KH Zainul Milal Bizawie, penulis buku Sanad Quran dan Tafsir di Nusantara Jalur, Lajur, dan Titik Temunya. | DOK IST

Hiwar

13 Mar 2022, 03:34 WIB

Gus Milal Ungkap Pentingnya Sanad Ilmu

Sanad berkaitan erat dengan tanggung jawab spiritual hingga yaumul akhirah.

Dalam tradisi belajar-mengajar di kalangan umat Islam, sanad ilmu menjadi salah satu unsur utama. Karena itu, disiplin ilmu keislaman apa pun, sanadnya akan bermuara kepada Nabi Muhammad SAW.

Penulis buku-buku sejarah Islam, KH Zainul Milal Bizawie menjelaskan, menyusuri jejaring ulama dan keilmuan dalam Islam tidak dapat dipisahkan dari sistem jejaring sanad atau isnad.

“Oleh karena itu, dalam proses penyebaran dan transmisi keilmuan terbentuk sebuah jejaring yang dikenal dengan jalur sanad, yakni suatu jalinan yang menghubungkan antara guru dan murid,” ujar sosok yang akrab disapa Gus Milal ini.

Bagiamana penjelasan paling awal mengenai sanad ulama-ulama Nusantara? Dalam beberapa keilmuan Islam, sanad ulama-ulama Nusantara bermuara pada siapa dan mengapa? Dan bagaimana peran pesantren dalam melestarikan sanad keilmuan Islam di Nusantara?

Berikut wawancara lengkap wartawan Republika, Muhyiddin bersama KH Zainul Milal Bizawie yang baru saja meluncurkan buku terbarunya yang berjudul Sanad Qur’an dan Tafsir di Nusantara: Jalur, Lajur, dan Titik Temunya.

Mengapa sanad penting dalam khazanah keilmuan Islam?

Sanad adalah mata rantai transmisi yang berkesinambungan sampai kepada Rasulullah SAW. Dalam tradisi belajar-mengajar di kalangan umat Islam, sanad ilmu menjadi salah satu unsur utama.

Disiplin keilmuan Islam apa pun, sanadnya akan bermuara kepada Nabi Muhammad SAW. Ya hadis, tafsir Alquran, tasawuf, qiraat, dan sebagainya. Semua bermuara kepada beliau.

Kesinambungan itu berarti mutawattir, tidak terputus. Sebagai contoh, sanad hadis adalah kebenaran sumber perolehan matan atau redaksi hadis dari lisan Rasulullah SAW. Adapun sanad ilmu atau sanad guru adalah kebenaran sumber perolehan penjelasan, baik Alquran maupun Sunnah, dari lisan Rasul SAW. Ya, konsep sanad tidak terbatas pada ilmu hadis, tetapi juga meluas hingga bidang-bidang ilmu agama lainnya.

Setiap ulama wajib memiliki sanad?

Ibnu Abdil Bar meriwayatkan dari Imam al-Auza’i, bahwa ia berkata, “Tidaklah hilang ilmu (agama) melainkan dengan hilangnya sanad-sanad.” Imam Syafii mengatakan, “Tiada ilmu tanpa sanad.”

Imam Malik berkata, “Janganlah engkau membawa ilmu (yang engkau pelajari) dari orang yang tidak engkau ketahui catatan (riwayat) pendidikannya (sanad ilmu).”

Dari ungkapan mereka, tersirat bahwa tanpa berguru, seseorang tidak layak mengaku sebagai ahli ilmu atau ulama. Walaupun mungkin orang itu sudah membaca banyak kitab, tetap saja tak bisa disebut ulama apabila tak berguru.

Dalam hal agama, ilmu terkait dengan akhlak. Dalam pepatah Jawa, “Ilmu kalakone kanti laku.” Bahwa ilmu agama itu tak hanya terkait dengan aspek kognitif atau intelektual, tetapi juga etika atau tanggung jawab spiritual.

 
Ilmu agama itu tak hanya terkait dengan aspek kognitif atau intelektual, tetapi juga etika atau tanggung jawab spiritual.
 
 

Apa saja syarat bagi seseorang untuk menerima ijazah atau sertifikasi sanad?

Tentu, setiap guru atau bidang keilmuan memiliki standar yang berbeda-beda dalam mengeluarkan sanad. Namun, mayoritas pemberian ijazah sanad dilakukan melalui proses baiat atau talaqqi muhasafah, di mana antara guru dan murid saling ber-muwajahah.

Ijazah berarti legalitas atau putusan. Dalam ranah ilmu Alquran, ijazah adalah sebuah persaksian atau pengakuan dari seorang mujiz (guru yang memberikan ijazah) kepada seorang mujaz (yang mendapatkan ijazah) atas dasar keahliannya dalam bidang Alquran. Misal, murid hafal Alquran, memiliki kapasitas keilmuan, dan bacaan Alquran yang baik sehingga cakap dalam mengajarkan Alquran.

Praktik talaqqi (tatap muka atau perjumpaan langsung) seperti ini dicontohkan Nabi SAW saat di hadapan Malaikat Jibril. Nabi SAW menyimak dengan saksama Jibril membaca ayat-ayat Alquran. Kemudian, setelah Jibril menuntaskan bacaannya, Nabi SAW membaca-ulang apa-apa yang telah dibacakan oleh sang malaikat.

Contoh lainnya, dalam tahfidzul Qur’an, kriteria itu tidak hanya sebatas mampu dan berhasil menghafalkan kitab suci. Sebab, itu bisa dilakukan sendiri tanpa seorang guru. Maka yang penting juga adalah ruhul Qur’an, yang nantinya tecermin dari akhlak seorang hafiz. Karena faktor ruhul Qur’an ini, banyak ulama ahli Alquran juga mendalami atau menjadi pelaku suluk tarekat untuk tazkiyatun nafs (penyucian jiwa).

Mengapa penting sekali belajar agama hanya kepada ulama-ulama yang jelas sanadnya?

Sanad berkaitan erat dengan tanggung jawab spiritual hingga yaumul akhirah. Karena itu, tradisi menyusun sanad-sanad keilmuan serta ijazah keilmuan adalah untuk menjaga tradisi amalan para ulama terdahulu. Ijazah itu meliputi yang umum maupun khusus, riwayah maupun dirayah atau kedua-duanya; lalu tadris wa nasyr (izin untuk mengajar).

Bahkan, tradisi tersebut merupakan amalan para ulama mu’tabar yang tidak dapat diperselisihkan lagi. Sebab, ia terpelihara dari masa ke masa. Ukuran kelayakan keilmuan yang sebenarnya dalam neraca pembelajaran dan pengajaran ilmu-ilmu agama bukanlah seperti di ranah akademis, yang banyak mengacu pada tradisi Barat. Tolok ukur sebenarnya ada pada sandaran keilmuan seseorang yang mengajar ilmu agama.

Menurut catatan sejarah, seperti apa keterangan yang paling awal tentang sanad ulama-ulama Nusantara?

Dalam studi sejarah, menyusuri jejaring ulama dan keilmuan Islam tidak dapat dipisahkan dari jejaring sanad atau isnad. Jalinan sanad menghubungkan antara guru dan murid. Sistem jejaring sanad mendorong terbentuknya jejaring ulama yang dalam kitab-kitab ada yang yang disebut tsabat, thabaqat, asanid, dan lainnya.

Isnad ini juga diterapkan dalam berbagai cabang keilmuan, seperti tafsir, fikih, dan sejarah Islam. Misalnya, dalam bidang tafsir terdapat sebuah corak penafsiran yang lebih mementingkan mata-rantai transmisi. Ini dikenal sebagai tafsir bi al-ma’tsur atau bi al-riwayah.

Dalam studi sejarah Islam, ditemukan model historiografi dengan al-riwayah. Studi fikih pada masa awalnya juga sangat mengandalkan sanad. Sebab, fikih semula merupakan bagian yang tak terpisahkan dari (disiplin ilmu) hadis. Biasanya, dalam kitab-kitab apa pun penulisnya menerangkan rangkaian ustaz yang diperolehnya.

Dalam ilmu hadis dan fikih, bagaimana sanad ulama-ulama Nusantara?

Melalui Syekh Zaini Ahmad Dahlan, para ulama hadis dan fikih bersambung sanadnya. Konteksnya ialah masa pada abad ke-19. Perkembangan teknologi saat itu kian membuka pintu bagi ulama-ulama Nusantara untuk berkiprah di Haramain dan berjejaring dengan ulama-santri di Nusantara.

Sebagian ada yang menyemai di Haramain untuk menampung para ulama-santri yang datang dari berbagai penjuru. Sebagian kembali ke Nusantara untuk kemudian menjadi poros ilmu dan mengokohkan jejaring yang telah dibangun.

Dari Kalimantan, muncul Syekh Khatib as-Sambasi. Dari Sumatra, muncul Syekh Ismail al-Minangkabawi dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Dari Tanah Jawa, muncul nama-nama Syekh Nahrawi al-Banyumasi, Syekh Juned al-Batawi, Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Mahfudz Tremas, Syekh Abdul Karim al-Bantani, dan dari lainnya.

Mereka “menghadirkan” Syekh Zainuddin Abdul Madjid, Syekh Zainuddin Sumbawi, dan Syekh Abdul Gani Bima pada abad ke-19. Makkah menjadi poros bagi ulama-ulama Nusantara.

Poros ulama Nusantara di Haramain tersebut berhasil membentuk solidaritas ulama. Selain itu, muncul juga nama-nama semisal Syekh Sholeh Darat, KH Ahmad Rifai’i Kalisalak, Syekh Khalil Bangkalan, Syekh Hasyim Asy’ari, Syekh Tolhah Cirebon, Habib Ali Kwitang, Kiai Munawwir Krapyak, Ajengan Syatibi Gentur, dan lain sebagainya. Mereka menjadi jangkar ulama di Nusantara yang menggerakkan poros tersebut, berkiprah di pesantren, surau atau dayah di Nusantara.

Menurut Anda, bagaimana peran pesantren dalam melestarikan sanad keilmuan Islam di Nusantara?

Seperti sudah dijelaskan bahwa selain ulama-ulama yang terus berkiprah dalam komunitas Jawi di Makkah, terdapat juga ulama-ulama yang terhubung ke ranah pesantren. Transmisi ilmu dari ulama kepada para santri dan umat Islam di Nusantara itulah yang terjadi di pesantren.

Melalui ulama-ulama yang kembali ke Tanah Air dari Tanah Suci, inilah pembentukan tradisi pengajaran Islam yang terus berkembang, membangun suatu komunitas santri yang lebih besar lagi.

Para santri yang akan berangkat ke Makkah ataupun setelah datang dari Makkah biasaya nyantri terlebih dahulu di beberapa pesantren pesisir utara Jawa. Sebut saja, pesantrennya Syekh Kholil Bangkalan dan Kiai Sholeh Darat di Semarang.

Bahkan, jika ditelusuri lebih dalam, tradisi dan kurikulum pengajaran di Masjidil Haram pada abad ke-19 justru diteruskan oleh pesantren-pesantren tradisional di Nusantara. Tradisi yang terus dikembangkan oleh berbagai pesantren untuk menjaga sanad tersebut dilakukan melalui tradisi sanad dengan talaqqi, tirakat, tabarukan, dan bahkan dengan tarekat.

Bisa dijelaskan secara ringkas karya Anda yang berkaitan dengan studi sanad di Tanah Air?

Buku terbaru saya, Sanad Qur’an dan Tafsir di Nusantara: Jalur, Lajur, dan Titik Temunya, berupaya memberikan kontribusi dan mewarnai ceruk penelitian qiraat dan perkembangannya. Dan juga jejaring sanad qiraat dan tafsir di Nusantara yang dihimpun dalam buku ini.

Semuanya berupaya menyambungkan ratusan atau bahkan ribuan pesantren tahfizul Qur'an di Indonesia, sebagaimana jalur-jalur ulama Nusantara yang telah disebutkan.

Buku ini sekaligus menegaskan, ulama Alquran Nusantara sangat teguh mempertahankan tradisi sanad dalam membumikan Alquran dan tafsirnya. Semangat dari buku ini adalah menjaga kedekatan emosional antara para pegiat tahfiz dan tafsir Alquran di Tanah Air.

Dengan membaca buku ini, harapannya orang akan mengetahui bahwa guru-guru ilmu agama Islam terhubung dalam jaringan sanad yang kuat dan sambung-menyambung sampai para sahabat dan sampai kepada Rasulullah SAW.

photo
Dalam buku ini, Gus Milal juga menyajikan saran untuk para pembaca dalam memilih lembaga tahfiz Alquran. - (DOK IST)

Tips Memilih Rumah Tahfiz

Saat ini, marak berdiri rumah-rumah tahfiz. Keberadaannya turut menyebarkan rasa cinta kepada Alquran. Menurut KH Zainul Milal Bizawie, dalam memilih rumah tahfiz yang akan diikuti anak, orang tua dapat memerhatikan berbagai aspek.

Yang terutama adalah pengajar di sana dapat dipastikan memiliki sanad keilmuan yang jelas. Hal itu penting karena guru-guru yang tidak bersanad baik akan mengajarkan anak-anak untuk sekadar menghafal Alquran. Mereka tidak akan masuk pada pemaknaan tentang Kitabullah.

Sebagai rujukan, sosok yang akrab disapa Gus Milal itu telah membuat sejumlah daftar rumah tahfiz yang bersanad. Semua itu dapat dilihat pada buku terbaru karyanya, Sanad Qur’an dan Tafsir di Nusantara.

“Buku ini bisa menjadi acuan untuk memilih tempat-tempat yang cocok untuk menghafal Alquran karena didirikan atau diasuh oleh guru-guru yang mempunyai jaringan sanad yang terpercaya dan terjamin keilmuan dan kearifan mereka dalam membumikan Alquran di Indonesia,” kata Gus Milal menjelaskan kepada Republika, beberapa waktu lalu.

Buku ini juga menyatakan adanya tradisi tarekat dalam ranah kajian Alquran (qira'at). Buku ini mengungkap banyak para mursyid tarekat serta seorang hafiz yang mengajarkan kitab-kitab tafsir.

“Makanya, banyak dijumpai para sufi selain memiliki jalur silsilah tarekat, juga memegang sanad qira'at,” ujar Gus Milal.

Ia menambahkan, buku ini berupaya mengisi rumpang penelitian terhadap sanad dan tradisi qira'ah di Indonesia. Sebagai negeri dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, kata dia, Indonesia jelas kaya akan tradisi qira'ah.

“Tema ini yang belum banyak disentuh oleh sarjana keIslaman, baik Barat maupun Timur Tengah. Semoga buku ini membuka wilayah riset yang bisa diteruskan oleh sarjana lain yang memiliki minat,” ucap kiai kelahiran Pati, 28 April 1977 ini.

Gus Milal adalah putra dari KH Muhibbi Hamzawie, pendiri Pesantren Riyadlul Ma'la al Amin (RIMA) Kajen, Pati. Gus Milal pernah kuliah S1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Kemudian, melanjutkan kuliahnya di S2 di Antropologi FISIP Universitas Indonesia, dan menempuh S3 di Ilmu Sejarah Universitas Indonesia dan University of Hawaii Honolulu Amerika Serikat.

 


Shalahuddin al-Ayyubi, Sang Pembebas al-Aqsha

Shalahuddin menginginkan pembebasan Yerusalem dengan pertumpahan darah sesedikit mungkin.

SELENGKAPNYA

Heroisme Shalahuddin al-Ayyubi

Di Syam, Shalahuddin dengan cepat merebut satu per satu daerah strategis.

SELENGKAPNYA

Tak Gentar Hadapi Maut

Gubernur Hajjaj bin Yusuf tidak segan-segan membunuh siapapun yang berseberangan pandangan dengannya.

SELENGKAPNYA
×