Perempuan dan Sebilah Pisau | Renda Purnama/Republika

Sastra

05 May 2022, 09:00 WIB

Perempuan dan Sebilah Pisau

“Tak seperti pada umumnya perempuan yang menjadikan kata-kata sebagai senjata, perempuan bermata sayu itu memilih jalan diam dan menumpuk luka.”

OLEH TATY Y ADIWINATA*

Bila pagi tiba, cahaya matahari menerobos ruang-ruang rumah karena bukaan jendela yang lebar. Di ruang tidur dengan penataan elemen yang apik, Mina masih dibalut selimut dengan rasa kantuk yang berat. Tubuhnya merasakan penat.

Kalau saja sudut matanya tak menangkap sosok Anwar, suaminya, Mina akan membiarkan tubuhnya tetap di bawah selimut. Dia lekas bangun, setumpuk pekerjaan telah menunggu.

Semenjak menikah, hari terasa sama, berulang. Menyiapkan secangkir kopi panas, membuat sarapan, menyeterika baju, menyemir sepatu, dan hal lainnya. Pekerjaan yang membosankan buat Mina. Pada awal menikah semuanya dilakukan dengan penuh harapan.

Seperti pagi ini, sebenarnya dia tahu bahwa ada yang salah dengan tubuhnya. Tapi, Mina tidak begitu memedulikannya. Dia ingat pesan Anwar, “Perempuan itu harus bisa menjadi istri, ibu, pembantu, bila perlu seperti pelacur!” Hatinya sempat berdesir hebat saat itu. Meski ada penolakan, Mina tak bisa membantah.

 
Seperti pagi ini, sebenarnya dia tahu bahwa ada yang salah dengan tubuhnya. Tapi, Mina tidak begitu memedulikannya. 
 
 

Sungguh! Dulu, dia berharap bisa mencintai Anwar. Bapak berkali-kali meyakinkan bahwa cinta akan datang dengan sendirinya, seperti ia dan ibu yang menikah tanpa cinta. Bapak yakin Anwar adalah yang terbaik. Kenyataannya, kini, Mina merasa pernikahan telah menawannya. Mencuci, memasak, membersihkan rumah, melayani suami, hanya itu! Kehidupannya hanya berputar di sana. 

Bagi Anwar, wilayah suami mencari nafkah sedangkan sisanya urusan perempuan. Wilayah domestik ini yang membuat Mina harus mengorbankan karier di suatu perusahaan terkemuka. Anwar dengan tegas memintanya berhenti bekerja. Mina teringat pesan bapak bahwa dia harus manut pada suami.

“Tak perlulah perempuan bekerja, untuk apa? Segala kebutuhanmu akan kucukupi. Kalau kau ingin surga, layani saja aku dengan baik,” kata Anwar saat memintanya berhenti bekerja. Meski enggan, Mina tak kuasa menolak. 

Pernah suatu kali Mina meminta pada ibunya.

“Ibu, aku ingin cerai dari Mas Anwar!” katanya tanpa air mata sedikit pun.

“Tidak, Mina, kamu harus bertahan. Kurang apa Anwar? Dia tampan juga kaya. Ibu tidak ingin menjadi bahan gunjingan. Di sini menjadi janda masih aib!” desis ibunya sambil menatap tajam.

Mina menunduk, tak berani membantah. Sementara, di sudut ruang bapak seolah tengah mendengar perbincangan mereka, suara cecak sesekali menimpali.

 
Mina menunduk, tak berani membantah. Sementara, di sudut ruang bapak seolah tengah mendengar perbincangan mereka, suara cecak sesekali menimpali.
 
 

Menurut ibunya perempuan terlahir untuk melayani suami. Jika benar seperti itu adanya, laki-laki macam apa yang patut dilayani? Bukan ia yang selalu bersembunyi di balik doktrin agama. Namum, ia yang penuh cinta kasih dan selalu mengayomi, pikir Mina.

Saat itu, sebenarnya Mina ingin menceritakan kejadian sebelumnya. Kejadian yang kian membuatnya membenci Anwar, laki-laki yang telah dipilihkan bapak untuknya.

Siang itu, pukul dua, Anwar meneleponnya, ingin dibuatkan sup jagung. Setelah seharian bekerja, Mina tertidur. Dia lupa membuatkan sup. Semua hidangan tentu saja tanpa sup jagung telah tersaji di meja makan. Anwar menatapnya tajam. Mina tertunduk, hatinya berdebar seketika. 

Anwar pasti marah lagi, pikir Mina.

Tak diduga, taplak meja ditarik Anwar, hingga semua barang yang ada di atas meja terseret jatuh. Pecahan piring keramik, gelas, dan makanan berserakan, bercampur aduk, juga perasaannya. Setelahnya, Anwar pergi begitu saja.

Jika Mina melakukan sebuah kesalahan meski sedikit saja, Anwar bisa marah membabi buta. Kegilaan Anwar tak berhenti sampai di sana. Ia telah membuat aturan yang harus dipatuhi Mina.

Setiap Anwar pulang, rumah harus dalam keadaan bersih, tidak boleh keluar rumah tanpa izinnya sekalipun ke warung sebelah, dan setiap sen uang yang keluar harus dicatat dengan baik dalam sebuah buku yang khusus disediakan Anwar.

 
Tak diduga, taplak meja ditarik Anwar, hingga semua barang yang ada di atas meja terseret jatuh. Pecahan piring keramik, gelas, dan makanan berserakan, bercampur aduk, juga perasaannya.
 
 

Suatu hari, dia melanggar aturan yang dibuat Anwar karena sakit. Dia tidur seharian. Rumah berantakan, cucian menumpuk di kamar mandi. Apalagi untuk memasak, hari itu dia merasa tenaganya habis terkuras. Tak ada masakan terhidang di meja makan.

Ketika Anwar pulang, Mina berusaha menyambutnya meski tertatih, belum Mina bersuara sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di pipi. Lagi-lagi, Mina hanya mampu terdiam, mematung, meski batinnya riuh.

Setelah itu, tanpa rasa bersalah Anwar akan memeluk dan mencium lebam di pipinya seolah ingin menghapus seluruh warna lebam tersebut. Luka, kecewa warnanya kian pekat. Hati Mina tercabik.

Apa pasal Anwar bersikap seperti itu? Mina sendiri kurang paham. Hanya, dia melihat, perlakuan ayah Anwar kepada ibunya, tak berbeda jauh seperti Anwar memperlakukan dirinya.

“Minaaaaaaaaaa!” Panggilan Anwar membuyarkan seluruh lamunannya. Mina terkesiap, bersiap melayani Anwar seperti biasanya. Begitu setiap hari berulang.

***

Mina becermin, dilihat bayangannya. Dia melihat perempuan layu dan putus asa. Matanya menyimpan kilatan marah. Tiba-tiba, dia terisak, tetapi tak ada air mata. Harapan pada Anwar memudar secara perlahan.

Lama Mina becermin, mengamati dirinya sendiri yang telah jauh berubah. Matanya sayu, badannya kurus sekali dan terlihat lebih tua. Tiba-tiba Mina terbahak-bahak, sampai tawanya melengking menyerupai tangisan membangunkan Anwar yang tengah tertidur pulas.

 
Lama Mina becermin, mengamati dirinya sendiri yang telah jauh berubah. Matanya sayu, badannya kurus sekali dan terlihat lebih tua.
 
 

“Ada apa denganmu?” teriak Anwar, saat melihat istrinya tertawa di tengah malam buta.

“Ha-ha-ha, Anwar, aku sudah tidak kuat lagi untuk bertahan,” teriak Mina. Kali ini, dia benar-benar menangis! Bulir air berjatuhan dari sudut mata. Air mata yang selama ini entah ke mana. Tumpah ruah.

Anwar terdiam, tepatnya terpukau.

Dilihat istrinya menyambar sebilah pisau, sebentar pisau itu diarahkan tepat ke jantungnya sendiri lalu sebentar kemudian pisau itu diarahkan kepadanya.

Dilihatnya perempuan itu tertawa-tawa sekaligus menangis serupa orang gila. 

“Bagaimana kalau kita akhiri perkawinan ini dengan sebuah kematian? Entah kamu atau aku?” tanyanya.

Anwar masih terdiam, seolah tak percaya.

“Kamu tinggal pilih Anwar? Apakah kematianmu atau kematianku? Atau kematian kita berdua?” Kilat marah di mata Mina, kian nyata.

Kembali dilihatnya Anwar hanya terdiam! Membuat Mina tak sabar. Kilat pisau tertimpa sinar lampu 15 watt menyita seluruh perhatian. Dilihatnya laki-laki yang dulu meski tak dicintainya itu bahkan kata bapak suatu saat akan dicintainya. Tapi, kenapa hanya ada rasa benci? Semestinya pucuk cinta merekah di umur perkawinan tahun kedua.

 
Kembali dilihatnya Anwar hanya terdiam! Membuat Mina tak sabar. Kilat pisau tertimpa sinar lampu 15 watt menyita seluruh perhatian.
 
 

Mina tidak sabar. Dia merasa saat ini tengah mengendalikan situasi, bukan Anwar, bukan ibu bahkan bukan pula bapak. Bukan mereka yang mendominasi ruang dan waktu. Dia yang akan membawa pada akhir cerita. Rasa sakit yang menelikungnya akan sempurna dia tunaikan. Dia lelah. Mina dibesarkan dalam tekanan, oleh bapak yang berwatak keras dan seorang ibu yang manut apa pun pada suami.

Pisau itu diangkatnya tinggi-tinggi lalu dihunjamkannya dengan sangat keras, tepat di jantungnya sendiri. Darah bersimbah bercampur air mata. Mina tersungkur.

Sempat dilihatnya Anwar, menyeringai senang, sementara Mina menyambut kebebasannya sendiri! Melayang seperti kapas tanpa arah, lalu akhirnya menuju sebuah tempat yang selama ini dirindukannya. Tempat yang lengang seperti padang savana.

***

“Mina! Mina!” Sayup-sayup terdengar suara yang sangat dikenalnya, suara yang sering membuatnya terbangun ketakutan dan siap melakukan segala titah. 

Mina terbangun bersimbah peluh, diraba dadanya seketika, tidak ada luka di sana. Ternyata dia hanya bermimpi. Mimpi sialan.

Lalu, segera dia melompat memburu arah suara, Anwar telah terbangun lebih dulu. “Buatkan aku, secangkir kopi!” teriaknya lagi.

Mina berlalu ke arah dapur, menyalakan kompor, lalu menjerang air. Matanya menangkap sebilah pisau, berkilat-kilat dijilat cahaya matahari pagi yang menerobos lewat ventilasi.

Mina teringat mimpi tadi malam. Diraba dadanya sekali lagi yang semalam terasa benar-benar menganga dan terluka.

Dia menyeringai menatap pisau itu, lalu diambil dan diselipkan di belakang baju. Siulan teko menyadarkannya. Secangkir kopi siap tersaji. Mina bergegas menemui Anwar, sesungging senyum merekah di bibirnya. n

Bandung, 20 Februari 2022

*Tati Y Adiwinata, lahir di Cicalengka tanggal 6 Juni. Terlibat di puluhan buku bersama penulis lain dalam antologi puisi/cerpen/haiku. Novel perdananya Rembulan dan Matahari menjadi juara kedua dan diterbitkan oleh Penerbit Rumah Imaji (2019), antologi puisi solo Antologi Merahnya Rindu diterbitkan oleh J-Maestro (2019). Kumpulan cerpen solo Laki-laki Bayangan diterbitkan oleh Penerbit Rumah Imaji (2020).

Cerpen ini dimuat di Harian Republika edisi 13 Maret 2022


Ummu Sulaim: Jelita Parasnya, Cantik Hatinya

Rasulullah menyebut ia mendengar langkah kaki Ummu Sulaim di surga karena ketakwaannya.

SELENGKAPNYA

Ibn Abbas, Bayang-Bayang Rasulullah

Pemikiran Ibn Abbas jernih sehingga mampu merekam seluruh tingkah laku dan perkataan Rasulullah hingga akhir hayat.

SELENGKAPNYA
×