Valentyna Konstantynovska (79 tahun) berlatih menggunakan senjata dalam pelatihan sipil oleh Pasukan Khusus Azov, dari Garda Nasional Ukraina di Mariupol, Conetsk, Ukraina, Ahad (13/2/2022). Pelatihan itu guna mengantisipasi serangan Rusia. | AP/Vadim Ghirda

Internasional

15 Feb 2022, 03:45 WIB

Lavrov Desak Putin Lanjutkan Dialog

Pernyataan Lavrov menandai tekad Rusia untuk tetap di jalur diplomasi.

MOSKOW -- Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyarankan Presiden Vladimir Putin untuk melanjutkan dialog dengan pihak Barat, Senin (14/2). Dialog itu difokuskan pada tuntutan Rusia, sementara ketegangan terus meningkat terkait Ukraina.

Dalam rapat, Putin bertanya kepada Lavrov, apakah masih masuk akal jika upaya diplomatik dilanjutkan. Lavrov menjawab bahwa segala kemungkinan untuk berunding masih amat luas. Maka ia pun menyarankan dialog dilanjutkan.

Moskow, kata Lavrov, harus terus berdialog dengan Washington dan sekutunya, Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), meski mereka telah menolak tuntutan utama Rusia.

"Perundingan memang tidak bisa dilakukan tanpa batas, namun saya menyarankan agar pada tahap ini melanjutkan dan memperluas dialog," kata Lavrov.  

photo
Seorang perempuan berlatih menggunakan senjata dalam pelatihan sipil oleh Pasukan Khusus Azov, dari Garda Nasional Ukraina di Mariupol, Conetsk, Ukraina, Ahad (13/2/2022). Pelatihan itu guna mengantisipasi serangan Rusia. - (AP/Vadim Ghirda)

Lavrov menyebutkan, meski AS dan NATO telah menolak tuntutan Rusia, namun mereka menawarkan dialog terbatas. Ia mengacu pada proposal yang disiapkan AS dan NATO mengenai berbagi informasi tentang pengerahan rudal di Eropa, pembatasan latihan militer, dan poin-poin lain untuk membangun rasa saling percaya.

Rusia meminta jaminan dari Barat bahwa NATO tidak akan mengizinkan Ukraina dan negara bekas Uni Soviet lainnya masuk NATO. Rusia juga menuntut NATO menghentikan penyebaran senjata ke Ukraina. Tuntutan lainnya, NATO diminta menarik pasukannya dari Eropa Timur.  

Hingga berita ini ditulis, Putin masih belum menyusun tanggapan resmi Rusia kepada AS dan NATO. Pernyataan Lavrov menandai tekad Rusia untuk tetap di jalur diplomasi. Sementara Amerika Serikat memperingatkan bahwa Rusia bisa saja menginvasi Ukraina kapan pun.

Rapat Putin dan Lavrov ini digelar sementara Kanselir Jerman Olaf Scholz sedang berkunjung ke Ukraina, Senin. Scholz dijadwalkan ke Rusia untuk bertemu Putin, Selasa (15/2).

"Kami menghadapi ancaman bagi perdamaian yang amat sangat serius di Eropa," cicit Scholz dari Kiev. Ia menambahkan, Jerman ingin menyaksikan "sinyal deeskalasi dari Rusia".

Rusia menempatkan sekitar 130 ribu personel militernya di wilayahnya yang berbatasan dengan Ukraina. Jarak dari perbatasan Rusia ke Ibu Kota Kiev hanyalah 75 kilometer.

AS memperkirakan, Rusia akan menginvasi Ukraina dengan mudah dan kapan saja. Tudingan ini berulang kali ditampik Rusia. Namun, pengerahan kekuatan aliansi NATO terus dilakukan di Eropa Timur.

AS dan NATO memperingatkan Rusia bahwa invasi ke Ukraina akan membawa konsekuensi besar. Namun, peringatan itu tampaknya tak terlalu dihiraukan Rusia.

photo
Warga Ukraina melakukan unuk rasa menentang rencana invasi Rusia ke Ukraina di Kyiv pada Sabtu (12/2/2022). - (AP/Efrem Lukatsky)

Rusia menggelar latihan militer dengan Belarus pada 10-20 Februari. Barat khawatir, latihan militer itu adalah tameng untuk menginvasi  Ukraina dari utara.

Diplomasi tingkat tinggi terus berlangsung. Presiden AS Joe Biden dan Putin telah berbincang selama satu jam melalui telepon, Sabtu (12/2). Biden mengingatkan bahwa invasi ke Ukraina akan menyebabkan krisis kemanusiaan yang luas. Biden juga menyebutkan, Barat siap mengakhiri krisis, namun juga siap menjalani skenario lain.

Pada Ahad (13/2), Biden juga berbincang dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy selama satu jam. Keduanya sepakat untuk menggunakan dua jalur, yaitu diplomasi sekaligus juga memberi efek gentar untuk mencegah kemungkinan serangan dari Rusia.  

Sementara Zelensky masih menampik kemungkinan bahwa serangan Rusia amat dekat. Ia mengatakan, Kiev dan kota-kota lain di Ukraina "aman dan di bawah perlindungan yang memadai". 

Kian dekat

Wakil Menteri Pertahanan Inggris James Heappey mengatakan, Eropa belum pernah dekat dengan peperangan seperti saat ini dalam 70 tahun terakhir. Hal itu disampaikan saat ketegangan di perbatasan Rusia-Ukraina kian meningkat.

“Kita lebih dekat (ke peperangan) daripada yang pernah kita alami di benua ini selama 70 tahun,” kata Heappey saat menghadiri program BBC Radio 4, Senin (14/2).

photo
Perempuan anggota kelompok sayap kanan radikal berlatih menggunakan senjata di Kyif, Ukraina, Ahad (13/2/2022). - (AP/Efrem Lukatsky)

Dia mengungkapkan, saat ini terdapat 130 ribu tentara Rusia di sekitar perbatasan Ukraina. Ribuan tentara Rusia lainnya berada di kapal amfibi yang bersiaga di Laut Hitam dan Laut Azov.

“Semua faktor pendukung pertempuran sudah ada dan ketakutan saya adalah jika semua ini hanya tentang pertunjukan untuk memenangkan pengaruh dalam diplomasi yang tidak memerlukan logistik, bahan bakar, pasokan medis, aset penghubung, hal-hal yang tidak mencolok benar-benar membuat kekuatan invasi kredibel, tetapi tidak menarik berita utama. Namun semua itu sekarang sudah ada juga,” kata Heappey.

Oleh sebab itu, dia menilai ada urgensi nyata untuk negosiasi yang sedang berlangsung. “Itulah mengapa ini adalah waktu yang sangat serius bagi seluruh dunia, sungguh, untuk berkumpul serta mengirim pesan ke Rusia bahwa ini adalah perilaku yang tidak akan diterima dan bahwa kami berdiri di belakang Ukraina, dan bahwa keuangan sanksi jika dia melintasi perbatasan akan sangat berat,” ujarnya.

Kementerian Luar Negeri Inggris sudah meminta warganya yang berada di Ukraina untuk meninggalkan negara tersebut. Hal itu selagi akses masih terbuka dan maskapai komersial masih diizinkan beroperasi. Selain Inggris, negara-negara seperti Amerika Serikat, Kanada, termasuk negara Teluk, juga telah memerintahkan warganya meninggalkan Ukraina.

AS sudah menyatakan, Rusia dapat melancarkan serangan ke Ukraina kapan saja. Namun sejauh ini, Moskow konsisten membantah memilik intensi seperti itu. ';

×