Prof KH Nasaruddin Umar | Ilustrasi : Daan Yahya

Tausiyah

Memahami Bahasa Proaktif

Orang proaktif penuh keyakinan dan rasa percaya diri tetapi pada sisi lain ia tetap percaya kepada Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa.

Oleh Kontemplasi Ramadhan (10)

PROF KH NASARUDDIN UMAR, Imam Besar Masjid Istiqlal

Orang-orang proaktif bisa dikenali melalui bahasa yang digunakannya. Orang-orang proaktif tidak pernah frustrasi dan putus asa, namun tidak pernah kelihatan over confident. Sering terucap di mulutnya kalimat-kalimat optimistik tetapi tawadhu, seperti kata:  “Insya Allah saya harus bisa”. 

Satu sisi, ia penuh keyakinan dan rasa percaya diri tetapi pada sisi lain ia tetap percaya kepada Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Kuasa. Ia dapat mengendalikan perasaannya sehingga tidak pernah tampak sesuatu yang berlebihan pada dirinya. Ia tidak pernah menunjukkan marah berlebihan seperti meledakkan emosi, namun tidak pernah juga hanyut dan mabuk dengan kegembiraan. Sepertinya sikap dan perbuatannya selalu terukur dan terkontrol. Ia jarang menyesal karena setiap perbuatannya penuh kepasrahan.

Orang-orang proaktif terbiasa menjadi pendengar aktif. Mau mendengar dengan penuh empati kepada orang lain tanpa memanjakannya dengan pelayanan berlebihan. Ia tidak pernah berkecil hati menghadapi orang-orang  yang sering menjadi trouble maker tetapi selalu berusaha mengendalikannya dengan kearifan.

 
Orang-orang proaktif terbiasa menjadi pendengar aktif. Mau mendengar dengan penuh empati kepada orang lain tanpa memanjakannya dengan pelayanan berlebihan. 
 
 

Ia bisa meyakinkan orang dengan caranya sendiri sehingga tidak menimbulkan masalah lebih luas. Ia mampu memberikan respons yang terukur kepada orang lain sehingga siapapun lebih senang curhat kepadanya. Jika orang sudah mulai curhat maka orang itu sudah mulai berubah.  Apalagi jika ia menunjukkan tanda-tanda penyesalan yang mendalam terhadap peristiwa yang pernah dialaminya.

Jika terpaksa program yang direncanakannya belum berhasil maka ia tidak pernah memuntahkan kata-kata yang menyebalkan atau kata-kata kecewa, melainkan ia tetap memelihara kesantunan dan kesopanannya dengan mengucapkan kata-kata misalnya: ‘’Kali ini kita belum berhasil, tetapi insya Allah kesempatan lain, dalam waktu dekat kita akan berhasil.’’

Ia tidak pernah mengecilkan dan mengucilkan orang lain sungguhpun ia sudah mulai tidak senang. Jika terpaksa gagal maka sering kali terlontar kata: “Penyesuaian diri kita belum tepat”, “Sebetulnya orang itu bisa dicari selanya dan bisa diselamatkan”, dan “Kita harus mampu mempertanggung jawaban kita sendiri”, dan sebagainya.

Pembawaan atau watak dan karakternya tidak gampang tersinggung. Sungguh pun sengaja dipancing untuk tersinggung tetapi menampilkan ekspresi wajah yang tenang dan damai untuk semua. Ia selalu bertanggung jawab terhadap pilihan kebijakan yang dipilihnya. Ia sama sekali tidak menunjukkan wajah dan penampilan pengecut.

 
Ia selalu berpikir secara komprehensif sebelum bertindak, sehingga risiko pahit dalam kehidupannya jarang terjadi.
 
 

Ia selalu berpikir secara komprehensif sebelum bertindak, sehingga risiko pahit dalam kehidupannya jarang terjadi. Ia cepat pulih jika terjadi sesuatu yang buruk pada dirinya sendiri. Misalnya, jika ia dikecewakan oleh orang lain, maka ia tidak menaruh dendam sama sekali. Ia selalu dan terus-menerus mengembangkan potensi dirinya secara telaten.

Orang-orang yang berkarakter proaktif selalu kaya dengan alternatif. Ia selalu menemukan jalan untuk menjadikan segalanya terlaksana. Tidak heran kalau dikatakan orang-orang seperti ini selalu sukses dan hampir tidak pernah merasakan kegagalan. Kalaupun gagal, ia selalu menganggap ada hikmah lebih besar di balik kegagalan itu, sehingga tidak pernah tersedot oleh energinya sendiri.

Ia juga selalu fokus kepada hal-hal yang bisa mereka ubah, tidak pernah khawatir terhadap hal-hal yang tidak bisa mereka ubah. Ia selalu berpegang pada prinsip yang sudah ditentukan sendiri. Ia tidak merdeka dari tekanan orang lain. Ia tidak memusingkan popularitas tetapi selalu berorientasi pada hasil akhir dan azas kemanfaatan sebagaimana dirumuskan dan direncanakan semula.

Ia selalu memandang pengalaman hidupnya secara umum sebagai pengalaman positif. Ia suka berbagi energi positif kepada orang lain sehingga orang-orang mengesankannya sebagai sosok pribadi unggul, seperti diungkapkan dalam ayat: Inna khaira man ista’jarta al-qawiy al-amin (Sesungguhnya orang paling tepat diangkat sebagai pegawai ialah orang-orang yang kuat dan terpercaya). 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Ummu Ammarah, Sang Perisai Rasulullah

Ummu Ammarah merupakan pejuang perempuan pertama Muslimin di sejumlah peperangan melawan kaum kafir.

SELENGKAPNYA

Ramadhan, Momen Ajarkan Islam Pada Anak

Mengajarkan anak tentang Islam dan kebaikan dilakukan sesuai usia mereka.

SELENGKAPNYA