Prof KH Nasaruddin Umar | Ilustrasi : Daan Yahya

Tausiyah

Membedakan Antara Feeling dan Emotion

Sering kali kita menyamakan antara feeling dan emotion.

Oleh Kontemplasi Ramadhan (15)

PROF KH NASARUDDIN UMAR, Imam Besar Masjid Istiqlal

Sering kali kita menyamakan antara perasaan (feeling) dan nafsu (emotion) dalam pergaulan sehari-hari kita. Padahal, keduanya sangat berbeda.

Perasaan lebih merupakan sumber energi dan kekuatan untuk mendukung pilihan kebenaran yang kita pilih. Sedangkan, emosi lebih merupakan kekuatan yang dapat mendukung semangat kita, tapi tidak ada jaminan dukungan itu bermanfaat atau tidak. Emosi berasal dari kata e+motion yang merupakan energy in motion, yaitu energi yang melekat di dalam amarah.

Perasaan menginformasikan kita tentang suatu objek (what you know about a thing). Sementara, emosi menggambarkan perlakuan kita terhadap suatu objek yang sudah kita ketahui (what you do with what you know). Perasaan lebih banyak berkonotasi positif, sedangkan emosi lebih banyak berkonotasi negatif.

Jika seseorang tidak mampu membedakan antara keduanya atau mencampuradukkan antara satu sama lain di dalam mengambil keputusan, tidak tertutup kemungkinan pilihan tindakan kita bakal mengecewakan. Karena itu, identifikasi antara keduanya membantu seseorang melakukan pilihan tindakan yang tepat.

Pertimbangan perasaan dapat digunakan untuk menilai apakah seseorang itu baik atau buruk, tetapi pertimbangan emosi tidak dapat dibenarkan sebagai alat ukur untuk apa pun. Emosi lebih banyak menjerumuskan seseorang.

 

 
Jika seseorang tidak mampu membedakan antara keduanya atau mencampuradukkan antara satu sama lain di dalam mengambil keputusan, tidak tertutup kemungkinan pilihan tindakan kita bakal mengecewakan. 
 
 

 

Yang perlu diperhatikan ialah perbedaan antara perasaan dan emosi tidak tajam. Bahkan, sebagian bidang perasaan dan emosi bertumpang tindih. Orang sering kali tidak sadar kalau tindakannya itu merupakan emosi. Mereka menyangka, tindakannya masih dalam lingkup perasaan yang dapat dibenarkan, tetapi berdasarkan penilaian orang hal tersebut merupakan emosi.

Contohnya, seorang pimpinan memecat salah seorang karyawannya lantaran mendapatkan laporan anak buahnya itu bolos. Tindakan spontanitas pimpinan itu dapat disebut tindakan emosi. Namun, jika sebelumnya ia menunda beberapa saat untuk mendalami persoalan itu, tindakannya disebut tindakan perasaan. Ketika sang pemimpin melakukan konfirmasi kepada yang bersangkutan, apalagi melibatkan pihak ketiga sebagai saksi, tindakannya dapat disebut rasional atau masuk akal.

Ketika Nabi Sulaiman marah akan ketidakhadiran burung hudhud dalam sebuah pertemuan, Nabi Sulaiman berjanji akan menghukum burung itu dengan sanksi berat. Namun, penjatuhan sanksi itu tidak dilakukan secara spontan saat burung-burung itu datang. Nabi Sulaiman mengonfirmasi keterlambatannya. Setelah mendengarkan alasan burung hudhud, Nabi Sulaiman memahami alasan keterlambatan tersebut sehingga tidak jadi memberikan sanksi.

 

 
Ini semua memberikan pelajaran berharga bagi kita bahwa antara tindakan feeling dan emotion melahirkan akibat yang berbeda. 
 
 

 

Tindakan Nabi Sulaiman bukan tindakan emosi, melainkan tindakan perasaan, yaitu memberikan apresiasi positif laporan berharga yang disampaikan burung hudhud. Keterlambatan burung hudhud menghadiri pertemuan karena mampir mengamati satu kerajaan besar yang dipimpin seorang perempuan (Ratu Balqis), sosok pemimpin berwibawa dari Negeri Yaman.

Bayangkan bila Nabi Sulaiman menggunakan emosi dan langsung menghukum burung hudhud, mungkin Nabi Sulaiman tidak mendapatkan informasi tentang sebuah kerajaan besar yang bakal menyaingi kerajaannya. Dengan ketenangan dan kesabaran, Nabi Sulaiman menjadi pendengar aktif dari cerita burung hudhud sehingga tindakan tepat dan cerdas dapat terlahir.

Ini semua memberikan pelajaran berharga bagi kita bahwa antara tindakan feeling dan emotion melahirkan akibat yang berbeda. Mari kita hati-hati di dalam mengambil kesimpulan atau tindakan, apakah yang dijadikan referensi perasaan atau emosi?

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Alquran Kitab Terbuka

Dengan sikap keterbukaannya itu, justru hingga sekarang tidak ada satu pun yang berdaya menandingi Alquran.

SELENGKAPNYA

Indonesia Cetak Suprlus Dagang Terbesar

Kenaikan harga komoditas melanjutkan tren surplus neraca perdagangan Indonesia.

SELENGKAPNYA