Abdullah Ibnu Abbas | arabiccalligraphygenerator

Sirah

21 Apr 2022, 11:45 WIB

Ibn Abbas, Bayang-Bayang Rasulullah

Pemikiran Ibn Abbas jernih sehingga mampu merekam seluruh tingkah laku dan perkataan Rasulullah hingga akhir hayat.

Seorang wanita bernama Ummul Fadl Lubaba baru saja melahirkan anak bernama Abdullah pada 619 Masehi. Tak lama setelah itu, istri dari Abbas bin Abdul Muthallib ini membawa anaknya mengunjungi Rasulullah.

Sang Nabi kemudian mentahnik bayi tersebut. Kelak di kemudian hari, anak itu tumbuh dewasa dengan segudang pengetahuan. Kunjungan itu menjadi pertanda kedekatan Abdullah yang akrab dengan sapaan Ibnu Abbas dengan Rasulullah.

Sejak kecil Abdullah telah bertekad untuk melayani Rasulullah. Dia akan lari mengambil air saat putra Abdullah akan berwudhu. Kapan pun Sang Nabi shalat, Ibnu Abbas akan berdiri di belakang beliau.

Ketika Nabi melanjutkan perjalanan, dia akan mengikuti di belakang. Seperti bayang-bayang, Abdullah terus berjalan mengikuti Muhammad SAW kemanapun utusan Allah itu pergi.

 
Ketika Nabi melanjutkan perjalanan, dia akan mengikuti di belakang. Seperti bayang-bayang, Abdullah terus berjalan mengikuti Muhammad SAW kemanapun utusan Allah itu pergi.
 
 

Perekam hadis

Dalam berbagai situasi, Ibnu Abbas terlihat penuh perhatian. Dia selalu setia dan waspada akan apa yang akan terjadi pada Rasulullah.Apa yang dikatakan sang Nabi selalu dicatatnya. Dia sangat antusias. Pemikirannya jernih sehingga mampu merekam seluruh tingkah laku dan perkataan Rasulullah hingga akhir hayat.

Dialah sahabat yang terpelajar, melestarikan kata-kata Rasulullah yang tak ternilai harganya. Ibnu Abbas berkomitmen untuk merekam sekitar 1.660 ucapan Nabi yang dica tat dan disahkan dalam koleksi kitab sahih Bukhari dan Muslim.

Nabi sering mengajak Ibnu Abbas dan menganggapnya sebagai anak yang dekat dengannya. Sesekali Muhammad menepuk bahu cucu Abdul Muthallib itu. Satu doa dipanjatkan Nabi khusus untuk Ibnu Abbas, "Ya Tuhan, jadikan dia mengerti agama Islam secara mendalam."

Rasul selalu mengulangi doa ini untuk sepupunya itu. Tak lama kemudian putra Abbas itu menyadari bahwa hidupnya harus dikhususkan untuk menambah pengetahuan dan hikmah yang banyak didapatnya dari Rasulullah.

Abdullah menceritakan kejadian yang dialaminya bersama Rasulullah. Suatu ketika Nabi berwudhu. Ibnu Abbas bergegas menyiapkan air untuk Rasulullah. Tampak wajah sang nabi senang dengan apa yang sedang dilakukan Ibnu Abbas.

 
Satu doa dipanjatkan Nabi khusus untuk Ibnu Abbas, "Ya Tuhan, jadikan dia mengerti agama Islam secara mendalam."
 
 

Ketika akan shalat,Rasulullah mengajak putra Abbas itu untuk berdiri di sampingnya. Namun sahabat itu justru berdiri di belakangnya. Ketika shalat selesai, Rasulullah berpaling kepada lelaki tersebut dan berkata, "Apa yang mencegah Anda berdiri di samping saya wahai Abdullah?". kemudian Ibnu Abbas berkata, "Anda terlalu masyhur dan hebat, sehingga saya tak dapat berdiri berdam pingan dengan Anda."

Sambil mengangkat tangannya ke langit, Nabi kemudian berdoa: "Ya Tuhan, berikan dia hikmah." 

Setelah Rasulullah wafat

Selama Nabi hidup, Abdullah tidak melewatkan berbagai pertemuan bersama Rasulullah. Dia mengingat apapun yang dikatakan Rasulullah. Setelah utusan Allah wafat, dia pergi ke berbagai sahabat sebanyak mungkin terutama mereka yang mengenal Nabi lebih lama. Tujuannya untuk belajar dari mereka apa yang Nabi ajarkan selama ini.

Jika mendengar suatu hadits, Ibnu Abbas akan menelusuri asal usulnya. Dia pergi dengan cepat kepada si penyiar hadits. Sabda Rasulullah itu akan dicocokkannya dengan ingatan para sahabat hingga puluhan orang. Cara ini dinilainya sangat ampuh untuk mengetahui kesahihan suatu hadits.

Abdullah bin Abbas menggambar kan apa yang pernah dia lakukan ketika mendengar seorang sahabat Nabi mengetahui hadits yang tidak di kenal kepadanya. "Saya pergi kepadanya pada siang hari. Angin meniup debu kepada saya. Aku berharap bisa meminta izin untuk masuk ke rumah seorang sahabat dan dia pasti akan memberiku izin, tapi aku lebih suka menunggu agar dia bisa benar-benar segar. Keluar dari rumahnya dan melihat saya dalam kondisi apa adanya.

 
Jika mendengar suatu hadits, Ibnu Abbas akan menelusuri asal usulnya. Dia pergi dengan cepat kepada si penyiar hadits. 
 
 

Sering kali sahabat yang ditemui Ibnu Abbas terkejut, mengapa tidak mengetuk pintu. Mengapa Ibnu Abbas tidak mengundang orang yang diinginkan sekadar untuk memverifikasi hadits. Kalau saja Ibnu Abbas mengundang, maka pasti siapa pun akan datang, karena mereka tahu yang mengundang adalah sepupu Rasulullah.

Cucu Abdul Muthallib itu kemudian mengatakan, dirinyalah yang harus datang untuk mendapatkan ilmu, karena cahaya ilahi tidak datang begitu saja, harus dengan usaha keras disertai dengan keyakinan mendalam.

Dengan cara ini, Abdullah yang dikenal sebagai putra saudagar kaya itu akan terus bertanya untuk memverifikasi berbagai hadits yang didapatnya. Dia akan memilah dan meneliti informasi yang dia kumpulkan dengan tajam dan teliti.

Mengagumi Zaid bin Tsabit

Sahabat satu ini juga mengabdikan dirinya untuk memperoleh pengetahuan di berbagai bidang. Dia memiliki kekaguman khusus untuk orang-orang seperti Zaid bin Tsabit, perekam wahyu, hakim, dan ahli hukum.

Ketika Zaid bermaksud untuk melak ukan perjalanan, Abdullah berdiri dengan rendah hati di sisinya dan akan bersikap sebagai pelayan yang rendah hati. Zaid kemudian memintanya untuk berdiri sejajar agar tidak ada pembeda antara dirinya dengan sepupu Rasulullah itu.

Ibnu Abbas berkata bahwa orang terpelajar harus dimuliakan. Kemudian Zaid meminta melihat tangan Ibnu Abbas, kemudian menciumnya. Kami diperintahkan untuk memperlakukan dengan baik keluarga Nabi, kata Zaid.

 
Sahabat satu ini juga mengabdikan dirinya untuk memperoleh pengetahuan di berbagai bidang. Dia memiliki kekaguman khusus untuk orang-orang seperti Zaid bin Tsabit
 
 

Semakin tumbuh dewasa, Ibnu Abbas semakin tampan. Tubuhnya terlihat tinggi dengan wajah yang bersih. Masruq bin al Ajda berkata kepadanya: "Setiap kali melihat Ibnu Abbas, saya mengatakan, Dia adalah orang yang paling tampan. Ketika dia berbicara, saya akan mengatakan, dia adalah orang yang paling fasih. Ketika dia bercakap-cakap, saya mengatakan, dia adalah orang yang paling berpengetahuan luas."

Saad bin abi Waqqas mengatakan, belum pernah melihat seseorang yang lebih cepat memahami berbagai hal, yang memiliki lebih banyak pengetahuan dan kebijaksanaan yang lebih besar daripada Ibnu Abbas.

Suatu ketika dia melihat Umar memanggil sepupu Rasulullah itu untuk membahas masalah pelik di hadapan para pejuang perang Badar dari Muhajirin dan Ansar. Ibnu Abbas berbicara dan Umar akan memperhatikan dengan cermat.

Tak sebatas mengumpulkan berbagai pengetahuan, Ibnu Abbas merasa berkewajiban mendidik umat agar memahami berbagai persoalan secara menyeluruh. Dia meluangkan waktu untuk membuka pengajaran. Rumahnya dimanfaatkan untuk menjadi tempat belajar. Banyak orang berdatangan untuk belajar kepadanya.

Di akhir hayat, Ibnu Abbas lebih banyak menghabiskan waktu untuk berpuasa dan beribadah. Dia menangis sambil berdoa dan membaca Alquran setiap malam. Ketika membaca ayat-ayat kematian, kebangkitan, dan kehidupan akhirat, suaranya akan berat karena air mata menetes. Dia meninggal pada usia 71 tahun di Kota Thaif. 

Disadur dari Harian Republika edisi 14 Januari 2018   


Atiqah dan Kesabaran Istri Syuhada

Atiqah sempat menikah empat kali dengan pria-pria terbaik dari generasi awal Islam.

SELENGKAPNYA

Hudzaifah, Pemegang Rahasia Rasulullah

Hudzaifah banyak meriwayatkan hadis karena kedekatan secara personal dan spiritual dengan Rasulullah SAW.

SELENGKAPNYA

An-Nawar, Madrasah Sang Pencatat Wahyu

Kecerdasan dan keimanannya yang kuat membentuk sosok pribadi berkualitas.

SELENGKAPNYA
×