Renovasi juga mencakup area luar dari bangunan utama Masjid Istiqlal. | DOK Kementerian PUPR

Kabar Utama

Istiqlal Masjid Ramah Lingkungan Pertama di Dunia

Seluruh umat manusia di dunia harus memiliki semangat dan mempromosikan penghijauan terhadap sesama.

JAKARTA -- Masjid Istiqlal dinobatkan sebagai tempat ibadah ramah lingkungan pertama di dunia yang mendapatkan sertifikat Excellence in Design for Greater Efficiencies (EDGE). Sertifikat itu diberikan karena renovasi yang telah dilakukan membuat Masjid Istiqlal mampu menurunkan jejak karbon secara signifikan. 

EDGE adalah sistem sertifikasi bangunan hijau yang dikembangkan oleh International Finance Corporation (IFC). EDGE memberikan solusi teknis untuk mengadaptasi proyek konstruksi dengan standar bangunan hijau dan menghasilkan lingkungan serta keuangan yang positif.

Hingga saat ini, EDGE telah menyertifikasi lebih dari 1,6 juta meter persegi luas bangunan di Indonesia, mengurangi emisi karbon sebanyak 48 ribu ton per tahun, yang setara dengan menanam sekitar 800 ribu pohon.

Sebelumnya, Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI), Green Building Council (GBC) Indonesia, dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bermitra dengan IFC yang merupakan anggota kelompok Bank Dunia. Mereka bekerja sama untuk merenovasi beberapa bagian dari Masjid Istiqlal dengan menambahkan fitur ramah lingkungan yang akan meningkatkan efisiensi air dan energi dari bangunan ikonik tersebut.

Pekerjaan yang dilakukan di Masjid Istiqlal tidak hanya dilihat sebagai respons terhadap upaya memerangi perubahan iklim, tetapi juga sebagai contoh yang akan mendorong penerapan praktik desain bangunan hijau di Indonesia dan di tempat lain.

photo
Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar menerima sertifikat EDGE (Excellence in Design for Greater Efficiencies) pada acara serah terima sertifikat EDGE di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (6/4/2022). Masjid Istiqlal menjadi tempat ibadah pertama di dunia yang mendapatkan sertifikat final dari sistem EDGE. - (Prayogi/Republika.)

Imam Besar Masjid Istiqlal Prof KH Nasaruddin Umar mengatakan, sangat penting bagi umat Islam untuk mewujudkan masjid hijau yang ramah lingkungan guna meningkatkan kualitas ibadah serta menghormati kepemimpinan Rasulullah SAW yang sangat peduli terhadap alam. Oleh sebab itu, pembangunan kembali dan merevitalisasi peran masjid sebagai pusat pencerahan pelestarian lingkungan menjadi salah satu prioritas.

"Kami merasa sangat terhormat dapat menjadi masjid pertama di dunia yang mendapatkan sertifikasi Final EDGE," kata Kiai Nasaruddin melalui pesan tertulis usai acara seremonial serah terima sertifikat EDGE Masjid Istiqlal, di Masjid Istiqlal, Rabu (6/4).  

Nasaruddin mengatakan, pencapaian ini merupakan bukti nyata dari komitmen Masjid Istiqlal untuk mendukung kelestarian lingkungan, baik di kawasan Masjid Istiqlal maupun di seluruh negeri. 

Nasaruddin menjelaskan, Masjid Istiqlal menggunakan cat reflektif untuk atap dan dinding bagian luar, pencahayaan hemat energi di ruang internal dan eksternal, pengukur energi pintar (smart energy meters), dan panel surya yang akan mencakup lebih dari 13 persen konsumsi listrik. Hal ini diharapkan membuat Masjid Istiqlal mampu menghemat energi hingga 23 persen. 

Selain itu, kata Nasaruddin, Masjid Istiqlal menggunakan keran air beraliran rendah, pengolahan dan daur ulang air buangan, serta langkah-langkah efisiensi lainnya. Secara keseluruhan, konsumsi air akan berkurang sebanyak 36 persen.

Nasaruddin dalam kesempatan tersebut juga mengajak jamaah untuk sama-sama menciptakan “kehijauan” di dalam pikiran dan hati.

“Tidak akan ada artinya penghijauan seperti yang kita saksikan sekarang ini kalau tidak didukung oleh pemikiran para insan Masjid Istiqlal. Tidak ada artinya kita bicara penghijauan kalau hati para insan Masjid Istiqlal tidak hijau," ujar Nasaruddin.

photo
Jamaah melaksanakan ibadah shalat tarawih di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (1/4). Masjid Istiqlal kembali mengadakan ibadah shalat tarawih dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Pada pelaksanaan shalat tarawih pertama ini, pengelola masjid Istiqlal menyiapkan kapasitas untuk 100 ribu jamaah. - (Republika/Edwin Putranto)

Ia kembali menegaskan, bukan hanya bangunan dan ruangan masjid yang perlu hijau, melainkan pikiran dan hati manusianya juga harus hijau. “Kalau pikiran dan hati manusianya hijau secara permanen, inilah yang akan melestarikan bumi,” ujarnya.

Oleh karena itu, kata dia, seluruh umat manusia di dunia harus memiliki semangat dan mempromosikan penghijauan terhadap sesama. 

“Kalau pikiran ini tidak hijau, begitu melihat hutan belantara, akan berpikir kalau hutan tersebut dibakar dan dijadikan kebun sawit, maka akan dapat sekian dolar AS jika diekspor. Begitu melihat pohon-pohon, akan berpikir kalau dipotong dan menjadi kayu jika diekspor akan mendapat berapa dolar. Itu contoh pikiran yang tidak hijau,” kata Nasaruddin.

Di tempat yang sama, Country Manager IFC untuk Indonesia dan Timor-Leste, Azam Khan, mengatakan, proyek di Masjid Istiqlal ini merupakan contoh yang dapat dicapai apabila semua bekerja sama dalam upaya melawan krisis iklim. Kerja sama dalam hal ini dinilai penting karena krisis iklim menjadi salah satu tantangan terbesar saat ini.

"Perubahan iklim mengancam kehidupan dan mata pencaharian serta memperlambat kemajuan dari upaya pengentasan kemiskinan, terutama di tengah meningkatnya intensitas bencana terkait iklim yang terjadi, termasuk di Indonesia," ujarnya.

Azam mengatakan, terdapat peluang untuk mengambil tindakan langsung. Adapun pembangunan kembali Masjid Istiqlal menunjukkan bahwa investasi dalam infrastruktur tahan iklim, termasuk bangunan hijau, dapat membawa perubahan yang terukur.

Indonesia memiliki beberapa kota dengan pertumbuhan tercepat di Asia. Dengan populasi yang diperkirakan akan melampaui populasi Tokyo pada 2030, Jakarta akan menjadi kota terbesar di dunia. 

Pada saat yang sama, urbanisasi dan pertumbuhan yang pesat membawa tantangan lingkungan yang besar. Hal ini semakin menggarisbawahi perlunya tindakan iklim yang ambisius.

photo
Pekerja mengecek solar panel di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (3/9/2020). - (Republika/Putra M. Akbar)

Direktur Jenderal Cipta Karya dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Diana Kusumastuti merasa bangga karena Kementerian PUPR dapat menjadi bagian dari inisiatif perintis ini.

Menurut dia, langkah Masjid Istiqlal yang merupakan perwakilan dari tempat ibadah dan bangunan bersejarah, tidak hanya akan meningkatkan efisiensi energi, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa bangunan hijau atau green building dapat diterapkan untuk semua jenis bangunan.

Konsep bangunan hijau, kata dia, dapat diterapkan untuk bangunan baru dan bangunan yang telah lama berdiri. "Mendorong pembangunan infrastruktur, permukiman, perumahan, dan bangunan yang ramah lingkungan sangat penting untuk membantu mewujudkan komitmen pemerintah dalam pengurangan emisi," ujar Diana. 

Selain mendapat sertifikasi Final EDGE, Masjid Istiqlal juga menjalani penilaian Greenship dari GBC Indonesia. Masjid Istiqlal juga telah mendapatkan predikat Ecomasjid dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Ketua GBC Indonesia Iwan Prijanto mengatakan, GBC Indonesia mengapresiasi pencapaian luar biasa Masjid Istiqlal yang menjadi bangunan keagamaan pertama yang mendapatkan sertifikasi Final EDGE. Ia mengatakan, Masjid Istiqlal dibangun sebagai simbol kebesaran masyarakat Islam di Indonesia dan merupakan representasi dari penghormatan mereka yang luar biasa kepada Allah SWT, masyarakat, dan alam. 

"Kami berharap dapat melihat inisiatif ini direplikasi sebagai bagian dari upaya kolektif melindungi lingkungan dan berkontribusi pada masa depan yang lebih berkelanjutan," kata Iwan. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Tiga Bansos Disalurkan Pekan Ini

Bansos sangat ditunggu masyarakat di tengah kenaikan berbagai harga kebutuhan pokok. 

SELENGKAPNYA

Libur Lebaran 10 Hari 

Cuti bersama ini bisa untuk bersilaturahim dengan orang tua dan keluarga di kampung halaman.

SELENGKAPNYA

Berpuasa Moderat

Sesuai dengan wasathiyyatul islam, berpuasa itu seharusnya moderat.

SELENGKAPNYA