Mahasiswi yang dilarang memasuki kelas mereka karena berhijab, berjalan menuju kampus mereka di Udupi, India, Jumat (4/2). | Bangalore News Photos via AP

Internasional

Polemik Larangan Hijab India Memanas

Video seorang Muslimah berhijab sendirian melawan gerombolan perundung viral di medsos.

KOLKATA -- Larangan berhijab di Udupi, Karnataka, India, kini memancing reaksi kelompok ekstrem kanan. Ratusan mahasiwa dan pelajar di Kolkata, India Timur, meneriakan slogan dan memblokir jalan. Mereka memprotes larangan hijab di Karnataka.

Pengunjuk rasa di Kolkata itu umumnya perempuan berhijab. Aksi berjalan damai tanpa ada yang cedera. Pengunjuk rasa mengaku akan berkumpul kembali Kamis (10/2).

"Kami akan terus berunjuk rasa sampai pemerintah berhenti menghina para mahasiswi itu," ujar seorang pengunjuk rasa, Tasmeen Sultana. "Kami menginginkan hak fundamental kami dipulihkan …. Kalian tak bisa merebut hak kami," katanya.

Ucapannya mengacu pada sejumlah sekolah di Karnataka yang melarang mahasiswi berhijab masuk kelas. Alasannya, 5 Februari lalu Pemerintah Karnataka yang 12 persen populasinya Muslim mengeluarkan perintah semua sekolah mengikuti aturan seragam yang ditetapkan manajemen.

Pihak sekolah mengatakan, larangan berhijab sesuai peraturan menteri pendidikan. Akibatnya, murid dan orang tua berunjuk rasa.

photo
Mahasiswi yang dilarang memasuki kelas mereka karena berhijab, berjalan menuju kampus mereka di Udupi, India, Jumat (4/2). - (Bangalore News Photos via AP )

Menteri Pendidikan Karnataka BC Nagesh yang mencicit perintah itu mengatakan, aturan berpakaian sekolah telah ditetapkan usai meninjau putusan pengadilan dari seluruh negeri untuk melarang hijab di institusi pendidikan.

Mahasiswa Muslim merasa kebebasan beragama yang tercantum dalam konstitusi India yang sekuler diserang. Upaya kelompok sayap kanan Hindu mencoba mencegah muslimah yang memakai hijab masuk ke ruangan kelas menyebabkan ketegangan massa.

Para siswa juga memakai selendang warna kuning kunyit yang biasanya dipakai kelompok sayap kanan Hindu. Ini bentuk dukungan pada larangan hijab.

Kelompok tandingan menggelar aksi, berkumpul di sekolah terkait di Karnataka untuk mendukung larangan hijab. Pada Selasa, pemerintah mengatakan akan menutup institusi pendidikan selama tiga hari. Langkah ini diambil untuk meredakan ketegangan kedua kelompok masyarakat.

Seorang mahasiswi, Ayesha, mengatakan, gurunya melarangnya ujian kimia karena ia memakai hijab. "Kami tidak melawan agama apa pun, kami tidak memprotes siapa pun, kami hanya menginginkan hak kami," katanya.

Sementara itu. video siswi berhijab diejek sekelompok ekstrem kanan Hindu India yang tersebar di Twitter menarik perhatian dunia. Peristiwa di sebuah kampus di Karnataka itu menambah ketegangan di sela unjuk rasa larangan memakai hijab di negara bagian sebelah selatan.

Dalam sebuah video terlihat Muskan Khan dikepung sejumlah pria yang mengibarkan selendang safron lambang kaum nasionalis Hindu ke arahnya saat ia baru tiba di kampusnya di Mandya. Khan mengatakan orang-orang itu dari luar kampus.

Larangan hijab memicu mahasiswa muslim marah karena merasa kebebasan beragama yang tercantum dalam konstitusi India yang sekuler diserang. Upaya kelompok sayap kanan Hindu mencoba mencegah muslimah yang memakai hijab masuk ke ruangan kelas menyebabkan ketegangan massa.

"Saya baru saja tiba untuk mengumpulkan tugas, itu mengapa saja datang ke kampus, mereka tidak mengizinkan saya masuk karena saya (memakai) burqa," kata Khan pada stasiun televisi NDTV, Rabu (9/2).

"Setelah itu mereka mulai meneriakkan slogan 'Jai Shri Ram' (Yang Mulia Ram), lalu saya mulai berteriak Allahu Akbar," katanya sambil menambahkan akan terus memperjuangkan haknya memakai hijab. "Sepuluh persen (pengunjuk rasa) berasal dari kampus tapi (sisanya) orang luar," kata Khan.

Pemerintah Negara Bagian Karnataka dikuasai partai sayap kanan Bharatiya Janata (BJP). Mereka mengatakan akan menutup institusi pendidikan selama tiga hari.

photo
Mahasiswi yang dilarang memasuki kelas mereka karena berhijab berbicara dengan kepala sekolah di kampus mereka di Udupi, India, Jumat (4/2). - (Bangalore News Photos via AP )

Ketegangan di Karnataka yang menaungi pusat teknologi India, Bengaluru, memicu kekhawatiran di masyarakat minoritas muslim mengenai semakin buruknya persekusi yang dilakukan pemerintah nasionalis Hindu Perdana Menteri Narendra Modi. Dalam unjuk rasa terbaru polisi melepaskan tembakan gas air mata untuk membubarkan massa.

Sementara terlihat banyak sekolah di kota-kota sekitar yang dijaga ketat polisi. Ketua Menteri atau kepala kabinet Karnataka yang berasal dari BJP Basavaraj Bommai meminta masyarakat tenang. Ia mengumumkan semua sekolah di negara bagian itu ditutup selama tiga hari.

"Saya meminta semua mahasiswa, guru dan manajemen sekolah dan kampus, untuk menjaga perdamaian dan harmoni," katanya. Bulan lalu para siswi di sekolah menengah atas negeri diminta tidak memakai hijab. Kemudian kelompok sayap kanan Hindu mencegah perempuan muslim masuk ke institusi pendidikan di negara bagian itu.

Pada 5 Februari lalu Pemerintah Karnataka yang 12 persen populasinya muslim mengeluarkan perintah semua sekolah mengikuti aturan seragam yang ditetapkan manajemen. Menteri Pendidikan Karnataka BC Nagesh yang mencicit perintah itu mengatakan aturan berpakaian sekolah telah ditetapkan usai meninjau putusan pengadilan dari seluruh negeri untuk melarang hijab di institusi pendidikan.

photo
Muslimah India membentuk rantai melindungi Masjid Jama di New Delhi, India pada Januari 2020 lalu. Mereka kala itu memprotes undang-undang kewarganegaraan yang mendiskriminasi Muslim. (AP Photo/Manish Swarup) - (AP)

Ketegangan antara mahasiswa muslim dan Hindu mulai terasa di kampus-kampus. Mereka mengatakan ketegangan mengganggu pendidikan mereka. Pekan lalu media setempat melaporkan dengan mengutip perintah negara bagian sejumlah sekolah di Kota Udupi melarang murid perempuan memakai hijab. Larangan ini memicu protes dari siswi dan orang tua.

"Tiba-tiba mereka semua mengatakan jangan memakai hijab, kenapa dimulai dari sekarang?" kata Ayesha, remaja yang bersekolah di Mahatma Gandhi Memorial College di Udupi. Ayesha mengatakan gurunya melarangnya ujian kimia karena ia memakai hijab. "Kami tidak melawan agama apa pun, kami tidak memprotes siapa pun, kami hanya menginginkan hak kami," katanya.

Dalam beberapa hari belakangan ketegangan semakin memanas di Udupi dan di wilayah lain di Karnataka yang mayoritas penduduknya Hindu. Para siswa memakai selendang warna kuning kunyit yang biasanya dipakai kelompok sayap kanan Hindu. Sebagai bentuk dukungan pada larangan hijab.

Seorang siswa bernama Amrut berdiri di dekat kerumunan anak-anak laki-laki Hindu yang memakai kain itu. Ia mengatakan ketegangan ini berdampak padanya dengan tidak adil karena ia tidak bisa datang ke kelas. "Kami meminta mereka tidak memakai hijab, tapi hari ini mereka memakai hijab, mereka tidak mengizinkan kami masuk," katanya.

Tokoh pendidikan anak perempuan Malala Yousafzai mengatakan larangan hijab ini mengerikan. “Objektifikasi wanita terus terjadi, memakai pakaian lebih atau kurang, pemimpin India harus berhenti memarjinalisasi perempuan Muslim," kata Yousafzai di Twitter.

Kritikus mengatakan terpilihnya Narendra Modi sebagai presisden pada 2014 membuat supremasi Hindu semakin berani. Mereka kelompok yang melihat India sebagai negara Hindu dan ingin merusak pondasi sekuler negara itu dengan menekan 200 juta penduduk Muslimnya.

Partai oposisi dan kritikus mengatakan pemerintah BJP di federal maupun negara bagian telah mendiskriminasi kelompok minoritas dan beresiko mendorong memicu kekerasan. Modi membela diri dengan mengatakan kebijakan ekonomi dan sosialnya bermanfaat bagi semua orang India.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat