Petugas kesehatan Puskesmas didampingi anggota Polri berjalan menuju rumah warga saat pelaksanaan vaksinasi lansia door to door di Kelurahan Plawad, Karawang, Jawa Barat, Jumat (18/2/2022). | ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar

Nasional

22 Feb 2022, 03:45 WIB

Jokowi Minta Risiko Kematian Lansia Ditekan

Menkes meminta kepada masyarakat agar tidak pilih-pilih jenis vaksin.

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta agar risiko kematian terhadap lansia yang belum divaksin dan juga yang memiliki komorbid dapat ditekan semaksimal mungkin melalui penanganan yang baik.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyebut, dari 2.484 pasien yang meninggal akibat Covid-19, sebanyak 73 persen di antaranya belum melakukan vaksinasi dosis lengkap, 53 persen lansia, dan 46 persen memiliki penyakit komorbid.

“Untuk itu, pemerintah akan segera melakukan langkah-langkah mitigasi dari arahan Presiden tersebut,” kata Luhut saat konferensi pers usai rapat terbatas evaluasi PPKM bersama Presiden, Senin (21/2).

Luhut mengatakan, pemerintah akan menekan angka kematian dengan memberikan respons perawatan lebih cepat kepada kelompok yang memiliki komorbid. Usai berdiskusi dengan para pakar dan juga rumah sakit, pemerintah pun mendorong adanya interkoneksi data antara BPJS Kesehatan yang memiliki data komorbid dan data penambahan kasus di NAR Kemenkes.

“Sehingga jika ada penambahan kasus langsung terdeteksi apakah pasien tersebut komorbid atau tidak. Respons tindakan bisa dilakukan lebih cepat lagi dan akan banyak menghindari kemungkinan kematian,” kata Luhut.

Karena itu, Luhut meminta masyarakat agar tak lengah dalam menerapkan protokol kesehatan dan mengimbau agar segera mendapatkan vaksinasi agar terhindar dari keparahan penularan Covid-19. 

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan 189 juta atau sekitar 70 persen dari populasi masyarakat Indonesia sudah mendapatkan vaksin COVID-19 dosis pertama. Budi meminta pemberian vaksin terus dikejar, terutama untuk vaksinasi dosis kedua.

"Berita baiknya kemarin 189 juta, artinya 70 persen dari populasi sudah mendapatkan vaksinasi dosis pertama," kata Budi dalam konferensi pers yang ditayangkan di YouTube Sekretariat Presiden, Senin (21/2/2022).

"Kita harus mengejar agar dosis keduanya bisa naik segera mencapai angka tersebut agar kita bisa lengkap 70 persen dari populasi mendapatkan vaksinasi dua dosis," ujar eks wakil Menteri BUMN itu.

Budi juga meminta kepada masyarakat agar tidak pilih-pilih jenis vaksin. Budi menekankan, vaksin terbaik adalah yamg tersedia saaat ini baik sebagai booster maupun juga sebagai vaksinasi primer yang lengkap.

photo
Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin booster Covid-19 untuk lansia di Rangkasbitung, Lebak, Banten, Jumat (11/2/2022). - (ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/rwa.)

Lebih lanjut, Budi mengatakan pemberian vaksin Covid-19 ini penting untuk dilakukan. Penyebabnya, angka kematian akibat paparan virus lebih banyak terjadi karena pasien mengidap penyakit komorbid dan belum mendapatkan vaksinasi secara lengkap sebanyak dua dosis.

"Jadi sekali lagi kami mengulangi lagi, terus menerus, segera ya divaksin. Vaksinnya juga harus lengkap minimal dua kali. Kalau ada teman-teman kita yang lansia didorong agar bisa cepat divaksin," tegasnya.

Berdasarkan data Kemenkes pada Ahad (20/2), 189.646.917 orang yang telah mendapatkan vaksinasi Covid-19 dosis pertama dan 140.301.087 vaksinasi dosis kedua. Sementara untuk dosis ketiga, sudah diterima 8.456.612 orang. Adapun target sasaran vaksinasi di Indonesia sebanyak 208.265.720 orang.

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengatakan, kasus kematian akibat Covid-19 merupakan indikasiadanya titik lemah dalam sistem kesehatan. "Satu kematian itu suatu studi yang harus dilakukan mendalam untuk mencari tahu apa titik lemah dari sistem di level masyarakat dan pemerintah," kata Dicky.

Sumber : antara


×