ILUSTRASI Penyesalan datang pada diri sahabat Abu Hurairah usai menyadari kekeliruannya dalam berfatwa. | DOK AP VALENTINA PETROVA

Kisah

20 Mar 2022, 03:13 WIB

Sesal Abu Hurairah Usai Salah Berfatwa

Abu Hurairah segera beristighfar, memohon ampun kepada Allah atas kekeliruannya dalam berfatwa.

OLEH HASANUL RIZQA

Dalam sejarah Islam, Abu Hurairah merupakan seorang sahabat yang sangat populer. Sosok yang bernama asli Abdurrahman bin Shakhr ini meriwayatkan banyak hadis Nabi Muhammad SAW.

Tidak kurang dari 5.375 hadis berhasil diingatnya langsung dari lisan Rasulullah SAW. Karena itu, kepakarannya dalam ilmu-ilmu agama diakui luas.

Lebih dari tiga tahun lamanya, Abu Hurairah setia mendampingi Nabi SAW dalam setiap dakwah dan jihad. Sahabat yang lahir di Baha, Yaman, itu selalu menghadiri majelis ilmu yang digelar beliau di Masjid Nabawi. Pada akhirnya, kaum Muslimin terutama yang sempat berhalangan hadir pengajian sering menanyakan perihal ilmu-ilmu dari Rasul SAW kepadanya.

Bagaimanapun, Abu Hurairah pernah pula berbuat keliru dalam hidupnya. Itu ketika dirinya tidak tepat dalam memberikan sebuah fatwa atau keterangan. Penyebabnya, ada beberapa pelajaran Nabi SAW yang belum dapat dicerna secara baik olehnya. Akan tetapi, sesudah mengetahui letak kesalahannya, ia menerima dengan hati lapang dan segera memperbaiki diri.

Kisah berikut menggambarkan hal demikian. Pada suatu malam, kaum Muslimin sudah selesai melaksanakan shalat isya berjamaah di belakang Nabi SAW. Sesudah itu, mereka pulang ke rumah masing-masing. Rasulullah SAW juga telah kembali ke kamar beliau.

Malam terasa tenang bagi Abu Hurairah. Sahabat ini sedang duduk santai di pelataran Masjid Nabawi. Ia memang termasuk ahli shuffah, yakni mereka yang tinggal di halaman masjid karena tidak memiliki rumah permanen di Madinah.

 
Saat beranjak kembali ke Masjid Nabawi, tiba-tiba seorang perempuan mendekatinya.
 
 

Abu Hurairah kemudian berjalan ke luar shuffah karena beberapa keperluan. Saat beranjak kembali ke Masjid Nabawi, tiba-tiba seorang perempuan mendekatinya. Wanita bercadar itu rupanya hendak bertanya kepadanya mengenai persoalan yang sedang menderanya.

Setelah mengucapkan salam, si perempuan bertanya perihal nasibnya. Wanita ini mengaku telah berbuat dosa yang besar. “Apakah saya bisa bertobat?” tanyanya kepada Abu Hurairah.

“Bagaimana keadaanmu sehingga tiba-tiba bertanya tentang tobat?” selidik sang sahabat Nabi SAW.

“Begini,” tutur si Muslimah setelah terdiam agak lama, “Aku telah berzina, kemudian membunuh anakku yang merupakan hasil dari hubungan haram itu.”

Mendengar pernyataan itu, wajah Abu Hurairah memerah padam. Ia terkejut dan tidak habis pikir, mengapa perempuan ini tega menghabisi nyawa bayinya sendiri. Sedikit terbawa sentimen dan emosi, sang sahabat Nabi dengan cepat mengeluarkan pernyataan dan fatwa yang cukup keras.

“Binasalah engkau! Binasalah engkau! Demi Allah, Anda tidak akan diampuni,” ujar dia.

Seketika, Muslimah tersebut menangis. Ingin teriak, tetapi bibirnya tiba-tiba terasa kelu. Kakinya gemetar ketakutan. Wanita ini merasa amat sangat ngeri akan datangnya azab Allah kepada dirinya.

Setelah perempuan tersebut pergi, Abu Hurairah bergumam dalam hati, “Baru kali ini saya berfatwa tanpa berkonsultasi kepada Rasulullah SAW terlebih dahulu.”

 
Baru kali ini saya berfatwa tanpa berkonsultasi kepada Rasulullah SAW terlebih dahulu.
 
 

Keesokan harinya, Abu Hurairah menghadap Nabi SAW, dan menceritakan peristiwa yang berlangsung kemarin malam. Setelah itu, ia meminta pernyataan dari beliau. Ternyata, justru jawaban yang disampaikan oleh Rasulullah SAW bertolak belakang dengan pandangan dirinya semalam.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un,” sabda Nabi SAW, “Demi Allah, engkau Abu Hurairah bisa celaka, engkau bisa celaka. Tidakkah engkau lupa akan ayat ini?”

Rasul SAW kemudian membacakan Alquran surah al-Furqan ayat 68. Artinya, “Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barangsiapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat.”

Kemudian, beliau membacakan al-Furqan ayat 70. Artinya, “Kecuali orang-orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Abu Hurairah segera beristighfar, memohon ampun kepada Allah atas kekeliruannya dalam berfatwa. Ia merasa wajib bertanggung jawab atas kesedihan si Muslimah tersebut.

 
Tanpa menunggu lagi, seketika ia mencari dan melacak keberadaan perempuan tersebut.
 
 

Tanpa menunggu lagi, seketika ia mencari dan melacak keberadaan perempuan tersebut. Ditelusurinya setiap sudut Kota Madinah. Namun, usahanya belum membuahkan hasil hari itu.

Tidak ada satu pun warga Madinah yang tidak ditanyainya. Bahkan, anak-anak sampai memandang aneh kepadanya. Sebab, Abu Hurairah tampak panik dan kebingungan.

Malam pun tiba. Allah menakdirkan, Abu Hurairah bertemu lagi dengan si Muslimah di tempat yang sama seperti kemarin. Langsung saja, sang sahabat Nabi SAW meminta maaf kepadanya. Ia juga menyampaikan kabar gembira dari Rasul SAW.

Maka rona kegembiraan tepancar dari wajah si peremuan. Sebagai ungkapan rasa syukur dan sukacita itu, ia menyedekahkan sebidang kebun agar dipergunakan untuk kepentingan syiar Islam.


Muskaan Khan Simbol Perlawanan Larangan Jilbab India

Berkat aksi Muskaan, jutaan perempuan Islam di India tak gentar menggunakan jilbab setiap hari.

SELENGKAPNYA

Batas Bagian Perempuan yang Boleh Dilihat Bila akan Dipinang

Dalam memilih pasangan, Islam membolehkan mengenal lebih jauh calon jodoh yang akan dinikahi.

SELENGKAPNYA

Doa Para Nabi

Dalam Alquran, ada banyak kalimat yang mengandung makna doa.

SELENGKAPNYA
×