Seorang mualaf, Nengsi Mangngik, menuturkan kisahnya dalam menerima hidayah Ilahi. | DOK IST

Oase

10 Apr 2022, 03:49 WIB

Nengsi Mangngik Mantap Memilih Islam

Nengsi, mualaf dari Tanah Toraja ini terkesan Islam dengan ajaran tauhidnya.

OLEH RATNA AJENG TEJOMUKTI

Agama tidak hanya mengenai urusan dunia, tetapi juga akhirat. Iman merupakan pedoman bagi setiap insan untuk menjalani kehidupan. Karena itu, seseorang sudah sepantasnya mengenal lebih dekat dan terus mempelajari keyakinan yang dipeluknya.

Dalam pandangan Nengsi Mangngik, Islam adalah agama yang sempurna. Mualaf tersebut mengaku bersyukur karena Allah SWT menghendakinya untuk berislam. Ia menjadi Muslimah sejak 2021 lalu.

Perempuan yang kini berusia 32 tahun itu tumbuh dari keluarga Toraja yang beragama non-Islam. Ayah dan ibunya termasuk umat yang taat beribadah. Beberapa tetua dari garis bapaknya merupakan pemuka agama.

Nengsi menjalani masa anak-anak dan remaja di Sulawesi Selatan. Dalam periode tersebut, pergaulannya sering kali masih sebatas dengan mereka yang seiman. Mayoritas suku Toraja memang menganut agama non-Islam.

Barulah setelah tamat SMP, ia mulai memiliki banyak kawan yang Muslim. Demi melanjutkan pendidikan menengah kejuruan, Nengsi muda kemudian merantau ke Balikpapan, Kalimantan Timur. Di sanalah lingkaran pergaulannya semakin majemuk. Hal itu cukup berbeda dengan keadaannya saat masih di kampung halaman.

Di Balikpapan, Nengsi mulai menjadi pribadi yang lebih mandiri. Begitu lulus dari SMK, ia mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang cukup baik. Seiring waktu, ia pun dapat menumbuhkan persahabatan dengan beberapa teman, termasuk yang Muslimah.

 
Banyak berinteraksi dengan mereka membuatnya kian mengenal Islam. Beberapa sahabatnya selalu shalat pada awal waktu.
 
 

Banyak berinteraksi dengan mereka membuatnya kian mengenal Islam. Beberapa sahabatnya selalu shalat pada awal waktu. Bila sedang mengobrol di tempat-tempat umum dan azan terdengar berkumandang, mereka langsung pamit untuk segera ke masjid terdekat. Kebiasaan itu ternyata menimbulkan kesan positif dalam diri Nengsi.

Ada pula sahabatnya yang rajin mengaji dan menghafal Alquran. Nengsi pernah mendengarkan lantunan ayat-ayat suci tersebut dibacakan. Tanggapannya saat itu, kitab suci umat Islam tersebut sangat indah.

Sayangnya, ia tidak bisa berbahasa Arab. Jadi, sama sekali tidak diketahuinya arti ayat-ayat tersebut. Karena penasaran, ia pun mulai membaca-baca terjemahan Alquran. Tidak cukup dengan itu, buku-buku tentang kisah para nabi dan orang-orang saleh dalam sejarah Islam pun dilahapnya.

Bahkan, sejak tahun 2014 minatnya untuk mengkaji Islam semakin tinggi. Atas saran seorang sahabatnya, Nengsi memutuskan untuk membaca secara komparatif, yakni antara Alquran dan kitab suci agamanya saat itu. Ternyata, ia menemukan hubungan yang menarik.

 
Nengsi memutuskan untuk membaca secara komparatif, yakni antara Alquran dan kitab suci agamanya saat itu.
 
 

Misalnya, dalam Alquran bukan hanya ada kisah-kisah orang saleh, semisal Maryam (Maria), Nabi Isa (Yesus), dan sebagainya. Bahkan, kitab yang diyakini kesuciannya oleh Muslimin itu menjadikan Maryam sebagai nama salah satu surah. Di samping itu, ajaran tentang tauhid juga mulai diketahuinya melalui pembacaan atas arti surah al-Ikhlash.

Konsep tersebut sangat berbeda dengan teologi agamanya saat itu. Menurut ajaran Islam, Tuhan adalah Allah Ta’ala; Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Bahkan, dalam sebuah ayat Alquran Nabi Isa sendiri menegaskan dirinya sebagai hamba Allah.

Sang nabi pun menyuruh umatnya, Bani Israil, untuk menyembah hanya kepada Allah. “Sungguh, telah kafir orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya Allah itu dialah al-Masih putra Maryam.’ Padahal al-Masih (sendiri) berkata, ‘Wahai Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu’.” (QS al-Maidah: 72).

Setelah membuka-buka terjemahan Alquran, Nengsi melihat pada kitab agamanya saat itu. Ternyata, beberapa ayat di sana justru lebih dekat dengan ajaran Islam.

Umpamanya, penjelasan tentang Nabi Isa yang memerintahkan umatnya untuk menyembah Allah sebagai Tuhan. Lalu, perintah untuk untuk kaum wanita agar mereka menutup aurat. Ada pula yang berkaitan dengan amalan puasa serta larangan memakan hewan bertaring dan berkuku belah.

“Saya mempelajari kitab saya terdahulu (sebelum memeluk Islam –Red). Semakin saya pelajari, semakin saya menemukan banyak hal,” ujar Nengsi kepada Republika beberapa waktu lalu.

 
Semakin saya pelajari, semakin saya menemukan banyak hal.
 
 

Ia pun merasa aneh. Sebab, bertahun-tahun menjadi seorang pemeluk agama non-Islam, dirinya tidak pernah mendapati ceramah dari pemuka agama mengenai perintah-perintah tersebut. Padahal, semuanya jelas termuat dalam kitab.

Ia pun mulai meragukan agamanya saat itu. Kemudian, Nengsi kian sering bertanya kepada teman-teman Muslimnya. Mereka hanya mengingatkan untuk mencari tahu kembali mengenai agamanya sendiri.

Jika memang Nengsi merasa agama yang sedang dianutnya itu benar, maka bisa saja dirinya bertahan menjadi pemeluk iman tersebut. Sebaliknya, apabila ia merasa Islam yang lebih tepat, maka pelajarilah terus agama tauhid ini.

Bermimpi

Dalam fase mengkaji Islam, Nengsi kerap mengalami mimpi tatkala tidur. Dalam mimpinya itu wanita ini seperti mendapatkan isyarat yang menuntunnya untuk berislam segera. Sebagai contoh, kejadian yang dialaminya saat sedang tidur malam.

Dalam mimpi, ia seakan-akan dihadapkan pada jembatan yang aneh. Bentuknya tidak biasa karena tampak tipis sekali. “Mimpi itu terasa jelas, bahkan detail sekali. Saya seperti melaluinya berhari-hari, padahal hanya tidur dua jam,” kenangnya.

Masih dalam tidurnya itu, Nengsi seolah-olah didatangi beberapa sosok yang hendak menghakiminya. Saat akan diadili, tiba-tiba seorang di antara mereka menyuruhnya agar kembali ke pintu tempatnya masuk. “Dikatakannya, saya belum sampai pada waktu perhitungan,” ujarnya mengingat kembali momen tersebut.

Saat berjalan ke arah pintu yang dimaksud, Nengsi didampingi oleh sesosok wanita yang cantik jelita. Tiap dirinya akan terjatuh, si perempuan rupawan itu selalu sigap menolongnya sembari tersenyum.

 
Tiap dirinya akan terjatuh, si perempuan rupawan itu selalu sigap menolongnya sembari tersenyum.
 
 

Sesudah bangun tidur, bayangan tentang mimpi aneh itu masih membekas dalam benaknya. Keesokan harinya, Nengsi membaca buku-buku keislaman. Ia pun mengetahui, jembatan tipis yang tampak pada mimpinya semalam adalah gambaran tentang Shirat al-Mustaqim, menurut ajaran agama ini.

Sesungguhnya, ia masih merasa ngeri akan sosok-sosok dalam mimpi tersebut. Namun, keterangan mengenai Shirat membuatnya kian berfokus pada Islam. Delapan tahun lamanya ia mempelajari ajaran Nabi Muhammad SAW itu. Makin lama, hatinya pun kian mantap untuk berislam.

“Saya ingin bersyahadat,” ucapnya mengingat saat-saat itu.

Namun, tekadnya untuk segera memeluk Islam sempat terkendala. Dalam hatinya, Nengsi masih takut apabila keislamannya akan menuai polemik di tengah keluarga. Lebih-lebih, kedua orang tuanya akan menolak keputusannya.

Menunggu restu keduanya, ia pun sempat bertahun-tahun lamanya menjeda keinginannya untuk secara resmi menjadi Muslimah. Dalam masa itu, Nengsi menemukan jodoh yang kebetulan seorang Muslim. Ayah dan ibunya seketika tidak setuju apabila putri mereka ini menikah dengan sosok yang tidak seiman.

Meski gagal menikah, Nengsi tak berputus asa. Dia tetap mempelajari agama Islam. Memang, tekadnya untuk menjadi Muslimah sama sekali datang dari kesadaran pribadinya, bukan bujukan siapa-siapa, termasuk lelaki yang dicintainya.

 
tekadnya untuk menjadi Muslimah sama sekali datang dari kesadaran pribadinya, bukan bujukan siapa-siapa, termasuk lelaki yang dicintainya.
 
 

“Kakak dan orang tua saya pernah tidak akan mengakui saya sebagai anak lagi jika saya tetap bertekad untuk memeluk Islam,” ujar Nengsi.

Bahkan, ia sempat diancam akan dibunuh. Beberapa anggota keluarga juga menudingnya telah diguna-guna karena ia tertarik pada Islam. Tidak sedikit yang terus mempersuasi dirinya agar tetap pada agama lama.

Kalau sampai menjadi Muslimah, dirinya ditakut-takuti akan mencoreng nama baik keluarga dan adat di kampung halamannya.

Menjadi Muslimah

Di tengah terpaan kata-kata mereka, Nengsi  terus bersabar. Masa delapan tahun pun terlewati. Masa yang selalu diisinya dengan doa kepada Allah SWT.

Munajat itu ternyata makbul. Akhirnya, kedua orang tua dan saudara-saudara Nengsi menerima keputusannya yang hendak berislam. Mereka hanya mengajukan syarat, yakni apabila dirinya kelak menikah dengan seorang Muslim, tak satu pun yang akan bersedia memenuhi undangan.

“Mereka meminta saya menikah di kampung halaman calon suami saja. Tidak mengizinkan saya datang ke rumah keluarga kami di Toraja,” katanya.

Maka pada 23 Maret 2021, ia pun mengikrarkan dua kalimat syahadat. Prosesi yang penting itu dilakukannya di gedung Mualaf Center Indonesia (MCI) Cabang Balikpapan. Seorang ustaz membimbingnya untuk bersyahadat. Sejumlah jamaah turut menyaksikan.

Usai resmi menjadi Muslimah, Nengsi semakin giat belajar dasar-dasar agama Islam. Ia pun terus berupaya memperbaiki ibadahnya, khususnya yang wajib. Bacaan shalat sedikit demi sedikit dihafalkannya. Kemampuan membaca Alquran juga dilatihnya dengan bimbingan ustaz di MCI Balikpapan.

 
Usai resmi menjadi Muslimah, Nengsi semakin giat belajar dasar-dasar agama Islam.
 
 

Beberapa bulan kemudian, Nengsi menemukan jodoh. Ia pun menikah dengan pria Muslim itu pada 2 Februari 2022. Saat ini, ia cenderung berfokus pada perannya sebagai ibu rumah tangga.

Tentu, mengaji Alquran dan menyimak ceramah-ceramah islami tidak ditinggalkannya. Beberapa kajian rutin, termasuk yang khusus mualaf, selalu diikutinya.

Nengsi juga bersyukur, keluarga yang terpecah karena mendengar keislaman Nengsi kini telah bersatu kembali. Silaturami kembali terjalin di antara mereka. Kehangatan yang sempat hilang, sekarang terasa lagi di kampung halaman.


Jangan Remehkan Batuk Pilek

Batuk dan pilek merupakan keluhan yang paling sering dialami pada anak.

SELENGKAPNYA
×