Sejumlah warga bersantai di Hutan Kota, kompleks Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Ahad (9/1/2022). | ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc.

Opini

08 Apr 2022, 03:45 WIB

Kota Sehat, Bumi Sehat

Kesehatan manusia bergantung kesehatan ekosistem lingkungan kota.

NIRWONO JOGA, Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan tema Hari Kesehatan Dunia (HKD, 7/4), ‘Our Planet, Our Health’. Mampukah kita membayangkan sebuah dunia di mana udara bersih, air segar, dan pasokan pangan tersedia untuk semua?

Kegiatan perekonomian fokus pada peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Di mana kota layak huni dan masyarakatnya mampu menjaga kesehatannya dan kesehatan planet bumi.

WHO melaporkan, planet bumi yang semakin tercemar udara dan airnya, meningkatkan berbagai penyakit seperti kanker, asma, jantung. World Forum Economy 2021 mengingatkan, pandemi Covid-19 peringatan bagi manusia agar berhenti mengeksploitasi alam.

Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim 2022 menegaskan, pemanasan global mempercepat kemunculan virus baru.

 

 
WHO menyebutkan, perubahan iklim memunculkan penyakit lingkungan baru. Ancaman kesehatan semakin intensif dan masif, serta meningkatkan risiko kerentanan terhadap berbagai ancaman kesehatan lain.
 
 

 

Maka, pada HKD 2022, WHO mengajak perhatian dunia fokus dan perlu tindakan mendesak memulihkan kesehatan planet bumi dan umat manusia, serta menciptakan masyarakat sehat sejahtera. Lalu, langkah apa yang harus dilakukan?

Pertama, kota sehat laksana organisme hidup kompleks, bernapas, bertumbuh, dan terus berubah mengembangkan sumber daya alam dan manusia sehingga warga saling mendukung dalam memaksimalkan potensi kota (WHO, 1992).

WHO menyebutkan, perubahan iklim memunculkan penyakit lingkungan baru. Ancaman kesehatan semakin intensif dan masif, serta meningkatkan risiko kerentanan terhadap berbagai ancaman kesehatan lain.

Pemerintah harus membangun infrastruktur kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan secara menyeluruh dan terpadu. Kesehatan manusia bergantung kesehatan ekosistem lingkungan kota.

Kedua, kota sehat harus menyediakan udara sehat. Upaya perbaikan kualitas udara meliputi memperketat pengendalian sumber pencemaran udara dan memperbaiki mutu udara, menjamin ketersediaan udara bersih, dan menekan emisi gas buang.

 

 
Ketiga, kota harus menyediakan akses air bersih untuk semua. UN Water (2021) mencatat, sekitar dua pertiga dari populasi penduduk dunia mengalami kelangkaan air yang parah setidaknya dalam satu bulan setiap tahun.
 
 

 

Selain itu,  mendorong peralihan gaya hidup masyarakat seperti beralih menggunakan transportasi massal (jarak sedang-jauh), berjalan kaki atau bersepeda (jarak dekat), serta menanam lebih banyak pohon dan menambah luas RTH paru-paru kota.

Kota mengembangkan sistem transportasi umum terpadu dan ramah lingkungan, membatasi penggunaan dan pergerakan kendaraan pribadi, serta mendorong untuk beralih ke kendaraan berbasis energi baru terbarukan.

Juga, pengembangan kawasan berorientasi pejalan kaki, menerapkan jalan berbayar elektronik di jalan utama, kawasan ganjil-genap, parkir elektronik progresif, uji emisi kendaraan bermotor, dan memperbanyak kantong parkir di simpul terminal/stasiun/halte.

Ketiga, kota harus menyediakan akses air bersih untuk semua. UN Water (2021) mencatat, sekitar dua pertiga dari populasi penduduk dunia mengalami kelangkaan air yang parah setidaknya dalam satu bulan setiap tahun.

Lebih dari dua miliar orang hidup di negara yang persediaan airnya tak mencukupi. Pada 2030, sekitar 700 juta orang berpotensi mengungsi karena kelangkaan air. Pada 2040, 1 dari 4 anak di dunia tinggal di daerah yang kesulitan mendapatkan airnya sangat tinggi.

Pemerintah harus mempercepat pembangunan jaringan perpipaan sistem penyediaan air minum dan instalasi pengolahan air limbah domestik, serta menetapkan zona bebas air tanah. Kualitas, kuantitas, dan kontinuitas air bersih harus terjamin baik.

 
Keempat, kota harus membangun ketahanan pangan lokal. Kota menyediakan kebutuhan nutrisi berbagai jenis makanan dengan kalori cukup dan kaya nutrien esensial memadai.
 
 

Kota harus melestarikan sumber air baku mulai dari hutan lindung mata air di pegunungan, hutan jalur hijau pengaman sungai, hutan kota badan air (situ, danau, embung, waduk), restorasi hutan mangrove pesisir, dan  bebas pencemaran sampah dan limbah.

Keempat, kota harus membangun ketahanan pangan lokal. Kota menyediakan kebutuhan nutrisi berbagai jenis makanan dengan kalori cukup dan kaya nutrien esensial memadai sehingga gangguan gizi tak terjadi, mencegah stunting, obesitas, dan diabetes.

UU No 18/2012 tentang Pangan menyatakan, penyelenggaraan pangan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia yang memberikan manfaat secara adil, merata, dan berkelanjutan berdasarkan kedaulatan, kemandirian, dan ketahanan pangan.

Kebutuhan pangan masyarakat perkotaan meningkat seiring pertumbuhan penduduk. UU No 4/2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan mengamanatkan setiap kota melindungi dan menyediakan kawasan dan lahan pertanian pangan secara berkelanjutan.

Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) meluncurkan inisiatif Food for the Cities (2001) untuk mengatasi tantangan urbanisasi dan mewujudkan ketahanan pangan kota.

Sementara, Kementerian Pertanian (2017) mengenalkan konsep pengembangan wilayah penyangga pangan yang mencakup proses produksi, pengolahan, dan konsumsi. Kota sehat, bumi sehat, kita pun sehat. ';

Perilaku Flexing di Bulan Suci

Galibnya, ini dominan pada usia muda (milenial) yang sedang mencari identitas diri sehingga butuh pengakuan.

SELENGKAPNYA

Tantangan Mudik Tahun Ini

Jumlah pemudik yang meningkat tajam tahun ini menjadi tantangan berat bagi pemerintah.

SELENGKAPNYA

Ramadhan dan Pengokohan Ekonomi Umat

Puasa memiliki kekuatan transformatif membangun perilaku hemat dan membudayakan hidup sehat.

SELENGKAPNYA
×