Pekerja yang mendapatkan Manfaat Layanan Tambahan (MLT) dari program Jaminan Hari Tua (JHT) menyelesaikan proses administrasi saat proses akad kredit massal di Serpong, Tangerang (30/11). Bank BTN berkolaborasi dengan Kementerian Ketenagakerjaan dan BP | Tahta Aidilla/Republika

Ekonomi

09 Feb 2022, 16:46 WIB

Laba Bersih BTN Rp 2,37 Triliun pada 2021

BTN menargetkan pertumbuhan kredit sekitar 9-11 persen pada tahun ini.

JAKARTA  — PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk meraup laba bersih Rp 2,37 triliun sepanjang 2021. Realisasi laba bersih tersebut naik 48,3 persen dibandingkan sepanjang 2020 yang hanya Rp 1,6 triliun. 

Direktur Utama BTN Haru Koesmahargyo mengatakan, kenaikan laba bersih BTN ditopang penyaluran kredit yang tumbuh 5,66 persen, dari Rp 260,11 triliun pada 2020 menjadi Rp 274,83 triliun pada 2021.

“Pertumbuhan kredit tersebut disertai dengan penurunan non-performing loan (NPL) gross BTN sebesar 3,70 persen pada 2021, berkurang jauh dari 2020 yang berkisar 4,37 persen. NPL nett juga membaik, dari 2,06 persen pada 2020 menjadi 1,20 persen pada 2021,” kata Haru saat pemaparan kinerja BTN 2021 secara virtual, Selasa (8/2).

Menurut Haru, pertumbuhan kredit BTN membuktikan sektor perumahan terbukti cukup tangguh dalam melewati masa krisis ekonomi akibat pandemi. Pembiayaan pemilikan rumah tetap mengalir sekalipun daya beli konsumen relatif turun. 

“Ini terbukti dari penyaluran kredit perseroan pada 2021 yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan 2020 dan berada di atas rata-rata kredit industri perbankan pada kisaran 5,24 persen,” ujar Haru.

Haru menyebutkan, berbagai insentif yang diberikan pemerintah berhasil menjaga daya beli konsumen, sehingga permintaan kredit rumah tetap meningkat. Ia optimistis, saat perekonomian Indonesia pulih dan pandemi berlalu sepenuhnya, permintaan KPR  dapat meningkat lebih tinggi.

Sepanjang periode 2019-2020, saat perekonomian nasional terhimpit krisis dan penyaluran kredit industri perbankan mengalami kontraksi 2,5 persen. Haru mengatakan, BTN tercatat sebagai satu dari sedikit bank yang berhasil membukukan pertumbuhan kredit. 

Haru mengatakan, kredit pemilikan rumah (KPR) subsidi masih menjadi penopang utama pertumbuhan kredit BTN dengan kenaikan sebesar 8,25 persen menjadi Rp 130,68 triliun pada 2021 dibandingkan 2020 sebesar Rp 120,72 triliun. Sedangkan, KPR nonsubsidi juga turut menunjukkan kenaikan level 4,14 persen menjadi Rp 83,25 triliun pada 2021 dibandingkan 2020 sebesar Rp 79,93 triliun. 

Haru menegaskan, sisi kecukupan likuiditas BTN cukup sehat. Tercatat loan to deposit ratio (LDR) berada level pada 92,86 persen atau membaik dari posisi tahun lalu, yakni 93,19 persen. 

“Angka ini lebih baik dari LDR perseroan 2018 dan 2019 yang masing-masing sebesar 103,49 persen dan 113,5 persen. LDR tahun lalu merupakan LDR terendah sepanjang lima tahun terakhir,” kata Haru.

Wakil Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, BTN menargetkan pertumbuhan kredit sekitar 9-11 persen pada tahun ini. Target tersebut lebih tinggi dari capaian tahun sebelumnya, yakni 5,6 persen.

Nixon menyebutkan, sepanjang tahun lalu, penyaluran kredit sebesar Rp 274,83 triliun. Angka tersebut tumbuh 5,66 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 260,11 triliun.

“Dana pihak ketiga (DPK) juga diproyeksikan tumbuh sejalan pertumbuhan kredit sembilan persen sampai 11 persen pada 2022. Margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) ditargetkan sebesar empat persen lebih dan biaya dana atau cost of fund (CoF) akan dijaga di bawah 3,2 persen,” kata Nixon.

Kinerja BTN Syariah

Unit Usaha Syariah (UUS) BTN juga mencatatkan kinerja positif. Laba bersih BTN Syariah sebesar Rp 185,20 miliar pada 2021, naik 37,33 persen dibandingkan laba bersih sepanjang 2020 yang sebesar Rp 134,86 miliar.

Realisasi laba bersih didukung pertumbuhan bisnis yang stabil. Pada akhir 2021 tercatat pembiayaan syariah tumbuh 9,93 persen menjadi Rp 27,55 triliun dibandingkan 2020 sebesar Rp 25,06 triliun. 

“Kualitas pembiayaan BTN Syariah juga terus membaik dengan non-performing financing (NPF) gross sebesar 4,32 persen pada 2021 dari sebelumnya 6,53 persen pada 2020,” kata Haru.

BTN Syariah juga menghimpun DPK sebesar Rp 29,26 triliun pada 2021 atau naik 22,79 persen dari Rp 23,83 triliun pada 2020. Dengan capaian tersebut, aset UUS BTN tumbuh 16,14 persen menjadi Rp 38,36 triliun pada 2021 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 33,03 triliun. 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Bank Tabungan Negara (bankbtn)


×