Cover Islam Digest edisi Ahad 10 April 2022. Mongol dan Jalan Kebangkitan Islam. | Islam Digest/Republika

Tema Utama

10 Apr 2022, 14:25 WIB

Mongol dan Jalan Kebangkitan Islam

Sejumlah elite Mongol menjadi Muslim sehingga merintis jalan kebangkitan Islam.

OLEH HASANUL RIZQA

Hancurnya Kota Baghdad pada 1258 M menandakan kebengisan Mongol. Namun, siapa sangka bangsa Asia Timur itu pula yang membuka jalan kejayaan Islam abad ke-14 M. Persentuhan mereka pada ajaran tauhid terjadi bertahap.

Mulanya Islamisasi Mongol

Bangsa Mongol pernah menjadi ancaman bagi kaum Muslimin pada masa silam. Jatuhnya pusat Kekhalifahan Abbasiyah, Baghdad, merupakan buktinya. Kota Seribu Satu Malam hancur lebur usai disapu balatentara Hulagu Khan—salah satu cucu sang pendiri Kekaisaran Mongol, Jenghis Khan. Peristiwa yang terjadi pada 656 Hijriyah atau 1258 Masehi itu menewaskan ratusan ribu penduduk setempat.

Ekspansi bangsa Asia timur itu terus berlangsung. Hingga pada Ramadhan 658 H atau 1260 M, Mongol diadang pasukan Muslimin yang dipimpin Saifuddin Quthuz. Sesudah pertempuran di Lembah Ain Jalut itu, hasilnya di luar dugaan. Ternyata, sang raja Dinasti Mamluk Bahriyah berhasil mengalahkan musuhnya.

Kemenangan di Ain Jalut di satu sisi begitu krusial. Akan tetapi, di sisi lain pembalik keadaan yang paling signifikan justru datang dari pihak elite Mongol sendiri.

Sejumlah anak keturunan Jenghis Khan di kemudian hari memeluk Islam. Merekalah yang turut mendorong kebangkitan peradaban Islam sejak akhir abad ke-13 M.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Sekadar contoh adalah cicit Hulagu Khan, Mahmud Ghazan, yang menjadi mualaf sejak tahun 1295. Memang, keputusannya berislam mulanya adalah strategi militer untuk merangkul sekutu Muslim di Persia.

Bagaimanapun, tidak dapat dipungkiri bahwa pendiri Dinasti Ilkhan itu berjasa dalam menetapkan Islam sebagai agama resmi kerajaan. Alhasil, ratusan ribu orang Mongol berduyun-duyun memeluk kepercayaan tauhid.

Contoh lainnya adalah Berke Khan. Salah seorang cucu Jenghis Khan itu merupakan kaisar Mongol pertama yang berislam. Pada 1250, putra Jochi Khan tersebut mengikrarkan dua kalimat syahadat di hadapan seorang sufi Tarekat Kubrawiyah, Syekh Syaifuddin Bakharzi.

Berbeda dengan Ghazan yang memusuhi Mamluk, ia bersekutu dengan dinasti Muslim yang berpusat di Mesir itu. Aliansi ini bertujuan melawan pasukan Hulagu Khan pada 1262.

Mengapa dan bagaimana sebuah bangsa yang semula haus darah sehingga membahayakan eksistensi umat Islam justru menjadi yang terdepan mengibarkan panji-panji agama tauhid?

Untuk menjawabnya, terdapat beberapa hipotesis yang telah dikaji para penulis sejarah. Di antaranya adalah faktor toleransi yang sudah mentradisi di tengah bangsa Mongol setidaknya sejak zaman Jenghis Khan.

Dugaan lainnya, keakraban mereka dengan orang-orang dan budaya Turki yang terlebih dahulu mengalami Islamisasi pada awal era Dinasti Abbasiyah. Terakhir, efektifnya dakwah yang dilakukan kaum salik terhadap elite Mongol.

photo
ILUSTRASI Jenghis Khan, sosok pemersatu bangsa Mongol abad ke-13. Pada akhirnya, sejumlah anak keturunannya menjadi Muslim dan mengembalikan kejayaan peradaban Islam. - (DOK WIKIPEDIA)

Untuk mendalami semua hipotesis tersebut, pertama-tama marilah mulai dari pembicaraan tentang dataran Mongolia, yang terletak di sisi paling utara kawasan Asia timur. Sejak berabad-abad lampau, dataran seluas 3,2 juta km persegi itu dihuni suku-suku nomaden. Artinya, mereka terbiasa hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, terutama yang memiliki sumber air dan kesuburan tanah.

Menurut Jack Weatherford dalam Genghis Khan and the Making of the Modern World (2004), konflik antarsuku merupakan hal yang biasa terjadi di Mongolia masa itu. Motif peperangan pada era pra-Jenghis Khan bukanlah perluasan wilayah, melainkan penjarahan semata. Yang dianggap harta rampasan bukan hanya benda-benda atau hewan ternak, tetapi juga wanita dan anak-anak.

Keadaan sosio-politik Negeri Mongolia berubah sejak naiknya Jenghis Khan berkuasa. Sosok yang bernama asli Temujin itu lahir pada 1162 M. Saat berusia 30 tahun, ia mulai diakui luas sebagai pemersatu suku-suku Mongol.

Dalam musyawarah antarklan (khural), disepakatilah bahwa dirinya bergelar jenghis khan atau pemimpin universal bangsa Mongol. Gelar tersebut akhirnya melekat sebagai nama dirinya.

Di puncak kekuasaannya, Jenghis Khan tidak memaksakan keyakinan pribadinya sebagai agama resmi Imperium Mongol. Ia sendiri merupakan penganut shamanisme atau tengrisme. Seorang Tengris meyakini bahwa kehidupan berasal dari Dewa Langit Biru dan Dewi Gunung.

Ada banyak pengikut Jenghis Khan yang tidak seagama dengannya. Tidak sedikit dari mereka beragama Kristen Nestorian, Buddha, dan Islam. Dalam masa pemerintahannya, sang khan agung tidak mempromosikan agama tertentu, melainkan semua kepercayaan. Ia bahkan membebaskan para pemuka agama dan bangunan tempat ibadah dari penarikan pajak.

Di kemudian hari, toleransi terhadap keberagaman agama-agama rakyat juga dilanjutkan beberapa khan penerus Temujin. Misalnya, seorang cucu Jenghis Khan yang menguasai Cina selatan pada paruh kedua abad ke-13, Kublai Khan. Ia merupakan tokoh pemimpin dunia pertama yang menetapkan hari besar agama-agama sebagai hari libur resmi kenegaraan.

Pengaruh Turki

Pada abad pertengahan, wilayah semenanjung besar yang kini menjadi lokasi Republik Turki lebih populer dengan nama Anatolia. Adapun sebutan Turki ketika itu merujuk pada sekelompok suku bangsa yang memiliki leluhur orang-orang Turkic atau Turks.

Mereka awalnya adalah penghuni stepa Asia tengah yang konon berasal dari Pegunungan Altai. Lanskap itu membentang sepanjang 2.000 km di perbatasan empat negara modern saat ini: Mongolia, Republik Rakyat Cina (RRC), Kazakhstan, dan Rusia.

Bangsa Turki mulai bersentuhan dengan Islam sejak ekspansi wilayah Bani Abbasiyah pada abad ke-10 M. Waktu itu, kekhalifahan tersebut telah memperluas kekuasaannya hingga ke Transoxiana, dataran subur antara Sungai Amu Darya dan Syr Darya, Asia tengah.

photo
Peta yang menunjukkan sejumlah ekspedisi militer yang dilakukan bangsa Mongol pada masa Jenghis Khan dan anak cucunya. - (DOK COLUMBIA EDU)

Ratusan tahun kemudian, daerah tersebut menjadi bagian dari Kekaisaran Mongol. Sebelum kematiannya pada 1227, Jenghis Khan memberikan tanah jajahannya di Asia tengah kepada sang putra kedua, Chagadai Khan. Pada masa puncak kejayaannya, Kekhanan Chagadai meluas dari Transoxiana hingga selatan Laut Aral dan Pengunungan Altai.

Mayoritas penduduk kerajaan tersebut adalah bangsa Turki. Karena itu, wajarlah bila kebudayaan masyarakat Muslim-Sunni Asia tengah itu turut memengaruhi elite Kekhanan Chagadai. Para sejarawan menyebut masa 14 tahun kekuasaan Chagadai Khan sebagai permulaan era Turki-Mongol.

Penguasa tersebut memerintah dengan cukup adil. Ia menertibkan administrasi dan birokrasi sehingga pemerintahan dapat berjalan lebih efektif dari pusat sampai ke daerah-daerah.

 
Begitu berkuasa sejak 1252, Chagatai mengganti namanya menjadi Mubarak Shah. Dialah raja pertama dalam sejarah Kekhanan Chagadai yang memeluk Islam
 
 

 

Hingga tutup usia, dirinya selalu setia pada kepercayaan yang dipeluk Jenghis Khan, yakni tengrisme. Dalam hal ini, Chagadai Khan “hanya” menyerap kebudayaan Turki, tanpa mengikuti keislaman mereka.

Walaupun memiliki banyak anak, takhta kekaisaran sepeninggalnya justru jatuh pada seorang cucunya, Qara Hulegu. Penerus Chagadai itu kemudian memiliki anak yang bernama Chagatai, dari pernikahannya dengan Ergene Khatun. Begitu berkuasa sejak 1252, Chagatai mengganti namanya menjadi Mubarak Shah. Dialah raja pertama dalam sejarah Kekhanan Chagadai yang memeluk Islam.

Sejak 1251, seluruh kekhanan yang dimiliki para putra Jenghis Khan mengakui Mongke Khan sebagai khan agung. Ia merupakan cucu Temujin dari garis Tolui Khan.

Timur Lenk

Hingga akhir abad ke-13, situasi semakin kompleks di antara para elite bangsa Mongol. Di sisi barat, Hulagu Khan atas perintah Mongke Khan terus mengirimkan balatentara ke daulah-daulah Islam, termasuk Abbasiyah.

Pada 1258, Baghdad diserbu mereka. Penyerbuan ini tidak hanya memicu masalah bagi Kekhalifahan dan dinasti-dinasti yang menyokongnya, semisal Ayyubiyah dan Mamluk Bahriyah Mesir.

Ternyata, operasi militer di Kota Seribu Satu Malam itu juga menyulut friksi di antara sesama bangsawan Mongol, utamanya Hulagu versus Berke Khan. Nama yang terakhir itu merupakan seorang putra Jochi Khan—anak bungsu Jenghis Khan—yang bukan hanya mualaf, tetapi sangat bersemangat membela kehormatan agama barunya: Islam.

Adapun di sisi timur, putra lain dari Tolui Khan, Kublai Khan bersaing dengan saudaranya, Ariq Boke. Barulah pada permulaan abad ke-14, perpecahan antar-kekhanan Mongol itu mulai dapat diatasi. Hal itu sekaligus mengukuhkan wajah Turki-Mongol. Sebab, awal mulanya dari Kekhanan Chagadai.

Memang, hingga tahun 1350 secara politik Chagadai terbelah menjadi dua, yakni belahan barat dan timur. Yang pertama itu semakin kisruh oleh perebutan kekuasaan yang dilakukan para elitenya. Namun, Chagadai timur atau Moghulistan kemudian menganeksasi negeri jirannya itu pada 1361. Pemimpinnya saat itu adalah Tughluq Timur.

 
Dialah kelak yang dikenal sebagai Timur Lenk. Lahir dari lingkungan keluarga Muslim di Transoxiana pada 1336, Timur saat masih anak-anak menjadi korban perang
 
 

 

Seorang pengikut Tughluq merupakan jenderal berkebangsaan Turki yang gagah berani. Dialah kelak yang dikenal sebagai Timur Lenk. Lahir dari lingkungan keluarga Muslim di Transoxiana pada 1336, Timur saat masih anak-anak menjadi korban perang. Ia kemudian dibawa ke Samarkand oleh balatentara Mongol.

Samarkand ketika itu merupakan kota yang maju. Timur Lenk menghabiskan masa remajanya dengan belajar menguasai bahasa dan mengakrabi budaya Mongol, Persia, dan Turki. Dari sanalah, kecintaannya pada ilmu pengetahuan mulai tumbuh.

Namun, cita-citanya bukanlah ilmuwan, melainkan penakluk yang cakap. Maka ia mengikuti pendidikan kemiliteran di kota tersebut. Lama kelamaan, para tokoh Moghulistan merekrutnya. Jabatan demi jabatan diembannya hingga menjadi orang kepercayaan Tughluq Timur.

photo
Patung Timur Leng di Asia tengah. Tokoh Muslim berdarah Turki ini menjadi pemimpin Mongol yang sangat disegani. - (DOK PIXABAY)

Kira-kira tujuh tahun sesudah wafatnya Tughluq, Timur Lenk memaklumkan berdirinya Dinasti Timurid. Ia pun mengangkat dirinya sendiri sebagai raja pertama wangsa tersebut. Pusat kekuasaannya adalah kota masa kecilnya, Samarkand.

Meskipun berdarah Turki, ia tetap menggunakan identitas Mongol sebagai legitimasi kekuasaannya. Untuk itu, Timur Lenk menikah dengan seorang keturunan Jenghis Khan, yakni Bibi Khanum.

Selama 35 tahun berkuasa, sosok yang mengeklaim diri sebagai Syaifullah (Pedang Allah) itu mengobarkan panji-panji Islam. Samarkand dijadikannya sebagai “Baitul Hikmah Kedua”, tempat para cerdik cendekia dari pelbagai penjuru dunia berkumpul, untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.


Kekaisaran Mongol dan Hidayah untuk Khan Emas

Penguasa Horde Emas memeluk Islam setelah menerima dakwah seorang sufi.

SELENGKAPNYA

Anak Memberikan Nafkah untuk Orang Tua, Wajibkah?

Bagaimana hukumnya jika anak memberikan nafkah kepada orang tua, apakah wajib?

SELENGKAPNYA

Awal Mula Muslim Indonesia Menunaikan Shalat di Tanah Lapang

Comite Lebaran berhasil mendapat izin mengadakan shalat di Tanah Lapang Singa.

SELENGKAPNYA
×