Pegiat UMKM melakukan unjuk rasa dengan mencukur rambut guna memprotes kebijakan pandemi di Seoul, Korea Utara, Selasa (25/1/2022). | AP/Ahn Young-joon

Internasional

WHO: Terlalu Dini Nyatakan Menang Atas Pandemi Covid-19

Masih terlalu dini bagi negara mana pun untuk menyerah atau menyatakan kemenangan atas pandemi Covid-19..

JENEWA – Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus memperingatkan negara-negara agar tak menyatakan keberhasilan atau kemenangan atas penanganan pandemi Covid-19. Menurutnya, hal itu masih terlalu dini untuk dilakukan.

“Masih terlalu dini bagi negara mana pun untuk menyerah atau menyatakan kemenangan (atas pandemi). Virus ini berbahaya, dan terus berkembang di depan mata kita,” kata Ghebreyesus kepada awak media di kantor WHO di Jenewa, Swiss, Selasa (1/2).

Dia mengaku khawatir atas narasi di beberapa negara yang menyepelekan tingkat penularan Covid-19, terutama varian Omicron. “Narasi telah terjadi di beberapa negara bahwa karena vaksin dan karena transmisi Omicron yang tinggi serta tingkat keparahan yang lebih rendah, mencegah penularan tidak mungkin lagi, dan tidak lagi diperlukan,” ucapnya.

Dia menekankan, semakin banyak atau tinggi penularan Covid-19, berarti membuka kemungkinan lebih besar bagi peningkatan angka kematian. “Tidak ada yang lebih jauh dari kebenaran,” ujar Ghebreyesus.

Ia mengingatkan, sejak Omicron pertama kali terdeteksi di negara Afrika bagian selatan 10 pekan lalu, hampir 90 juta kasus sudah dilaporkan ke WHO. Angka itu lebih banyak dibandingkan tahun 2020. Oleh sebab itu, dia menegaskan, upaya menghentikan rantai penularan masih sangat penting.

“Kami tidak menyerukan negara mana pun untuk kembali ke apa yang disebut lockdown. Kami menyerukan semua negara untuk melindungi rakyat mereka menggunakan setiap alat di kotak peralatan, bukan vaksin saja,” kata Ghebreyesus.

Ghebreyesus pun menekankan perlunya terus melacak varian Covid-19 yang muncul, termasuk sub-garis keturunan Omicron, yakni BA-2. “Virus ini akan terus berkembang, itulah sebabnya kami meminta negara-negara untuk melanjutkan pengujian, pengawasan, dan pengurutan. Kita tidak bisa melawan virus ini jika kita tidak tahu apa yang dilakukannya,” ucapnya.

Denmark dilaporkan mulai mencabut sejumlah larangan terkait Covid-19 mulai Rabu (2/2). Salah satunya, pemakaian masker tak lagi diwajibkan. Denmark menilai Covid-19 tidak lagi berstatus "penyakit kritis masyarakat". Kebijakan ini diberlakukan meski belakangan kasus harian melebihi 46 ribu kasus.

Sedangkan foto menunjukkan wisawatan mengunjungi Temple of Dawn di Bangkok, Thailand, Selasa. Ini bagian dari uji coba program "Test and Go", yaitu menyambut kedatangan pengunjung dari negara mana pun asalkan sudah divaksin penuh. Kebijakan itu  dikombinasikan dengan langkah ekstra untuk mengendalikan laju penularan di tengah penyebaran varian omikron. 

Sampah pandemi

WHO juga mengatakan jumlah besar sampah yang terakumulasi sebagai bagian dari upaya untuk mengatasi pandemi Covid-19  menimbulkan ancaman bagi kesehatan manusia dan lingkungan. 

Dilansir dari Aljazirah pada Rabu (2/2), jarum suntik bekas, alat uji bekas dan botol vaksin tua telah menumpuk untuk menghasilkan puluhan ribu ton limbah medis, memberikan tekanan besar pada sistem pengelolaan limbah perawatan kesehatan. Sebagian besar dari 87 ribu ton alat pelindung diri (APD) yang dipesan melalui portal PBB antara Maret 2020 dan November 2021 berakhir sebagai sampah.

Selain itu, lebih dari 140 juta alat uji telah dikirim, dengan potensi menghasilkan 2.600 ton terutama plastik dan limbah kimia yang cukup untuk mengisi sepertiga kolam renang Olimpiade. Sekitar delapan miliar dosis vaksin yang diberikan secara global juga diperkirakan telah menghasilkan tambahan 144 ribu ton limbah dalam bentuk botol kaca, jarum suntik, jarum dan kotak pengaman.

Sementara WHO tidak merekomendasikan penggunaan sarung tangan untuk suntikan vaksin. Diperkirakan setiap petugas kesehatan membuang rata-rata 50 pasang sarung tangan per minggu ke dalam sistem pembuangan umum.

“Sangat penting untuk menyediakan APD yang tepat bagi petugas kesehatan.  Tetapi juga penting untuk memastikan bahwa itu dapat digunakan dengan aman tanpa berdampak pada lingkungan sekitar,” kata Direktur Kedaruratan WHO Michael Ryan.

Kemudian, ia melanjutkan bahan yang dibuang menimbulkan potensi bahaya bagi petugas kesehatan untuk luka bakar, yang terkena luka tusukan jarum dan kuman penyebab penyakit serta masyarakat yang dekat dengan tempat pembuangan sampah yang tidak dikelola dengan baik. 

"Hal ini dapat terpengaruh melalui udara yang terkontaminasi dari pembakaran sampah, miskin  kualitas air atau hama pembawa penyakit," kata dia.

Diketahui, Badan kesehatan PBB itu menyerukan reformasi dan investasi tambahan, termasuk melalui pengurangan penggunaan kemasan, penggunaan APD secara lebih rasional dan investasi pada teknologi pengolahan limbah non-bakar.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat