Hikmah | Republika

Hikmah

15 Mar 2019, 20:22 WIB

Merajut Keharmonisan Sosial

Pegangan untuk membangun masyarakat berkeadaban (civil society).

Sejatinya, Alquran dan As-Sunnah cukuplah menjadi pedoman bagi setiap Muslim dalam menata kehidupan, baik pribadi, keluar ga, masyarakat, maupun bangsa.

Umat Islam adalah khairul ummah(umat terbaik) yang terwujud setelah terbentuk khairul jama'ah(masyarakat terbaik). Khairul jama'ah pun akan tercipta, jika lahirkhairul usrah(keluarga terbaik). Khairul usrahjuga tegak kalau dibang un oleh khairulbariyyah (pribadi terbaik).Itulah tujuan dakwah Islam yang hendak dicapai (QS 3:110, 98:7).

Jika demikian, setiap Muslim hendaknya men jaga sikap, kata, dan tindakan agar tercipta harmoni dalam keluarga dan masyarakat. Alquran, surah al-Hujurat ayat 6-13, mestinya menjadi pegangan untuk membangun masyarakat berkeadaban (civil society). Paling tidak, ada lima adab keharmonisan dalam menyikapi suasana kontestasi politik di negeri kita saat ini, yakni:

Pertama, bersikap kritis terhadap informasi (QS 49: 6). Awal dari disharmoni sosial adalah ketika akal sehat tak berfungsi baik dalam mengelola informasi (berita). Apakah benar atau bohong (hoaks)? Jika benar, apakah baik disebarkan?Jangan mudah percaya tanpa klarifikasi (taba yun). Perlu disaring sebelum di-sharingatau diamkan saja.


Ayat ini mengingatkan kita akan kisah al- Walid Bin Uqbah yang diutus ke Bani Musthaliq.Melihat orang-orang ramai menyambut, justru ia takut dan melapor kepada Rasulullah SAW bahwa mereka murtad dan tidak mau bayar zakat. Hampir saja mereka diperangi jika Nabi SAW tidak tabayun terlebih dahulu.

Kedua, menjadi pendamai dalam pertikaian (QS 49:9). Prof Buya Hamka dalam Tafsir Al- Azharmenyebutkan, kata iqtatalu tidak hanya berarti perang, tetapi juga bertikai. Belakangan ini, menebar ungkapan 'perang total' dan 'perang badar'. Seharusnya, ada yang menda maikan dengan adil agar jangan sampai terjadi benturan sosial, yakni para ulama yang istiqamah.

Ketiga, jangan suka mengolok-olok (QS 49:11). Tidak patut orang yang beriman mengejek, merendahkan, atau menertawakan orang lain, apalagi sesama Muslim. Sikap itu ter masuk kesombongan yang sangat dimurkai Allah SWT (HR Bukhari). Ketika mencela orang lain, sebenarnya kita sedang mencela diri sen diri. Sebab, dengan mencela, dengan sendirinya orang pun akan mencela kita dengan aib yang lebih banyak.

Keempat, jangan mudah buruk sangka (QS 49:12). Manakala tidak suka pada seseorang, biasanya segala sesuatu yang dikerjakannya akan terlihat buruk. Orang yang buruk sangka akan selalu mencari-cari kesalahan (tajassas)dan mau tahu urusannya (tahassas) serta menggunjing (ghibah) dengan membicarakan celanya (HR. Bukhari).

Kelima, jangan merasa paling mulia (QS 49:13).Simpul keharmonisan sosial adalah saling menghargai dan memahami perbedaan, bukan merendahkan. Berbeda itu naluriah manusia yang Allah titipkan bagi semesta, agar terjadi dinamika dan kompetisi dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Bukankah taman yang indah selalu ditumbuhi bunga yang beraneka ragam?

Orang bijak berkata, Janganlah menghina seseorang sebab setiap orang ada kelebihannya. Tak seorang pun yang patut merasa paling suci sebab Allah SWT tahu siapa kita sebenarnya (QS 53:32). Akhirnya, setiap ucapan dan kelakuan adalah pembelajaran bagi anak-anak kita. Jika tidak mampu menjaga adab keharmonisan ini, boleh jadi akan lahir generasi tak beradab dan ke lak kita termasuk orang yang bangkrut amal iba dahnya (al-muflis).Allahu a'lam bish-shawab.


×