Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika

Khazanah

20 Apr 2022, 19:02 WIB

Menggapai Titik Ihsan

Di puncak ihsan inilah seorang hamba benar-benar berhati-hati.

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

Firman Allah SWT: “La’allakum tattaquun" pada penutup ayat tentang ibadah puasa sejatinya untuk menunjukkan bahwa tidak cukup seorang hamba dalam berpuasa hanya sebatas menahan lapar dan haus, tetapi harus lebih dari itu, menjaga diri dari dosa. Inilah hakikat takwa.

Seorang hamba ketika berpuasa sebenarnya ia mengambil jarak sejenak dari yang halal. Sebab, makan dan minum, termasuk melakukan hubungan suami istri itu semuanya adalah halal. Hanya saja, selama berpuasa ditahan supaya kita sadar bahwa sebenarnya tidak ada alasan untuk melakukan yang haram. 

Para ahli hikmah mengatakan: “Laa yashilul a’bdu darajatal muttaqiin hatta yata’awwadu ay yatarukal halal layukuuna ab’ada minial haram” (Seorang hamba tidak akan mencapai level takwa sehingga ia membiasakan diri meninggalkan yang halal supaya semakin jauh dari yang haram). Pernyataan ini bisa dijelaskan dengan membuat perumpamaan bodi mobil yang dilapisi bumper. 

Semakin banyak lapisan bumpernya, akan semakin aman bodi mobil tersebut. Begitu juga dalam beribadah, semakin banyak amal sunahnya, akan semakin aman amal wajibnya. Dalam hal puasa juga demikian, semakin terbiasa mengambil jarak dari yang halal, akan semakin jauh dari yang haram. 

Imam al-Ghazali dalam kitabnya, Ihya ulumiddin, membagi puasa dengan tiga tingkatan: Pertama, puasa orang awam, yaitu puasa hanya sebatas menahan lapar dan haus, sementara anggota tubuhnya tetap dalam melakukan dosa. 

Kedua, puasa khusus, yaitu hamba yang tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi lebih dari itu menjaga anggota tubuhnya dari dosa. Ketiga, lebih tinggi lagi puasa khususul khusus, yaitu hamba yang menahan lapar dan haus dan menjaga anggota tubuhnya dari dosa, ditambah lagi menjaga hatinya dari penyakit hati. Maka, semua penyakit dengki, hasud, sombong, riya, dan rakus yang selama ini selalu menggerakkan untuk melakukan kezaliman benar-benar dihentikan.

Pernyataan Imam al-Ghazali di atas bisa diaplikasikan dalam tiga istilah yang lebih popular, yakni: Pertama, “Shiyamul mumtani’iin ‘anitht tha’aam” (Puasanya orang-orang yang hanya menahan diri dari makanan). Pada level ini, binatang pun bisa melakukannya. 

Kedua, “Shiyamul muttaqiin” (Puasanya orang-orang bertakwa). Di level ini, binatang tidak bisa menirunya. Sebab, hanya makhluk berakal dan beriman yang bisa melakukannya. Karena itu, Allah SWT hubungkan iman: “Yaa ayyuhalladziina aamanuu” dengan takwa: “La’allakum tataquun” pada ayat tentang kewajiban berpuasa: “Kutiba ‘alaikumush shiyaamu”.

Tingkat ketiga dan ini yang tertinggi adalah: “Shiyaamul muhsiniin” (Puasanya orang-orang yang mencapai level ihsan). Tentang ihsan, Nabi bersabda: “An ta’budallaha kaannka taraahu fain lam takun taraahu fa innahuu yaraaka” (Kamu beribadah kepada Allah SWT, seakan melihat-Nya, tetapi jika tidak bisa melihat-Nya, maka sadarilah bahwa Allah SWT melihatmu).

Di puncak ihsan inilah seorang hamba benar-benar berhati-hati. Tidak saja dari hal-hal yang membatalkan puasa, tetapi juga dari segala dosa yang tampak maupun tidak nampak. Karena itu, ia tetap menjadi salih, baik di depan banyak orang maupun pada saat sendirian.


Fenomena Stres

Siapapun tidak mudah menghindari stres. Yang dapat dilakukan ialah bagaimana mengurangi stres itu sampai dalam batas yang wajar.

SELENGKAPNYA

Habib bin Zaid, Syahid Membawa Pesan Rasulullah

Ketika sakratul maut datang, dalam kepedihan yang tak tertahankan, Habib tetap mempertahankan syahadatnya.

SELENGKAPNYA

Jualan, Tapi Nggak Ada Modal

Bisnis tanpa modal atau jualan tanpa modal itu dibolehkan dengan memenuhi ketentuan tertentu.

SELENGKAPNYA
×