ILUSTRASI Pasukan Mongol tidak menghentikan ekspansi wilayahnya begitu mereka berhasil membumihanguskan Baghdad. | DOK WIKIPEDIA

Tema Utama

Serbuan Mongol dan Kejatuhan Baghdad Kota 1.001 Malam

Pasukan Hulagu Khan dapat menembus benteng Kota Baghdad pada 10 Februari 1258.

OLEH HASANUL RIZQA

Selama ratusan tahun, Baghdad menjadi pusat peradaban Islam. Kota Seribu Satu Malam—begitu julukannya—berdiri sejak abad kedelapan Masehi. Raja kedua Dinasti Abbasiyah, Abu Ja’far Abdullah al-Manshur, membangun kota yang dialiri Sungai Tigris itu pada tahun 767.

Memasuki abad ke-13 M, Kekhalifahan dipimpin seorang penguasa yang berwatak lemah, Abu Ahmad Abdullah al-Musta’shim Billah. Menurut Hepi Andi Bastoni dalam Sejarah Para Khalifah, pemimpin Abbasiyah itu cenderung menggantungkan pemerintahan pada wazirnya, Muayiddin al-Alqami.

Pada kemudian hari, perdana menteri yang berhaluan Syiah Rafidhah itu ternyata berkhianat sehingga menjerumuskan sang khalifah dan seluruh Baghdad ke dalam bahaya.

Al-Musta’shim Billah mulai berkuasa sejak Desember 1242. Selama 15 tahun memerintah, ia menghadapi banyak tantangan, baik dari dalam maupun luar negeri. Di atas itu semua, ancaman yang paling besar dihadapinya adalah Imperium Mongol.

photo
Cover Islam Digest edisi Ahad 27 Maret 2022. Riwayat Keruntuhan Baghdad - (Islam Digest/Republika)

Pada mulanya, Mongol adalah sebuah bangsa yang hidup nomaden di kawasan stepa Asia timur. Mereka terdiri atas beberapa klan. Yang terkuat di antaranya kemudian membentuk konfederasi suku-suku.

Pada akhir abad ke-12 M, Temujin tampil sebagai tokoh yang mampu menyatukan mayoritas suku-suku Mongol. Sejak tahun 1210, pemimpin yang masyhur dengan gelar Jenghis Khan (harfiah: penguasa universal) itu mengawali perluasan wilayah negerinya. Seluruh Cina utara kemudian berhasil dikuasainya.

Dalam taktik pertempuran, pasukan Mongol sering menjalankan strategi teror. Caranya adalah membuat kegaduhan di sekitar benteng musuh dengan suara-suara, seperti gemerincing lonceng atau ketukan logam berulang-ulang. Alhasil, lawan tidak hanya merasa terus diintai, tetapi juga sukar memprediksi rangkaian aksi yang akan dilakukan balatentara Mongol.

Jenghis Khan juga selalu memberikan kesempatan kepada pemimpin daerah yang akan diserangnya untuk menyerah. Tawaran itu disampaikannya beberapa kali.

Apabila lawan tidak bersedia mengangkat bendera putih, pasukan Mongol bakal menyerang wilayahnya tanpa ampun. Seluruh penduduk akan dihabisi. Semua bangunan setempat akan diratakan dengan tanah. Itu pula yang akhirnya terjadi pada Baghdad.

Sebenarnya, hingga tahun 1220 Mongol belum menimbulkan masalah bagi Islam. Khwarazmi, yang menguasai sebagian Asia tengah dan Iran, merupakan jiran yang berbatasan langsung dengan imperium tersebut.

Saat itu, Jenghis Khan masih berfokus memerangi Dinasti Jin yang berpusat di Zhongdu (Beijing). Menginvasi negeri Muslim yang terletak di sisi barat kerajaannya belum menjadi pertimbangan.

 
Hingga tahun 1220, menginvasi negeri Muslim yang terletak di sisi barat kerajaannya belum menjadi pertimbangan Jengis Khan.
 
 

 

Alih-alih menyerang, Jenghis Khan lebih suka Mongol membuka hubungan diplomatik dengan Khwarazmi. Tujuannya menjalin perniagaan yang saling menguntungkan dengan dinasti Muslim tersebut. Namun, raja Khwarazmi Shah Muhammad II ternyata tidak mempercayainya. Sejumlah utusan yang dikirim sang khan malah dibantainya habis.

Pembunuhan itu menyulut amarah Mongol. Jenghis Khan segera memimpin pasukannya untuk menyerang Khwarazmi. Panik, Muhammad II berusaha kabur, tetapi kemudian tewas dalam pelarian. Sejak itu, tamatlah riwayat daulah Islam tersebut.

Kini, tidak ada lagi yang memisahkan antara Abbasiyah dan Mongol. Ketika al-Musta’shim naik takhta di Baghdad, Jenghis Khan sudah mangkat. Akan tetapi, misi Mongol untuk memperluas daerah kekuasaan ke arah barat terus dijalankan para putra mendiang. Bahkan, mereka dengan masif melakukan ekspansi.

Seorang cucu Jenghis Khan, Mongke Khan, menjadi penguasa di bekas wilayah Khwarazmi. Ambisinya adalah menguasai seluruh Asia barat daya hingga Mesir. Karena itu, Abbasiyah menjadi salah satu incarannya.

photo
Peta yang menunjukkan sejumlah ekspedisi militer yang dilakukan bangsa Mongol pada masa Jenghis Khan dan anak cucunya. - (DOK COLUMBIA EDU)

Jelang kehancuran

Pada tahun 1251, Mongke Khan menjadi pemimpin utama kekaisaran Mongol. Untuk melancarkan misi-misi militernya, ia didukung dua saudaranya, yakni Kubilai Khan dan Hulagu Khan. Yang pertama itu berusaha menguasai Cina selatan, sedangkan yang terakhir mendapatkan perintah untuk menginvasi negeri-negeri Muslim di Asia barat.

Sejak 1256, Hulagu Khan telah mempersiapkan ratusan ribu pasukan. Mereka kemudian berhasil menduduki sejumlah daerah di Irak sehingga kian mempersempit wilayah kekuasaan de facto Abbasiyah. Di Baghdad, al-Musta’shim semakin gentar. Sang khalifah lantas mulai mengirimkan pelbagai persembahan atau hadiah sebagai tanda menghormati kejayaan Mongol.

Akan tetapi, Hulagu Khan tidak puas dengan benda-benda berharga yang dikirimkan al-Musta’shim. Ia ingin khalifah sendiri datang kepadanya. Tanpa menunggu jawaban, panglima Mongol itu langsung memimpin 150 ribu personel pasukan untuk menuju Baghdad. Itulah jumlah balatentara terbesar yang pernah diterjunkan kekaisaran tersebut dalam sejarah.

Pasukan Hulagu Khan tidak hanya terdiri atas orang-orang Mongol. Di dalamnya terdapat pula para kesatria Kristen Nestorian dari Armenia. Semakin mendekati Kota Seribu Satu Malam, aliansi ini kian besar dengan kedatangan pasukan Salib dari Kerajaan Latin Antiokhia.

Baghdad pun terkepung dari pelbagai penjuru mata angin pada 29 Januari 1258. Al-Musta’shim mengerahkan para prajuritnya untuk menyongsong balatentara Mongol dan sekutu. Namun, jumlah pasukan Abbasiyah tidak sebanding dengan musuh sehingga dapat dengan mudah dikalahkan.

photo
Lukisan yang menggambarkan suasana penyerbuan pasukan Mongol terhadap Dinasti Abbasiyah di Baghdad. Pada Februari 1258, Kota Seribu Satu Malam itu dikuasai bangsa yang bengis tersebut. - (DOK WIKIPEDIA)

Dari luar tembok Baghdad, Hulagu mengirimkan ultimatum agar pemimpin Abbasiyah segera menyerah. Pada saat itulah, Muayiddin al-Alqami menyarankan Khalifah al-Musta’shim untuk mengabaikan orang Mongol. Bahkan, wazir Abbasiyah ini menyampaikan kata-kata manis bahwa seluruh dunia Islam akan datang untuk melindungi Baghdad dan penduduknya.

Karena terbawa bujukan itu, al-Musta’shim kurang mewaspadai kekuatan musuh. Malahan, sisi benteng kota tidak diperkuatnya dengan menambah pasukan penjaga.

Pada 5 Februari 1258, satu per satu tembok pertahanan Baghdad runtuh akibat terus diterjang peluru-peluru dan hujan anak panah yang dimuntahkan pasukan Mongol.

Al-Musta’shim lantas menyadari kekeliruannya, tetapi terlambat sudah. Ia berupaya mengirimkan ribuan bangsawan Baghdad untuk meminta kesepakatan damai dengan musuh.

Namun, mereka semua dibantai Hulagu Khan. Sekira lima hari kemudian atau pada 10 Februari 1258, ibu kota Abbasiyah ini akhirnya jatuh ke tangan Mongol. Sang khan menunggu hingga tiga hari lamanya untuk memasuki kota.

Masa singkat itu digunakannya untuk mengamati kondisi Baghdad usai kekalahan sang khalifah. Menjelang habis hari ketiga, Hulagu Khan menyuruh seluruh komunitas Kristen untuk mencari tempat perlindungan di pinggiran kota.

Tentaranya juga diperintahkan untuk tidak mengusik mereka. Sikap ini barangkali terkait dengan kedekatan khan tersebut pada kelompok salibis. Diketahui, ibunda dan istrinya adalah pemeluk Kristen Nestorian.

 
Hulagu Khan mempersilakan pasukannya untuk menghabisi seluruh warga Baghdad. Nyaris tidak ada Muslimin yang lolos dari pembantaian ini.
 
 

 

Setelah itu, barulah Hulagu Khan mempersilakan pasukannya untuk menghabisi seluruh warga Baghdad. Nyaris tidak ada Muslimin setempat yang lolos dari pembantaian ini. Kaum wanita dilecehkan. Anak-anak dibariskan, untuk kemudian dibunuh secara brutal.

Jumlah korban keberingasan mereka tidak diketahui dengan pasti. Beberapa sejarawan menyebut angka 800 ribu jiwa. Ada pula yang memperkirakan dua juta orang korban, termasuk di dalamnya ribuan kaum elite Abbasiyah.

Hulagu membiarkan al-Musta’shim selama beberapa hari dipenjara. Dalam masa yang singkat itu, sang khalifah dipaksa untuk menyaksikan kehancuran kota yang dibangun para leluhurnya.

Orang-orang Mongol melumat dengan beringas. Khazanah peradaban Islam di Bait al-Hikmah dan berbagai perpustakaan setempat dimusnahkannya sama sekali.

Konon, air Sungai Tigris sampai menghitam karena endapan tinta dari buku-buku yang dibuang pasukan berwatak nomaden itu. Keruhnya sungai juga disebabkan darah dari korban keganasan Mongol. Termasuk di antara mereka adalah para ulama, filsuf, dan cerdik cendekia.

 
Seperti umumnya para khan, Hulagu percaya bahwa darah seorang pemimpin musuh tidak boleh tumpah ke tanah.
 
 

 

Setelah hampir semua orang Baghdad dibunuh, kini saatnya mengeksekusi pemimpinnya. Khalifah al-Musta’shim dikeluarkan dari kurungan dengan kondisi kelaparan dan kehausan. Selama mendekam di dalam sel, raja Muslim itu memang tidak diberi asupan apa-apa.

Seperti umumnya para khan, Hulagu percaya bahwa darah seorang pemimpin musuh tidak boleh tumpah ke tanah. Sebab, bumi akan menolaknya sehingga kelak mendatangkan bala bencana bagi orang-orang Mongol. Maka dari itu, proses hukuman mati yang dijatuhkan pada sang khalifah dibuat sedemikian rupa agar tidak “mengotori” tanah.

Caranya dengan menggulung al-Musta’shim dengan karpet tebal. Sesudah itu, sang khalifah diinjak oleh barisan pasukan kuda secara serentak dan berulang kali sampai mati. Demikianlah pemimpin terakhir Abbasiyah era Baghdad itu menemui ajalnya.

photo
Lukisan Hulagu Khan di Rashid-al-Din Hamadani, pada awal abad ke-14 - (DOK Wikipedia)

Sesudah Baghdad Jatuh

Baghdad berubah menjadi kota mati usai diserbu balatentara Mongol. Asap membubung tinggi. Bau amis darah menyeruak. Kawanan burung bangkai terbang berputar-putar di langit Kota Seribu Satu Malam.

Pada pertengahan Februari 1258, Hulagu Khan mulai memimpin pasukannya untuk meninggalkan pusat Abbasiyah yang telah porak-poranda itu. Dalam berarak, balatentara Mongol menghindari aroma busuk yang menyeruak dari mayat ratusan ribu penduduk Baghdad. Tidak ada rasa belas kasihan sedikit pun dari para agresor itu. Mereka justru menganggap, pembantaian adalah sebuah pencapaian.

Karena itu, Hulagu Khan menggiring ratusan ribu pasukan Mongol untuk terus bergerak ke arah barat. Tujuannya adalah merebut negeri-negeri Islam yang tersisa di sekujur Syam, pesisir Mediterania timur, dan bahkan Mesir.

Sekira dua tahun sejak koyaknya Baghdad, Mongol dapat menjajah seluruh daerah Dinasti Ayyubiyah di Asia barat, termasuk Damaskus dan Halab (Aleppo). Setelah itu, bangsa dari Asia timur itu merebut kota-kota penting di Palestina, seperti Gaza dan Nablus.

Pada 11 Agustus 1259, pemimpin utama Mongol Mongke Khan dikabarkan meninggal dunia di Asia tengah. Dalam tradisi bangsa ini, upacara pemakaman raja harus dihadiri para jenderal dan bangsawan. Karena itu, Hulagu pun kembali ke timur.

photo
Bangsa Mongol yang baru saja menghancurkan Baghdad pada 1258 kemudian menarget negeri-negeri Islam lainnya di barat. Salah satunya, Dinasti Mamluk di Mesir. - (DOK The Edinburgh University Library)

Sebelumnya, ia sempat mengirimkan surat ultimatum kepada raja Dinasti Mamluk yang berpusat di Mesir. Wangsa tersebut bisa dikatakan sebagai daulah Islam yang tersisa di Timur Tengah saat itu.

Sultan Mamluk Saifuddin Quthuz diimbaunya untuk menyerah bila tidak ingin bernasib sama seperti Khalifah al-Musta’shim di Baghdad. “Kami telah menaklukkan wilayah yang luas, membantai semua orang. Kamu tidak bisa lepas dari teror kami,” demikian bunyi penggalan surat tersebut.

Hulagu rupanya begitu percaya diri terhadap militernya. Ia pun meremehkan kekuatan Mamluk. Karena itu, dalam perjalanan pulang ke Transoxiana, ia membawa serta seluruh pasukan elite Mongol.

Jumlah mereka sekira satu tumen atau 10 ribu orang. Adapun pasukan yang tetap berada di Syam dipimpin Kitbuqa Noyan, seorang sekutu dari kalangan Kristen Nestorian.

photo
Patung Sultan Quthuz di Kairo - (DOK Wikipedia)

Sementara itu, Dinasti Mamluk melindungi segelintir bangsawan Abbasiyah yang berhasil melarikan diri dari Baghdad. Termasuk di antara mereka adalah seorang pangeran, Abu al-Qasim Ahmad al-Mustanshir. Kelak pada 1261, penerus Saifuddin Quthuz, Malik Zahir Baibars, mengakuinya sebagai khalifah sehingga mengawali fase riwayat Abbasiyah di Mesir.

Begitu menerima ancaman dari Hulagu, Sultan Quthuz tidak gentar. Baginya, teror yang diumbar bangsa Mongol bukanlah sesuatu yang baru. Sebagai seorang pemimpin Mamluk— mamluk berasal kata mamalik dalam bahasa Arab yang berarti ‘budak’ —dirinya memiliki darah hamba sahaya. Dan kisah hidupnya, dari yang semula berstatus merdeka hingga menjadi budak belian, tak lepas dari pengaruh ekspansi Mongol.  

Dahulu, ia merupakan anak penduduk wilayah Khwarazmi. Saat masih kecil, Quthuz menyaksikan balatentara Jenghis Khan menyerbu daerah tempat tinggalnya.

Bocah lelaki ini turut ditawan, lalu dibawa ke Syam untuk dijual sebagai budak. Seorang tokoh di Kairo lantas membeli dan membebaskannya. Setelah diberi pelatihan militer, kariernya terus menanjak hingga menjadi pejabat penting di Istana.

Suratan takdirnya menjadi penguasa Mamluk. Dan, pada momen inilah ia melihat kesempatan untuk melawan agresor yang telah menjajah tanah kelahirannya itu.

Ketika Mongol ‘Menyapu’ Dunia

Wilayah kekuasaan Imperium Mongol setara 17,81 persen dari seluruh dataran Bumi.

SELENGKAPNYA