Priyantono Oemar | Daan Yahya | Republika

Kisah Dalam Negeri

24 Apr 2022, 11:13 WIB

Di Masa Penjajahan, Pribumi Hanya Memiliki Dua Hari Setahun

Pada 1930-an, selama Ramadhan, sekolah pribumi libur sebulan penuh, tapi untuk yang lainnya hanya libur dua hari.

OLEH PRIYANTONO OEMAR

Pada 1930-an, selama Ramadhan, sekolah pribumi libur sebulan penuh, tapi untuk yang lainnya hanya libur dua hari. Kantor-kantor dan toko-toko selama dua hari itu tutup. Rumah tangga keluarga Eropa juga meliburkan pembantunya. Itu karena pemerintah kolonial menetapkan dua hari Lebaran sebagai hari libur.

Selama dua hari libur Lebaran itu, mereka mengenakan pakaian baru. Melihat pribumi mengenakan pakaian baru selama Lebaran, membuat penulis Belanda, Batavus, teringat suasana hari Paskah dan Pentakosta di Belanda. Pada hari ini orang Belanda juga mengenakan pakaian baru menyambut Paskah dan Pentakosta.

Pada 1930-an pakaian baru yang dikenakan pribumi selama Lebaran sudah mengikuti gaya Eropa. Yang laki-laki lengkap dengan topi Eropa yang diperkirakan oleh Batavus, penulis Belanda, hanya berumur pendek.

 
Pada 1930-an pakaian baru yang dikenakan pribumi selama Lebaran sudah mengikuti gaya Eropa.
 
 

Setelah Lebaran, topi Eropa itu pasti akan masuk rumah gadai karena yang mengenakannya sudah kehabisan uang untuk memenuhi keperluan selama Lebaran. Tapi, ada pula yang mengenakan ikat kepala dan yang perempuan mengenakan kebaya dan kerudung.

Sebagian besar dipakai untuk membeli mercon yang akan dibakar pada malam Lebaran dan pagi hari Lebaran serta dibakar pada saat Lebaran Ketupat. Di Surabaya, pembakaran mercon dibatasi waktunya.

Pada saat malam Lebaran, bakar mercon boleh dilakukan mulai puku 17.00 hingga 00.00. Pagi hari Lebaran dibolehkan pada pukul 05.00 hingga 10.00. Sedangkan, di dua hari Lebaran Ketupat, bakar mercon dibolehkan pada pukul 05.00 sampai 09.00 dan pada pukul 04.30 hingga 11.00.

Di lingkungan keluarga, yang muda akan meminta maaf kepada orang tua dengan cara sungkem. Dengan pakaian baru, mereka keluar rumah setelah sungkeman bersama keluarga. Bersilaturahim dengan tetangga/kerabat untuk saling meminta maaf (halal bihalal). Ada pula yang mengadakan halal bihalal dalam sebuah pertemuan.

Selama dua hari Lebaran itu, jalan-jalan di berbagai daerah dipenuhi pribumi yang akan bersilaturahim. Satu keluarga biasanya terdiri atas banyak orang. Mereka berombongan berjalan santai di pinggir jalan satu-satu atau berjajar berdua. Ada juga yang naik taksi--hal yang langka dilakukan keluarga pribumi kebanyakan saat bepergian.

 
Selama dua hari Lebaran itu, jalan-jalan di berbagai daerah dipenuhi pribumi yang akan bersilaturahim.
 
 

Dua hari libur Lebaran inilah, menurut Algemeen Handelsblad edisi 25 November 1939, hari milik kalangan pribumi di masa penjajahan Belanda. Keluarga Eropa/Belanda di Hindia Belanda pun harus “kehilangan” para pembantu atau sopir sehingga mereka harus mengurus sendiri kebutuhan keluarga mereka.

Maka, mereka masak seadanya untuk makan selama ditinggal pembantu. Ada juga yang makan di rumah kerabat atau pergi menginap di hotel atau cukup makan di restoran hotel atau restoran milik orang Cina. Ketika bepergian, mereka juga mengendarai mobil karena sopir juga libur Lebaran.

Penduduk di Batavia, baik orang Indonesia, Cina, maupun Belanda, memanfaatkan libur Lebaran untuk mengunjungi meriam keramat. Meriam itu ada di daerah Pasar Ikan (Kota Intan). Orang menyebutnya Kiai Bustomi, Kiai Satomi, Si Jagur.

Ini adalah meriam yang dibuat di St Jago de la Barra, Makau, oleh Portugis. Sejak 1557, Makau merupakan wilayah koloni Postugis. Tradisi di Makau, meriam dipersembahkan kepada orang suci. Meriam yang kemudian dirampas JP Coen di Malaka itu oleh Portugis dipersembahkan kepada St Jago. Inilah asal mula nama yang terkenal di Batavia: Si Jagur.

Namun, legenda Jawa menyebut Kiai Bustomi dan Nyai Bustomi semula adalah suami-istri yang berubah menjadi meriam. Nyai Bustomi (atau Nyai Satomi) disimpan di Keraton Solo. Yang di Batavia disebut Kiai Bustomi (atau Kiai Satomi). Peneliti-peneliti Belanda yang menulis Si Jagur pada abad ke-20 tak mengetahui persis asal mula munculnya legenda Kiai Bustomi/Satomi ini.

 
Legenda Jawa menyebut Kiai Bustomi dan Nyai Bustomi semula adalah suami-istri yang berubah menjadi meriam.
 
 

Mereka yang mendatangi Kiai Bustomi menaruh sesajen (bunga dan dupa) di dekat kepalan tangan yang  dikenal sebagai simbol mano in fica yang ada di pantat meriam. Mano in fica, menurut Prof GA Wilken di buku De Verspreide Geschriften van Prof Dr GA Wilken (1912), merupakan ibu jari yang menjulur di sela jari telunjuk dan jari tengah dengan tangan mengepal.

Di Eropa masa lalu, simbol ini dipakai untuk melumpuhkan tatapan mata jahat. Yaitu, orang-orang yang menggunakan tatapan mata untuk berbuat jahat. Mano in fica biasanya dibuat dalam bentuk replika, tapi di awal abad ke-19, lebih praktis menggunakan kepalan tangan yang bisa langsung diacungkan kepada si mata jahat.

Mano in fica juga merupakan simbol lingga yoni yang oleh orang-orang Jawa dianggap memiliki tuah mengabulkan permitaan untuk mendapatkan keturunan. Mereka yang mengunjungi Si Jagur memiliki keinginan mendapatkan anak.

Pada 1953 Si Jagur dipindahkan dari lokasi semula yang sudah tiga abad di alam terbuka, di Pasar Ikan. Si Jagur dipindahkan ke museum di Jalan Medan Merdeka Barat. Pengangkatannya disertai badai petir di Jakarta. Maka, berakhirlah pemberian sesajen oleh orang-orang yang menginginkan anak. Tak ada lagi tradisi beramai-ramai mengunjungi Si Jagur pada hari Lebaran.


Ummu Haram: Salehah di Darat, Syahidah di Laut

Ummu Haram meminta didoakan oleh Rasulullah agar bergabung dengan pasukan Muslim.

SELENGKAPNYA

Iktikaf Ramadhan

Selain puasa, bagi kaum Muslimin, Ramadhan menjadi momentum untuk iktikaf.

SELENGKAPNYA
×