Seorang mualaf, Ito Sahaman, mengaku bersyukur bahwa dirinya termasuk mereka yang diberi hidayah oleh Allah SWT. | DOK IST

Oase

27 Mar 2022, 03:30 WIB

Hati Ito Sahaman Terpaut Islam

Sejak kecil, Ito sudah mengenal Islam dari kawan-kawan dan lingkungan.

OLEH RATNA AJENG TEJOMUKTI

Pengalaman setiap orang dalam menemukan cahaya Islam cenderung berbeda-beda. Ada yang mesti melalui jalan berliku. Bahkan, tidak sedikit pula yang mengorbankan sebagian dari kenyamanan hidupnya. Hal itu dilakukan agar diri tetap ikhlas, berpegang teguh pada ajaran tauhid.

Ito Sahaman, seorang mualaf, juga mengalami pelbagai peristiwa sebelum hatinya menerima hidayah Illahi. Ketertarikannya pada Islam terjadi secara bertahap sejak dia masih berusia anak-anak. Bila mengenang masa-masa silam, lelaki yang kini berusia 54 tahun itu mengaku sangat bersyukur ke hadirat Allah SWT.

“Hidayah merupakan hadiah dari-Nya bagi orang-orang terpilih. Tidak semua orang bisa memperolehnya. Alhamdulillah, Allah menggolongkan saya ke dalam orang-orang yang mendapatkan itu dalam hidup,” ujar Ito Sahaman kepada Republika beberapa waktu lalu.

 
Hidayah merupakan hadiah dari-Nya bagi orang-orang terpilih. Tidak semua orang bisa memperolehnya.
 
 

Sebenarnya, Islam sudah menjadi bagian dari memori masa kecilnya. Ito sejak dahulu tinggal di tengah lingkungan yang mayoritas Muslim. Keluarganya juga memiliki pandangan yang sewajarnya terhadap pemeluk agama ini. Tidak mencurigai, apatah membenci. Sikap biasa saja dengan penuh tenggang rasa dan toleransi.

Sejak kecil, Ito sudah ditinggal wafat ibunya. Maka dari itu, anak kedelapan dari sembilan bersaudara ini tumbuh dalam bimbingan ayahandanya. Namun, bapaknya itu bekerja sebagai seorang pegawai pemerintah yang sering berpindah-pindah daerah penempatan tugas.  

Alhasil, Ito kecil lebih sering tinggal di rumah bersama saudara-saudaranya di Bogor, Jawa Barat. Pelajaran dan teladan pun kerap dicontohnya dari para kakak.

Di lingkungan tempat tinggalnya, Ito memiliki banyak teman. Ia memang memiliki watak yang ramah dan supel sehingga mudah bergaul dengan siapa saja. Umumnya, kawan-kawannya beragama Islam.

Maka Ito kecil terbiasa mengamati amal ibadah mereka. Umpamanya, tiap petang hari tiba azan berkumandang dari menara masjid terdekat. Lantas, teman-temannya mengakhiri waktu bermain dan bersegera ke sumber suara tersebut.

 
Umumnya, kawan-kawannya beragama Islam. Maka Ito kecil terbiasa mengamati amal ibadah mereka.
 
 

Pada suatu hari, Ito tidak sengaja menepuk tangan seorang temannya yang baru saja keluar rumah untuk berangkat ke masjid. Kawannya itu, seorang Muslimah, kemudian masuk lagi ke rumah dan berwudhu di halaman. Perempuan tersebut memberitahukannya, akibat Ito menyentuh tangannya, dia terpaksa ambil wudhu lagi.

“Teman saya itu kembali berwudhu. Lantas, saya bertanya alasan ia berwudhu lagi, dan apakah tidak capek mondar-mandir ke tempat wudhu?” kata lelaki berdarah Tionghoa tersebut.

“Kemudian, ia menjelaskan bahwa mereka yang bukan mahram, kalau bersentuhan—meskipun hanya sentuhan tangan—wudhunya bisa batal. Mungkin karena waktu itu saya masih anak-anak, penjelasan tersebut hanya saya dengar sepintas lalu,” sambungnya.

Kala itu, Ito duduk di sekolah dasar umum. Kebetulan, SD tempatnya belajar hanya menyediakan guru agama Islam. Adapun matapelajaran non-Islam tidak tersedia tenaga pengajarnya.

Maka setiap jam pelajaran agama, murid-murid yang non-Muslim dibebaskan untuk belajar mandiri di perpustakaan atau luar kelas. Namun, Ito sering memilih untuk tetap duduk di dalam kelas. Materi-materi keislaman pun didengarnya. Kadang kala, kisah-kisah islami yang menarik perhatian disimaknya secara saksama.

 
Karena sering mendengarkan pelajaran agama di sekolah, Ito mulai coba-coba untuk pergi ke masjid. Niat awalnya sederhana saja: ikut-ikutan teman.
 
 

Karena sering mendengarkan pelajaran agama di sekolah, Ito mulai coba-coba untuk pergi ke masjid. Niat awalnya sederhana saja: ikut-ikutan teman. Sewaktu azan maghrib berkumandang, ia bersama mereka berangkat ke tempat ibadah tersebut.

Kawannya mengambilkan sarung dari lemari masjid untuk dipakainya. Tentu saja, anak lelaki ini hanya tahu gerakan-gerakan shalat sekadarnya. Sesudah ibadah berjamaah itu tuntas dikerjakan, ia bahkan masih turut dalam pengajian di sana.

Masuk Islam

Waktu terus berlalu. Memasuki masa remaja, Ito mulai menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya agama. Ia pun semakin giat membaca buku-buku tentang Islam.

Ito juga mendapati beberapa anggota keluarga dari pihak ayahnya menjadi mualaf. Saat liburan, adanya saudara yang pamit saat tiba waktunya shalat bukanlah hal yang janggal. Bahkan, bukan hanya sanak familinya yang jauh. Belakangan, seorang kakak kandungnya juga ikut memeluk Islam.

Beruntung, Ito memiliki ayah yang berpandangan terbuka. Bagi bapaknya, seluruh anak ketika menapaki usia dewasa bebas memilih keyakinan yang seturut kata hati mereka. Karena itu, tidak menjadi masalah apabila di dalam rumah ada yang berlainan agama. Harmoni tetap terasa.

Hingga saat itu, Ito belum sampai pada keinginan untuk secara resmi menganut Islam. Agama yang dianutnya masih sama seperti dahulu. Meskipun demikian, ia akui, dirinya tidak termasuk taat dalam beribadah. Ritual keagamaan tiap akhir pekan jarang dia hadiri kecuali apabila ada perayaan hari-hari besar.

photo
Ito Sahaman bersyukur kepada Allah karena keislamannya diterima oleh pihak keluarganya dengan terbuka, tanpa timbul pertentangan dari mereka. - (DOK IST)

Memasuki tahun 1989, Ito sudah hidup mandiri. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dia bekerja sebagai tenaga penjualan (sales). Ia biasa keliling Jakarta untuk menjual produk.

Seperti dahulu, ia pun kini memiliki teman-teman yang mayoritas Muslim. Kepada seorang sahabatnya—sebut saja Budi—Ito kemudian bercerita tentang masa kecilnya. Termasuk kisah tentang dirinya yang pernah ikut-ikutan shalat di masjid, padahal tidak beragama Islam.

Budi mendengar dengan antusias. Sebelum obrolan usai, kawannya itu memberi tahu Ito bahwa bisa jadi hidayah Allah sudah menghampiri. Sebab, ia memiliki kesan positif terhadap Islam.

Karena itu, Budi menyarankannya untuk segera bersyahadat. Mengucapkan dua kalimat yang agung—itulah syarat untuk resmi menjadi Muslim. Syarat yang terdengar mudah untuk dilakukan.

Beberapa hari setelah perbincangan itu, Ito mulai menyadari bahwa perkataan Budi ada benarnya. Mumpung masih diberi jatah usia oleh Tuhan. Begitu pikirnya.

Pada suatu hari, istirahat siang tiba. Waktu itu, Ito sedang bertugas di kawasan Tanah Abang, Jakarta. Saat sedang duduk melepas lelah, ia tiba-tiba mendengar kumandang azan Zhuhur. Seketika, dirinya teringat nasihat Budi yang pernah disampaikan kepadanya.

 
Sesampainya di sana, ia bertindak sebagaimana umumnya orang Islam: mengambil wudhu dan ikut shalat berjamaah.
 
 

Tanpa ragu, Ito segera berdiri dan melangkahkan kakinya ke sumber suara panggilan shalat itu. Sesampainya di sana, ia bertindak sebagaimana umumnya orang Islam: mengambil wudhu dan ikut shalat berjamaah.

“Saya lupa nama masjidnya, tetapi lokasinya dekat dengan Hotel Sultan. Saya diberikan perlengkapan shalat,” katanya mengenang.

Sesudah shalat, ia pun meminta izin kepada imam setempat dan mengutarakan maksudnya. Sang imam menyambut antusias niatnya berislam. Maka di hadapannya serta beberapa orang jamaah, Ito pun mengucapkan dua kalimat syahadat.

Setelah resmi memeluk Islam, Ito kemudian memberi kabar pada keluarganya. Seperti pengalaman kakaknya yang telah lebih dahulu menjadi mualaf, ia pun menerima respons yang wajar. Kehangatan tidak berkurang diterima dari ayahnya.

“Saya sudah dewasa dan bisa memilih jalan hidup sendiri. Ayah dan saudara-saudara saya hanya menasehati bahwa saya harus bertanggung jawab atas pilihan saya dalam hidup,” ucapnya.

Shalat dan doa

Sebagai Muslim, Ito merasa hidupnya lebih damai dan tenteram. Ia selalu ingat ceramah seorang ustaz yang menerangkan, Allah telah memberikan petunjuk kepada manusia agar mereka bisa melalui hidup dengan baik.

Apabila merasa terjebak dalam masalah, maka dirikanlah shalat dan bersabar. Ito pun melakukannya. Ia sering menjalankan shalat dua rakaat untuk lebih menenangkan diri. Sesudah itu, dirinya memanjatkan doa ke hadirat Allah SWT.

Di antara munajatnya ialah berharap mendapatkan jodoh yang tepat. Hingga kini, Ito belum menyempurnakan separuh agamanya. Harapannya, ia dapat menikah dan menjadi pemimpin rumah tangga yang baik.

Ito merasa, Allah telah memberikan banyak kemudahan dalam hidupnya. Kini, kariernya terus menanjak. Dari seorang sales, kini dirinya merupakan manajer area pada sebuah perusahaan kuliner. Beberapa kali ia bolak-balik antara Jakarta dan Batam karena tuntutan pekerjaan.

Alhamdulillah, mualaf tersebut juga memiliki atasan yang saleh. Bosnya itu kerap mengingatkan para pegawainya untuk selalu shalat tepat waktu dan berjamaah. Bahkan, pengajian rutin digelar tiap pekan. Begitu pula dengan sedekah Jumat.

 
Saat azan tiba, saya selalu menyarankan agar bawahan saya yang Muslim untuk berhenti sejenak dan lalu melaksanakan shalat lima waktu
 
 

Ito mengaku, sikap fastabiqul khairaat itu kemudian menular pada dirinya. “Saat azan tiba, saya selalu menyarankan agar bawahan saya yang Muslim untuk berhenti sejenak dan lalu melaksanakan shalat lima waktu. Setelah itu, barulah kemudian melanjutkan kembali pekerjaan,” ujar dia.

Di samping shalat dan doa, Ito juga mulai membiasakan diri untuk bersedekah. Apalagi, kini menjelang Ramadhan. Ia selalu ingat hadis yang menyatakan, Rasulullah SAW semakin gemar memberi tatkala bulan suci. Bahkan, kedermawanan beliau mengalahkan angin sejuk yang berembus.

Berbuat baik tidak hanya dilakukan kepada orang jauh dan yang membutuhkannya saja. Karena masih sendiri, Ito lebih banyak mencurahkan kasih sayang kepada keponakan-keponakannya.

Ia meyakini, membahagiakan saudara juga merupakan bentuk dari ibadah, asalkan ikhlas Lillahi Ta’ala. Ia pun selalu mengingat betapa besar perhatian kakak-kakaknya yang telah mengasuh dan mendidiknya sejak kecil.

Pada 1993, ayahnya wafat. Kepergian bapaknya itu membuat pilu hati Ito. Rasa sedih terlintas, tetapi ia segera menyadari bahwa hidayah adalah sepenuhnya hak Allah SWT. Hanya orang-orang yang dikehendaki-Nya yang dapat menerimanya.

Ito bersyukur, selama menjadi muslim, bagi dia ujian yang datang tidaklah menjadi beban untuknya. Karena dia yakin bahwa Allah akan memberikan jalan keluar bagi hamba Nya yang mengalami kesulitan. “Sebagaimana diterangkan dalam surat al Insyirah, ‘Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan,’” katanya.

 


Serbuan Mongol dan Kejatuhan Baghdad Kota 1.001 Malam

Pasukan Hulagu Khan dapat menembus benteng Kota Baghdad pada 10 Februari 1258.

SELENGKAPNYA

Masjid Agung Islandia, Oase Iman di Negeri Es

Jumlah umat Islam di Islandia mencapai sekira 1.300 orang atau 0,4 persen dari keseluruhan populasi.

SELENGKAPNYA

Perumpamaan Dalam Alquran

Salah satu metode memahami sesuati dengan ibarat. Cara ini ada di Alquran.

SELENGKAPNYA
×