Ketua Program Studi Magister Kajian Agama-agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dr Ustadi Hamsah. | DOK IST

Hiwar

27 Mar 2022, 03:32 WIB

Waspada Agnostisisme dan Fenomena Pendangkalan Akidah

Agnostisisme merupakan salah satu paham yang mesti diwaspadai di tengah derasnya arus informasi.

Perkembangan teknologi memunculkan dampak positif maupun negatif. Bagi generasi muda Muslim, adanya internet atau media sosial dapat membuat mereka saling terhubung, betapapun jauh jarak membentang. Namun, mereka juga menjadi rentan akan diseminasi paham-paham yang dapat mendangkalkan akidah.

Hal itu disampaikan Ketua Program Studi Magister Kajian Agama-agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dr Ustadi Hamsah. Menurut dia, agnostisisme merupakan salah satu paham yang mesti diwaspadai di tengah derasnya arus informasi.

“Agnostisisme sebenarnya bukan fenomena baru. Cuma, sekarang ini di-blow up media sosial sehingga menjadi seperti gelombang besar,” ujar anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah tersebut.

Pengikut agnostisisme berpandangan bahwa Tuhan ada. Namun, mengetahui Tuhan, ajaran-Nya, serta keterlibatan-Nya dalam mengatur dunia, tidaklah dianggap penting. Dalam pengertian lain, paham tersebut juga berpendirian, manusia selalu kekurangan informasi atau kemampuan rasional untuk membuat pertimbangan tentang kebenaran tertinggi.

Padahal, agama memiliki dasar, yakni wahyu. Dalam Islam, Alquran dan Sunnah merupakan sumber rujukan utama yang datang dari sisi Allah sebagai petunjuk bagi manusia.

Bagaimana memahami titik pijak paham tersebut? Cara-cara apa saja yang dapat ditempuh untuk membendung arus agnostisisme, khususnya yang menyasar anak-anak muda? Kemudian, apakah menghindari filsafat bisa menjadi solusi?

Untuk menjawabnya, berikut ini perbincangan wartawan Republika, Muhyiddin, dengan dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam tersebut beberapa waktu lalu.

Bagaimana tantangan dakwah di tengah generasi muda masa kini?

Saya kira, perubahan zaman sekarang begitu cepat. Berbeda sekali dengan masa-masa sebelum adanya media sosial atau internet. Sekarang, tantangannya menjadi lebih besar, terutama dari segi berbagai pemikiran, baik itu yang positif maupun negatif. Semua itu bisa diakses sedemikian cepat dan instan.

Umat Islam—baik dari kalangan muda, orang tua, warga perdesaan, atau perkotaan—mempunyai akses yang sama untuk mendapatkan informasi atau berita. Tantangannya adalah keberlimpahan informasi. Kadang kala itu menjadi tak terkendali.

Artinya, tidak ada filter. Informasi menjadi masuk begitu saja. Nah, di sinilah sebenarnya dakwah berperan memosisikan informasi-informasi tentang Islam, baik dalam hal akidah, ibadah, maupun muamalah keseharian.

Di tengah banjir informasi itu, pelbagai paham kadang kala menyebar dan tidak selalu bersesuai dengan Islam. Pendapat Anda?

Tantangan era sekarang memang melimpah ruahnya informasi yang tidak terkendali. Kemudian, itu disambut oleh umat sering kali tanpa filter, khususnya mereka yang sudah abai terhadap penjelasan ulama atau kiai.

Sebab, dalam memahami dan mempelajari agama harus dengan guru. Tidak bisa mengandalkan media saja. Zaman dahulu juga begitu. Meskipun ada buku-buku atau kitab, seseorang harus tetap memiliki gurunya yang alim atau paham betul terhadap persoalan-persoalan tentang agama. Khawatirnya, “banjir” informasi itu disusupi diseminasi paham-paham yang dapat mendangkalkan akidah, terutama bagi yang belajar “tanpa” guru itu.

Apakah generasi muda Muslim juga menjadi sasaran pendangkalan akidah?

Sebenarnya bukan hanya generasi muda, tetapi semua. Dan bukan hanya umat Islam, tetapi banyak umat agama-agama. Namun, memang karena populasi Muslim besar di Indonesia, jadi mungkin lebih tersorot.

Islam mempunyai konsep akidah. Ya, agama-agama lain juga mempunyai konsep ketuhanan. Maka semua umat agama-agama sebenarnya bisa menjadi sasaran.

Salah satu paham yang bisa masuk dengan adanya informasi yang tidak terfilter ini adalah agnostisisme. Itu saya kira.

Bagaimana fenomena agnostisisme menjadi tantangan dakwah?

Agnostisisme itu adalah suatu pandangan bahwa Tuhan diyakini ada-Nya, tetapi untuk mengetahui tentang-Nya, ajaran-Nya, keterlibatan Tuhan dalam perilaku sehari-hari, itu dianggap tidak penting. Jadi, yang penting mengakui saja. Tidak penting mengetahui, menjalankan aturan-Nya, dan sebagainya. Itulah agnostik.

Mungkin bicara tentang agnostisisme, kita teringat juga pada ateisme. Nah, menurut saya, ateis itu selangkah lebih maju daripada agnostik. Kalau ateis itu, mereka sudah tidak mengakui keberadaan Tuhan, seperti yang dipahami oleh Islam maupun umat agama-agama lain, Tuhan ada dan sebagai kekuatan adikodarati di luar manusia.

 
Agnostisisme menjadi tantangan dakwah masa kini, terutama karena ia merebak di dunia maya.
 
 

Agnostisisme menjadi tantangan dakwah masa kini, terutama karena ia merebak di dunia maya. Generasi muda kemudian penasaran, tetapi pemahaman yang diperolehnya tanpa bimbingan guru atau ustaz. Jadinya, mereka tanpa ada filter untuk memilih dan memilah. Akhirnya, mereka bisa terbawa arus paham tersebut.

Maka, di situlah pentingnya filter, tabayyun, dan terutama guru tempatnya mengaji. Saya kira, fenomena agnostisisme ini adalah tantangan bersama. Sebab, efek yang paling nyata dari itu adalah kendornya norma agama maupun norma sosial. Yang dipentingkan hanya keinginan individualis saja.

Menurut Anda, mengapa anak-anak muda Muslim dapat tertarik mengikuti agnostisisme?

Sebab, fenomena agnostisisme yang menyebar melalui media sosial bagaikan kereta besar yang datang melibas. Pemberitaan dari media sosial bisa melibas siapapun sehingga banyak yang tidak bisa menghindar.

Lantas, generasi muda belum memiliki pengetahuan yang spesifik dan memadai. Mereka fasenya sedang berkembang, sehingga seharusnya banyak menerima penjelasan-penjelasan yang positif.

Sementara, efek dari dunia siber itu membuka semuanya. Untuk mempersiapkan filternya, kadang kita tidak cukup waktu dibandingkan dengan besarnya arus (informasi) yang terus menerpa.

Alasan lainnya, tidak adanya guru. Kalau zaman dahulu, anak-anak muda mengaji kepada guru agama atau kiai di pesantren, majelis taklim, maupun masjid. Namun, sekarang mereka cenderung merasa cukup hanya (mendapatkan informasi) dari media sosial. Akhirnya, kurang inisiatif untuk bertanya kepada guru.

Namun, positifnya dengan adanya fenomena itu barangkali adalah umat Islam dan juga umat agama-agama lainnya menjadi lebih terbuka dan siap untuk menghadapi tantangan. Mereka menjadi tergugah sehingga mulai menata jalan dan berkonsolidasi untuk mengantisipasi atau memproteksi generasi muda. Paling tidak, memberikan bekal ilmu yang memadai untuk mereka.

Bagaimana peran orang tua agar remaja Muslim terhindar dari infiltrasi paham agnostisisme?

Peran keluarga sangat penting untuk memberikan pemahaman level dasar dalam beragama. Kedekatan dan perhatian kedua orang tua terhadap anak juga sangat dibutuhkan. Sebab, ketika anak sudah tumbuh dewasa, kedekatan dengan ayah dan ibu sudah bergeser. Mereka cenderung lebih dekat dengan temannya.

Nah, hal itu mungkin bisa menjadi pengingat bagi keluarga Muslim di Indonesia. Mereka seyogianya kembali memperhatikan bahwa ikatan keluarga sangatlah penting. Peran orang tua sangat vital dalam membimbing anak-anak.

Meskipun, barangkali, orang tua berada jauh dari anaknya, saya kira komunikasi juga harus tetap jalan. Sehingga kalaupun ada jarak yang jauh, tetap ada jaminan dan keterbukaan  itu sehingga orang tua bisa memantau anaknya.

Intinya, orang tua harus membangun komunikasi yang baik dan juga mengetahui lingkungan pergaulan anaknya. Dengan begitu, kemungkinan menjadi sangat kecil bahwa mereka akan terkena paparan pemikiran yang tidak sesuai akidah Islam atau jati diri bangsa Indonesia.

Kalau dari sisi anak muda, bagaimana membentengi diri dari paham-paham yang merusak akidah?

Yang paling mungkin dilakukan oleh mereka adalah menjaga pergaulan. Dalam berteman, penting bersikap selektif. Kalau bisa, bertemanlah dengan orang-orang yang akan membawa pengaruh baik kepada diri.

Selain itu, yang tidak kalah pentingnya adalah harus mempunyai guru atau ustaz tempat bertanya. Para asatidz itu juga hendaknya memiliki pandangan hidup yang sesuai dengan Alquran dan Sunnah.

Terakhir, harus banyak input informasi yang bisa dijadikan referensi untuk melihat fenomena-fenomena yang ada. Perbanyak membaca, berdiskusi, serta mempertajam wawasan, baik dalam hal agama maupun ilmu-ilmu lainnya.

Pelbagai “isme” sering ditemukan dalam studi filsafat, sedangkan ilmu itu bukankah tidak dilarang oleh agama untuk Muslimin mempelajarinya?

Menurut saya, belajar filsafat adalah keniscayaan bagi umat Islam. Filsafat mengajarkan berpikir kritis, sistematis, dan logis. Namun, ketika esensi filsafat itu beralih menjadi sebuah paham, akhirnya memiliki tujuan-tujuan tertentu.

Agnostik ini kan awalnya juga sebuah pemikiran filsafat. Namun, itu kemudian beralih menjadi paham yang sudah menyempit dan mengerucut pada suatu pandangan yang punya tujuan-tujuan tertentu.

Sementara itu, filsafat secara umum bertujuan jelas untuk kebaikan. Umpamanya, melatih berpikir secara tajam dan mendasar. Namun, kalau salah satu pemikiran filsafat itu dikerucutkan dan diarahkan kepada pemikiran yang tertutup dan ideologis, seperti agnostisisme, maka harus hati-hati.

Maka yang disalahkan bukan filsafatnya, melainkan cara membawa filsafat—yang aslinya itu sangat mulia—ke arah yang tidak baik. Kenapa bisa ke situ? Pasti ada banyak faktor. Yang jelas, ada faktor-faktor ideologis. Di belakangnya juga ada kepentingan-kepentingan. Menggunakan filsafat untuk kepentingan pendangkalan akidah supaya terlihat masuk akal.

Menggali Makna Ramadhan

Dalam hitungan hari, umat Islam akan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Bagi akademisi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Dr Ustadi Hamsah, bulan kesembilan dalam penanggalan Hijriyah itu adalah momen menanam dan menuai kebajikan yang banyak. Ia menukil sebuah hadis.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan 10 kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman, ‘Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya.’”

“Pastinya, Ramadhan itu adalah bulan yang baik, yang berkahnya juga banyak. Maka, saya pribadi punya target-target tertentu,” kata ilmuwan kelahiran Klaten, Jawa Tengah, itu kepada Republika baru-baru ini.

Sepanjang bulan puasa, Ustadi berharap dapat lebih aktif dalam berdakwah, baik secara daring maupun luring. Menurut dia, Ramadhan membuka kesempatan yang amat lebar untuk memperluas syiar Islam. Seperti umumnya kaum Muslimin, anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah itu menginginkan semaraknya bulan suci.

Melihat tanda-tanda yang terjadi saat ini, persebaran Covid-19 agaknya mulai terkendali. Bahkan, beberapa acara sudah dibolehkan oleh otoritas terkait untuk mengundang kerumunan. Bagaimanapun, umat Islam juga jangan berkecil hati apabila pengetatan kembali diterapkan bila tujuannya untuk mencegah wabah penyakit.

Sebagai seorang dosen, Ustadi mencurahkan perhatiannya pada kajian keislaman, khususnya yang terkait dengan filsafat. Baginya, Ramadhan seharusnya menjadi pelecut semangat kaum ilmuwan untuk lebih produktif. Sebab, bekerja apabila diniatkan ikhlas Lillahi Ta’ala maka insya Allah bernilai kebaikan di sisi-Nya.

Ustadi mengawali pendidikan tingginya di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 1994 dengan mengambil jurusan Perbandingan Agama. Pada 2000, ia melanjutkan studi magister pada Program Studi Agama dan Filsafat di kampus yang sama.

Usai lulus pada 2003, lelaki yang kini berusia 48 tahun itu sempat berkuliah di UGM Yogyakarta. Adapun gelar doktornya diraih dari program kajian Islam UIN Sunan Kalijaga. Kini, dirinya menjabat sebagai Ketua Prodi Magister Studi Agama-agama pada universitas setempat.

 


Ketika Mongol ‘Menyapu’ Dunia

Wilayah kekuasaan Imperium Mongol setara 17,81 persen dari seluruh dataran Bumi.

SELENGKAPNYA

Menciptakan Game Peduli Lingkungan

Annisa Hasanah mengajak semua untuk membangun budaya peduli lingkungan sedari dini.

SELENGKAPNYA

Masjid Agung Islandia, Oase Iman di Negeri Es

Jumlah umat Islam di Islandia mencapai sekira 1.300 orang atau 0,4 persen dari keseluruhan populasi.

SELENGKAPNYA
×