Prof KH Nasaruddin Umar | Ilustrasi : Daan Yahya

Tausiyah

04 Apr 2022, 11:45 WIB

Mengontrol Rekening Tabungan Sosial (RTS)

Bulan suci Ramadhan dianggap waktu paling baik untuk mengumpulkan spiritual dan social saving.

PROF KH NASARUDDIN UMAR, Imam Besar Masjid Istiqlal

Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. (QS al-Baqarah [2]: 110).

Bulan suci Ramadhan dianggap waktu paling baik untuk mengumpulkan spiritual dan social saving. Suasana kebatinan kita di dalam bulan ini sangat kuat sehingga memungkinkan kita mengoleksi Rekening Tabungan Spiritual (RTS) lebih banyak.

Sebagai sebuah rekening, ada kalanya kita menyimpan dan ada kalanya kita menarik. Jika kita banyak menyetor ke dalam RTS, sudah tentu akan memberikan efek positif ke dalam pikiran dan suasana batin kita.

Sebaliknya, jika RTS tidak pernah bertambah, bahkan terus ditarik hingga yang muncul saldo minus, sudah tentu akan memberikan efek negatif ke dalam pikiran dan suasana batin kita. Bukan saja membatalkan pahala ibadah puasa, melainkan juga berkontribusi terhadap indeks kehidupan kesejahteraan masyarakat.

 

 
Bulan suci Ramadhan dianggap waktu paling baik untuk mengumpulkan spiritual dan social saving.
 
 

 

Wujud penyetoran RTS bisa dalam bentuk menjalankan ibadah khusus, seperti menjalankan fungsi-fungsi kehambaan, yaitu shalat, berzikir, berpuasa, mengeluarkan zakat, malaksanakan haji, bertadarus, juga mengikuti pengajian.

Bisa juga dalam bentuk menjalankan ibadah-ibadah sosial, seperti menjalankan fungsi-fungsi kekhalifahan, misalnya melestarikan lingkungan hidup, membantu fakir miskin, membersihkan fasilitas umum, berkata jujur, dan lain sebagainya.

Sementara, wujud penarikan RTS bisa dalam bentuk meninggalkan perintah Tuhan, seperti meninggalkan shalat, puasa wajib, zakat, haji, dan kewajiban agama lainnya. Demikian pula mengerjakan larangan Tuhan, seperti berzina, berbohong, hasad, munafik, sumpah palsu, membuka aurat, mengonsumsi makanan haram, khianat, tidak menepati janji, dan lain sebagainya.

Banyak ayat yang mengimbau agar manusia mengoptimalkan penyetoran RTS. Selain ayat yang disebutkan di atas, juga dapat dilihat dalam ayat berikut. ‘’Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula.’’ (QS al-Zalzalah [99]: 7-8).

Banyak juga ayat yang mengingatkan agar manusia menghindari penarikan TRS. "Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS an-Nisa’ [4]: 110).

 
Dampak positif penyetoran ke RTS, antara lain, suasana batin lebih tenang, tenteram, segar, dan bahagia. 
 
 

"Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah." (QS an-Nisa’ [4]: 123).

Dampak positif penyetoran ke RTS, antara lain, suasana batin lebih tenang, tenteram, segar, dan bahagia. Perasaan menjadi aman dan atmosfer kehidupan terasa luas dan tidak sumpek. Seperti semua orang ikhlas menerima diri kita apa pun adanya diri kita. Rasa percaya diri kita juga makin kuat, sehingga selalu munncul rasa keberanian dan ketegaran menjalani kehidupan ini.

Sikap kita menjadi proaktif, energetik, penuh spirit, dan semangat hidup lebih tinggi. Kalaupun di hadapan kita ada musibah, musibah itu lebih mudah diatasi. Ini semua dampak positif banyaknya isi RTS kita.

Sebaliknya, jika RTS kosong, apalagi dengan saldo minus, suasana batin menjadi kacau, sumpek, lemas, selalu dihantui rasa takut, curiga, dan malu. Tidak ada rasa percaya diri dan sikap kita pun sering reaktif yang berakibat menjauhnya orang-orang dari kita.

Sehubungan dengan ini, Allah SWT sudah memperingatkan kepada kita. "Barangsiapa yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barangsiapa yang datang dengan (membawa) kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan." (QS al-Qashash [28]: 84).

Mari kita memanfaatkan bulan suci Ramadhan kali ini dengan penuh kesadaran.


Cara Mulai Puasa Ramadhan

Terlepas perbedaan memulai puasa Ramadhan, yang jelas dalam satu negara diutamakan persatuan.

SELENGKAPNYA

Adab dan Tuntunan Syariah Promo Ramadhan

Memperbanyak konsumen dengan beragam promo saat Ramadhan harus memenuhi tuntunan syariah.

SELENGKAPNYA

Mega Konversi Bank Syariah

Mega konversi bank umum konvensional akan mengangkat pangsa pasar perbankan syariah menjadi di atas 10 persen.

SELENGKAPNYA
×