menjadi target yang sah."

Pada Ahad, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dan Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin berkunjung ke Kiev, ibu kota Ukraina. Keduanya menjanjikan tambahan bantuan senjata ketika bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.

Lavrov menuding para pemimpin Ukraina memprovokasi Rusia dengan cara meminta Organisasi Pakta Pertahanan Atlatik Utara (NATO) untuk terlibat dalam konflik. Pasokan NATO, kata Lavrov, "seperti menuang minyak ke dalam api."

"Mereka semua mengulang-ulang matra yang bisa menjerumuskan kita ke dalam Perang Dunia (PD) III," kata Lavrov. Ia mengaku tak ingin risiko konfrontasi nuklir.

Namun, Lavrov melihat risiko itu meningkat. "Bahaya ini sungguh-sungguh," katanya. "Ini nyata. Seharusnya ini tidak dianggap remeh."

Kendati demikian, dia mengisyaratkan bahwa Rusia masih bersedia menyelesaikan konflik dengan Ukraina lewat negosiasi. “Niat baik memiliki batas, tapi jika tidak timbal balik, ia tidak membantu proses negosiasi. Namun kami terus terlibat dalam negosiasi dengan tim yang didelegasikan (Presiden Ukraina Volodymyr) Zelenskyy, dan kontak ini akan terus berlanjut,” ucap Lavrov.

Terkait keberlanjutan proses tersebut, Lavrov menuding Zelenskyy hanya “berpura-pura” bernegosiasi. “Dia aktor yang bagus. Jika Anda memperhatikan dengan seksama dan membaca dengan seksama apa yang dia katakan, Anda akan menemukan seribu kontradiksi,” ujarnya.

Sebelum terpilih sebagai presiden, Zelenskyy dikenal sebagai aktor dan komedian.

photo
Komandan V Corps Angkatan Darat AS Letjen John Kolasheski berbicara kepada reporter di perbatasan Polandia-Ukraina, Ahad (24/4/2022). Ia mengungkapkan sejumlah bantuan militer baru dari AS untuk Ukraina. - (AP/Alex Brandon/Pool AP)

Namun, Lavrov menekankan, konflik di Ukraina akan berakhir dengan penandatanganan kesepakatan. “Tetapi parameter kesepakatan ini akan ditentukan oleh keadaan pertempuran yang akan terjadi pada saat kesepakatan tersebut menjadi kenyataan,” kata Lavrov.

Sementara Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba mencicit di Twitter, menyatakan bahwa pernyataan Lavrov menunjukkan pentingnya Ukraina mendapat bantuan Barat.

"Rusia kehilangan harapan terakhirnya untuk menakut-nakuti dunia agar tidak membantu Ukraina. maka ia bicara soal bahaya 'nyata' akan PD III. Artinya hanya satu, Moskow mengendus kekalahan di Ukraina."

Prediksi UNHCR

Badan Pengungsi PBB (UNHCR) memperkirakan akan ada sekitar 8,3 juta orang meninggalkan Ukraina pada tahun ini. Juru bicara UNHCR mengatakan, angka itu merupakan revisi dari proyeksi sebelumnya.

Dalam konferensi pers di PBB, Selasa (26/4) juru bicara UNHCR Shabia Mantoo mengatakan, dalam 12 bulan terakhir lebih dari 12,7 juta orang Ukraina meninggalkan rumah mereka. Termasuk 7,7 juta orang yang terpaksa mengungsi di dalam negeri dan 5 juta lain yang melarikan diri ke luar perbatasan.

"Skala krisisnya, kecepatan orang melarikan, tidak pernah kami lihat sebelumnya," kata Mantoo.

Ia mengatakan saat ini krisis pengungsi Suriah masih terbesar di dunia. Sekitar 6,8 juta orang terpaksa mengungsi.

Sementara CBS News melaporkan, Pemerintah AS mulai menerima pengajuan dari individu atau organisasi yang ingin membantu warga Ukraina yang mengungsi karena perang. Washington meluncurkan situs daring untuk sponsor-sponsor pengungsi.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres tiba di Moskow, Rusia, Selasa (26/4). Ia dijadwalkan ke Kiev, Ukraina, pada Kamis (28/4). Saat bertemu Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada Selasa, Guterres menyerukan gencatan senjata di Ukraina.

Guterres dijadwalkan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin pada hari yang sama. "Kami amat berkeinginan untuk menemukan jalan keluar dalam menciptakan kondisi bagi dialog yang efektif, menciptakan kondisi bagi gencatan senjata sesegera mungkin, menciptakan kondisi untuk penyelesaian damai," kata Guterres pada awal pertemuan. 

Sumber : Reuters/AP


Perang Rusia-Ukraina Persatukan Timur Tengah

Turki menunjukkan isyarat ingin memperbaiki hubungan dengan Saudi dan negara Teluk lainnya.

SELENGKAPNYA

Rusia: Serangan Kiev Kian Gencar

Kapal berpandu rudal milik Rusia, Moskva, dilaporkan tenggelam, Kamis (14/4).

SELENGKAPNYA

Sesama Muslim Berhadapan di Perang Rusia-Ukrania

Di pihak Ukraina minimal ada tiga brigade militer yang berafiliasi dengan umat Islam.

SELENGKAPNYA
×