Jamaah berbuka puasa bersama di halaman Masjid Al-Hakim, Padang, Sumatera Barat, Kamis (15/4/2021). Masjid Al-Hakim merupakan ikon wisata halal di kota itu. | ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

Teraju

03 May 2022, 08:00 WIB

Menggapai Wisata Halal 

Pariwisata halal diperkirakan akan mengalami pertumbuhan signifikan pada tahun-tahun mendatang.

OLEH RAKHMAT HADI SUCIPTO

Indonesia menjadi negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Namun, potensi yang sangat dahsyat ini tampaknya belum memberi efek positif bagi kemajuan bangsa.

Dalam urusan ekonomi Islam, Indonesia belum mampu menjadi pemimpin pasar dunia. Indonesia hanya mampu berada pada urutan keempat di bawah dominasi Malaysia, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA). Dalam daftar Global Islamic Economy Indicator (GIEI) 2022, Indonesia mengumpulkan skor 68,5 poin. Malaysia unggul terlampau jauh dengan raihan skor 207,2 poin, menyusul berikutnya Arab Saudi 97,8 poin, dan UEA 90,2 poin.

Ada yang menyedihkan bila mengingat peringkat tersebut. Laporan GIEI selalu memasukkan unsur Islamic finance, halal food, Muslim-friendly travel, modest fashion, pharma and cosmetics, serta media and recreation. Pada unsur Muslim-friendly travel, laporan GIEI 2022 menyebutkan, Indonesia tak masuk dalam kelompok 10 besar. 

Pada daftar 10 besar Muslim-friendly travel, Singapura justru masuk urutan kedua di bawah peringkat pertama Malaysia. Urutan ketiga hingga ke-10 meliputi Turki, Bahrain, UEA, Tunisia, Saudi Arabia, Kuwait, Kazakhstan, dan Maroko. Ini jelas menyedihkan karena potensi Indonesia sangat besar. Setidaknya, Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar dunia.

photo
State of the Global Islamic Economy 2022 - (Salaam Gateway)

Pada laporan sebelumnya, edisi 2021, Indonesia masih masuk daftar 10 besar, tepatnya berada pada posisi keenam di bawah Malaysia, UEA, Turki, Thailand, dan Tunisia. Posisi di bawah Indonesia ada Azerbaijan, Yordania, Singapura, dan Albania. Kini posisinya justru sangat terbalik, Singapura menyodok ke urutan kedua, sementara Indonesia terlempar dari daftar 10 besar. 

Memang kinerja pariwisata, termasuk wisata halal, sedang mengalami kondisi kurang kondusif karena terdampak pandemi Covid-19. Namun, kondisi tersebut terjadi di seluruh negara.

Kinerja menurun ini muncul sebagai imbas berantai dari Covid-19. Pandemi telah membuat banyak negara menerapkan protokol kesehatan ketat. Termasuk dengan menerapkan lockdown dan larangan penerbangan ke luar negeri maupun ke dalam negeri. Mobilitas orang menjadi sangat terbatas, termasuk mobilitas orang lintas negara.

Menurut CEO DinarStandard Rafi-uddin Shikoh, pembatalan penerbangan dan penutupan bandara telah mengakibatkan lebih dari 10 juta pekerjaan sektor penerbangan sipil kolaps. Pandemi juga berdampak pada acara nasional berskala besar, termasuk Expo 2020 Dubai dan Olimpiade yang diadakan tanpa penonton. Diperkirakan protokol penanganan Covid-19 menelan biaya US$9 miliar atau setara dengan Rp 129,168 triliun per tahun. 

photo
Kembang api menyala di sekitar kawasan ikon wisata halal, Masjid Al-Hakim, Pantai Padang, Sumatra Barat, Sabtu (1/1/2022). - (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)

Sebagian besar pemerintah di belahan dunia ini, termasuk negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), sudah berusaha keras untuk memberikan berbagai bentuk paket stimulus demi memulihkan sektor pariwisata yang mempunyai efek domino terhadap sektor lainnya.

Bisnis perjalanan beberapa negara mendiversifikasi penawaran mereka untuk menciptakan aliran pendapatan baru. Ada yang memanfaatkan teknologi perjalanan, seperti biometrik dan teknologi perjalanan nirsentuh lainnya, untuk mengatasi masalah terkait Covid-19 di samping meningkatnya permintaan konsumen akan digitalisasi.

Banyak negara yang konsern dengan industri pariwisata menggelontorkan investasi untuk mendukung bisnis yang paling terpukul di sektor penerbangan dan perhotelan.

Pengeluaran cukup besar

Pengeluaran Muslim saat melakukan perjalanan terbilang menggembirakan. Tercatat pada 2021 sebanyak 1,9 Muslim dunia sudah membelanjakan uang hingga 102 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 1.463,9 triliun ketika melakukan perjalanan ke beberapa wilayah di belahan dunia ini.

Karena angka belanja cukup besar itulah yang membuat terjangan pandemi Covid-19 begitu terasa pada sektor wisata. Sektor ini mengalami tahun terburuknya pada 2020 lalu, dengan jumlah perjalanan internasional turun hampir mencapai 75% dan total wilayah tujuan hanya menerima semiliar lebih sedikit wisatawan. Beruntung terjadi rebound pada 2021. 

Kebijakan negara yang meminta warga negaranya menerima vaksin tampaknya turut mendorong perbaikan sektor pariwisata global. Dorongan vaksinasi di negara maju juga terbukti benar-benar membantu sektor ini pulih, terutama karena banyak permintaan liburan yang selama ini gagal dan terpendam karena Covid-19.

Setelah terjun bebas dan mengalami kontraksi sebesar 70 persen pada laporan 2019-2020, sektor pariwisata halal bangkit hingga tumbuh menyentuh angka 75,1 persen pada 2020-2021. Kinerjanya masih ciamik pada laporan 2021-2022 yang menunjukkan laju pertumbuhan sebesar 50,7 persen. 

Tim ahli State of the Global Islamic Economy Report memperkirakan angkanya akan menurun pada level 6,7 persen pada 2022-2023 dan naik tipis menjadi 7,0 persen pada 2023-2024. Pada 2024-2025, diperkirakan angka pertumbuhannya akan naik menjadi 7,7 persen.

Dibandingkan dengan pengeluaran pada semua produk halal dan sektor liburan lainnya, pertumbuhan sektor pariwisata halal menunjukkan tren paling sempurna. Sebagai gambaran, pada laporan 2020-2021, saat semua sektor bangkit dengan angka pertumbuhan 8,9 persen, sektor pariwisata halal justru melejit membawa pertumbuhan sebesar 75,1 persen.

Lalu pada laporan 2021-2022, sektor wisata halal ini meroket dengan angka pertumbuhan 50,7 persen, sementara sektor lainnya hanya mentok pada angka 9,1 persen. 

Fakta tersebut menunjukkan, sektor pariwisata halal masih menjanjikan bagi seluruh negara yang meminatinya. Negara yang mampu menerapkan kebijakan yang tepat dan bisa mendorong seluruh sektor agar mendukung pariwisata, terbukti mampu memperbaiki sektor ini. 

photo
Pengunjung melihat barang yang dijual pada stan saat acara pameran pariwisata halal 2019 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Ahad (24/112019). - (Republika/Putra M. Akbar)

Namun, di tengah semua optimisme tersebut, banyak negara telah masuk dalam daftar merah karena sempat melarang masuknya turis asing. Pembatasan mobilitas terkait pandemi, termasuk melalui proses karantina hingga paspor vaksin bagi para turis, juga telah menghambat perjalanan ke luar negeri. 

Negara-negara OKI telah terkena dampak negatif, terutama hotspot pariwisata Mesir, Turki, Indonesia, dan Malaysia. Pariwisata domestik, di sisi lain, mengimbangi beberapa kerugian, dengan pemerintah meluncurkan kampanye pariwisata, sementara paket stimulus telah membantu bisnis bertahan. Namun sementara penerimaan pariwisata anjlok, investasi publik dan swasta terus berlanjut, dan telah terjadi peningkatan aktivitas pada 2021. 

Meskipun miliaran dolar hilang dalam pendapatan yang belum direalisasi dari haji, menurut Shikoh, dengan jumlah haji dan umrah yang sangat berkurang, Dana Investasi Publik Arab Saudi (PIF) berinvestasi di resor mewah, maskapai penerbangan, dan jalur pelayaran dalam upayanya untuk memperluas pariwisata rekreasi.

Dana Pengembangan Pariwisata Kerajaan juga mendanai kompleks senilai 347 juta dolar AS di dekat Masjid Nabi Muhammad (SAW) di Madinah dan meluncurkan Kidana, sebuah perusahaan senilai 270 juta dolar AS untuk mengembangkan tempat-tempat suci. 

Karena dampaknya terhadap haji, skema tabungan haji menjadi lebih penting di Nigeria dan Malaysia. Menunjukkan potensi peningkatan dalam perjalanan, beberapa maskapai OKI memperluas operasinya, sementara infrastruktur pariwisata dan transportasi menarik investasi. 

Qatar terus membangun akomodasi menjelang Piala Dunia FIFA 2022. Digitalisasi pariwisata ramah Muslim sangat aktif, dengan perjalanan tanpa kontak menjadi semakin umum dan bisnis perjalanan mendiversifikasi penawaran mereka untuk menciptakan aliran pendapatan baru dari e-commerce hingga makanan. 

Ada juga aktivitas investasi yang signifikan dengan Traveloka yang berbasis di Indonesia serta Tiket.com, keduanya berencana untuk go public. HalalBooking.com memperoleh 5 juta dolar AS dalam pendanaan pra-Seri B, sementara startup perjalanan yang berbasis di Pakistan, FindMyAdventure, mengumpulkan 600.000 dolar AS. 

Sementara pariwisata akan pulih di banyak negara OKI, yang lain diperkirakan tidak akan seberuntung itu karena mereka telah terkena dampak buruk oleh ketidakstabilan politik di atas pandemi, seperti di Lebanon dan Tunisia. 

Ketika dunia terbuka lagi untuk pariwisata, resor, hotel, dan restoran ramah Muslim, kesempatan besar pun terbuka bagi sektor ini untuk tumbuh besar pada tahun-tahun mendatang. Pengeluaran Muslim untuk perjalanan bernilai 102 miliar dolar AS pada 2021. Angkanya diperkirakan akan tumbuh menjadi US$189 miliar pada 2025 mendatang.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengakui Muslim memiliki peluang besar untuk mengembangkan pariwisata halal. Pariwisata halal memiliki pasar yang bagus serta prospektif. “Salah satu agenda peningkatan ekonomi umat adalah wisata halal karena melibatkan rumah tangga umat," ujar Sandi beberapa waktu lalu.

Pemerintah, jelas Sandiaga, berkomitmen mendukung pariwisata halal dengan mulai membangun berbagai infrastruktur. "Karena ini adalah ekonomi kerakyatan. Orang menjual, bukan hanya menjual dagangannya, tetapi juga menjual tempat tinggalnya dengan disewakan, dan menjual produk-produk lainnya," katanya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa KH Asrorun Ni'am Sholeh menyatakan umat Islam harus menguatkan kemampuan teknologi dan informasi. Menurut dia, hingga kini justru non-Muslim yang menguasai teknologi informasi. Padahal, perannya dalam memajukan kehidupan yang lebih baik sangat besar.


Ja'far Si Bapak Kaum Miskin

Orang yang paling peduli dan paling siap membantu mereka yang miskin adalah Ja'far bin Abi Thalib

SELENGKAPNYA

Entitas Lorong Menuju Tuhan

Lorong-lorong menuju Tuhan mempunyai beberapa nama jalan atau entitas.

SELENGKAPNYA

Agar Khusyuk dalam Shalat

Salah satu kewajiban yang harus ditunaikan saat shalat adalah tumakninah dan khusyuk.

SELENGKAPNYA
×