Ilustrasi tayangan Ramadhan | Republika/Agung

Khazanah

02 Mar 2022, 08:57 WIB

Tayangan Ramadhan Diharapkan Lebih Berkualitas  

Tayangan Ramadhan diharapkan memberikan inspirasi wasathiyah Islam.

JAKARTA — Sejumlah lembaga penyiaran televisi dan radio mendeklarasikan komitmen untuk melahirkan konten-konten Ramadhan yang mendidik masyarakat dan menguatkan peradaban umat. Komitmen tersebut tertuang dalam "5 Deklarasi Halaqah Ramadan".  

Selain poin tersebut, peserta juga berkomitmen menghormati bulan suci Ramadhan dengan tayangan yang menjaga kesucian dan kehormatan bulan puasa, tidak menayangkan beragam isi siaran Ramadhan yang merendahkan martabat manusia, mengandung muatan fitnah, menghasut, menyesatkan, menyebarkan pornografi dan perbuatan tercela lainnya.

Peserta juga berkomitmen untuk memperkuat tayangan Ramadan yang menghormati Islam sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia, dan menaati aturan serta etika bermedia guna menjaga kekhusyukan bulan suci Ramadhan.   

Deklarasi yang dipimpin Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH M Cholil Nafis tersebut disampaikan dalam Halaqah Siaran Ramadan 1443 H/ 2022 M yang digelar Komisi Informasi dan Komunikasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) di kantor MUI, Jakarta, Selasa (1/3).

photo
Warga menonton televisi di rumahnya, Depok, Jawa Barat, Selasa (15/6/2021). Seharusnya program siaran Ramadhan menampilkan tayangan yang mendukung kekhusyukan menjalankan ibadah Ramadhan. - (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)

Ketua Umum MUI, KH Miftachul Akhyar, menggarisbawahi tugas mulia yang diemban media. Dia menukilkan sabda Rasulullah SAW tentang kekuatan informasi atau berita yang bisa mempunyai kekuatan seperti sihir.

Maknanya bisa menarik dan membalikkan berita, menciptakan opini yang dianggap benar, padahal semula tidak benar. “Tugas Anda (media) adalah membenarkan yang benar, terutama pada bulan suci Ramadhan,” ujar dia.

Dia pun mengajak kerja sama antara MUI, media, dan para pemangku kepentingan lainnya sehingga Ramadhan yang datang setiap tahun bisa kondusif.

Sementara itu, saat menyampaikan materi, Kiai Cholil berpesan, dai harus mempunyai standar sebagai dai agar memenuhi tiga hal, yaitu pertama Islam wasathiyah atau Islam moderat. Kedua, Islam yang seirama dengan NKRI dan yang ketiga metode dakwah yang memberikan aspirasi sekaligus memberikan inspirasi.

“MUI terbuka memberikan masukan dan saran konstruktif kepada pelaku dan industri agar dakwah televisi berkualitas dan bermartabat,” ujar dia.  

Ketua Pokja Media Watch dan Literasi Komisi Infokom MUI Gun Gun Heryanto mengatakan, halaqah ini memiliki tiga tujuan. Pertama, silaturahim lembaga penyiaran dengan MUI. Kedua, membangun pemahaman bersama tentang konten siaran Ramadhan yang berkualitas dan menguatkan peradaban umat. Ketiga, sebagai refleksi dan evaluasi dari tayangan siaran Ramadhan tahun sebelumnya.

 
Masih banyak pengaduan masyarakat terhadap siaran Ramadhan.
 
 

Dia juga menyampaikan halaqah ini berangkat dari fakta bahwa siaran Ramadhan di televisi tahun lalu belum mencerminkan keinginan bersama. “Masih banyak pengaduan masyarakat terhadap siaran Ramadhan, terutama sejumlah program yang dianggap berisi hal yang kurang pas dari sisi regulasi, etika maupuan ajaran Islam,” kata dia.

Aduan masyarakat itu sebagai respons balik publik terhadap siaran Ramadhan televisi yang mencerminkan adanya ketidaksinkronan antara isi siaran Ramadhan dengan ‘suasana kebatinan’ Ramadhan. “Seharusnya program siaran Ramadhan menampilkan tayangan yang mendukung kekhusyukan menjalankan ibadah Ramadhan,” ujar dia.

Ia pun mengajak lembaga penyiaran untuk bersama-sama menghadirkan tayangan atau konten Ramadhan yang berkualitas. ';

×