Sejumlah cosplayer menghibur pengunjung di kawasan Asia Afrika, Kota Bandung, Sabtu (29/1/2022). Berdasarkan data dari Global Initiative On Sharing All Influenza Data (GISAID) hingga Jumat (28/1/2022), kasus Covid-19 varian Omicron (B.1.1.529) di Indonesi | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Nasional

31 Jan 2022, 03:45 WIB

Pemerintah Harus Antisipasi Penyebaran Subvarian Omikron

Penambahan harian kasus Covid-19 di Indonesia tembus angka 12 ribu pada Ahad (30/1).

JAKARTA – Pemerintah harus mengantisipasi penyebaran subvarian omikron, yaitu BA.2, yang sudah masuk ke Indonesia. Sebab, jika penyebaran subvarian ini tidak terkendali, ada potensi melahirkan varian baru yang berbahaya. 

“Misalnya ada varian omicron dan delta bisa jadi rekombinan. Itu berbahaya,” ujar epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman saat dihubungi Republika, Ahad (30/1).

Menurutnya, setiap variant of concern bisa melahirkan mutasi. Ia menambahkan, varian delta juga memiliki subvarian. Bahkan, dia melanjutkan,  ada 28 mutasi berbeda dari subvarian BA.2. 

Dicky menyebutkan, kecepatan penularan BA.2 setidaknya dua kali lebih cepat dibandingkan subvarian omikron yang lain, yakni BA.1, yang saat ini dominan di Indonesia. Di sisi lain, ia mendorong pemerintah untuk tidak hanya melihat satu atau dua varian.

"Jangan hanya melihat satu atau dua varian saja, melainkan juga potensi varian yang ada atau baru muncul, baik di dalam maupun luar negeri yang juga harus jadi pertimbangan," katanya.

Ia merekomendasikan pemerintah untuk memilih masa karantina dengan teknik terbaik atau gold standar. Dia melanjutkan, jika Indonesia semakin abai baik dalam pengendalian di pintu masuk negara maupun di dalam negeri, potensi melahirkan varian yang semakin merugikan Tanah Air juga besar. 

Pemerintah juga harus terus menambah cakupan vaksinasi Covid-19. Dicky juga menyoroti keterbatasan Indonesia dalam mendeteksi varian Covid-19.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memastikan turunan varian omikron BA.2 alias 'Son of Omicron' sudah ada di Indonesia. Budi mengatakan, telah ditemukan setidaknya 10 kasus dari subvarian omikron di Indonesia. 

Menurut Budi, subvarian omikron ini lebih sulit dideteksi menggunakan tes PCR S Gene Target Failure (SGTF) yang selama ini digunakan untuk skrining kasus omikron di Indonesia. Namun, ia memastikan, Indonesia bakal segera memiliki fasilitas untuk mendeteksi kedua varian tersebut. 

Penambahan harian kasus Covid-19 di Indonesia tembus angka 12 ribu, persisnya 12.422 kasus, pada Ahad (30/1). Lebih dari separuh kasus tersebut disumbang oleh Provinsi DKI Jakarta. Mengutip data Satuan Tugas Penanganan Covid-19, DKI Jakarta menyumbang 6.613 kasus. Penyumbang kedua terbanyak adalah Jawa Barat dengan 2.584 kasus, lalu disusul Banten dengan 1.740 kasus. 

Dengan tambahan 12.422 kasus baru ini, secara akumulatif Indonesia sudah mencatatkan 4.343.185 kasus Covid-19. 

Sementara itu, pasien Covid-19 yang dinyatakan sembuh secara akumulatif mencapai 4.137.164 orang. Bertambah 3.241 orang dibanding sehari sebelumnya. Tambahan pasien sembuh paling banyak juga disumbang oleh DKI Jakarta dengan 2.008 orang, lalu Jawa Barat (535), dan Banten (287). 

Adapun kasus kematian akibat infeksi virus corona ini juga bertambah 18, dengan 12 di antaranya merupakan pasien di DKI Jakarta. Secara akumulatif, total sudah ada 144.303 orang yang meninggal akibat virus ini di Indonesia. 

Pada Kamis (27/1), Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut kenaikan kasus terjadi karena merebaknya virus corona varian omicron. Varian ini diketahui menular lebih cepat dibandingkan varian sebelumnya. 

Hari ini, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria menyampaikan, kasus Covid-19 dengan varian Omicron telah mencapai 2.526 di wilayahnya. Dia bilang, transmisi lokal virus Covid-19 varian teranyar itu sudah mencapai 45,6 persen, dan diprediksi bakal melebihi transmisi dari luar negeri.


×