Petugas kesehatan melakukan sweb tes antigen kepada guru di SMPN 3 Kota Kediri, Jawa Timur, Senin (24/1/2022). Pemerintah Kota Kediri melakukan sweb tes antigen secara acak kepada 400 siswa dan guru di sejumlah sekolah tingkat SD hingga SMA guna mendeteks | ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/hp.

Kisah Dalam Negeri

28 Jan 2022, 03:50 WIB

Membedakan ‘Rasa’ Flu dan Omikron

Gejala varian omikron sangat variatif dan berbeda pada setiap orang yang terinfeksi.

OLEH DIAN FATH RISALAH, RAHMA SULISTYA

Sebagian orang yang terinfeksi Covid-19 karena varian omikron memang tak merasakan gejala. Namun, jumlah yang mengeluhkan gejala juga tak bisa dibilang sedikit meski gejala yang terasa terbilang ringan.

Gejala-gejala yang dirasakan pasien terkonfirmasi positif varian omikron umumnya mirip seperti gejala flu. Lantas, bagaimana kita membedakannya?

Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Infeksi Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PP PDPI) Erlina Burhan mengatakan, meski memiliki gejala yang hampir sama dengan flu biasa, infeksi varian omikron memiliki karakteristik berbeda yang perlu diwaspadai. Terdapat gejala yang menjadi pembeda flu dan varian omikron, yaitu nyeri dan gatal di tenggorokan.

Kedua gejala tersebut biasanya tidak dialami oleh mereka yang terkena flu. “Gejala yang sering dirasakan pasien omikron adalah batuk kering, nyeri tenggorokan, tenggorokan gatal, merasa kelelahan dan mudah lelah, hidung tersumbat atau pilek, demam, nyeri kepala, kadang mual atau muntah, sesak napas, dan meskipun jarang ada juga yang mengalami diare,” kata Erlina, Kamis (27/1). 

photo
Petugas kesehatan melakukan tes usap PCR kepada warga di RT 05 Desa Sukaurip, Balongan, Indramayu, Jawa Barat, Selasa (25/1/2022). Sejumlah warga mengikuti tes usap PCR setelah salah satu warga di RT tersebut dinyatakan positif Covid-19. - ( ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/rwa.)

Juru Bicara Satgas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) itu mengatakan, meskipun terkesan ringan, berbagai data melaporkan perburukan gejala yang memerlukan perawatan, seperti demam tinggi dan sesak napas berat pada kelompok lanjut usia dengan komorbiditas, termasuk pada anak-anak. Karena itu, tidak ada alasan untuk menyepelekan omikron. 

Erlina menambahkan, gejala varian omikron memang sangat variatif dan berbeda pada setiap orang yang terinfeksi. “Orang flu tetap leluasa ke sekolah, bekerja, ke toko, ke mal, naik bus tanpa masker. Orang flu biasa tanpa masker, tetapi ini berbeda dengan omikron. Apalagi mudah menular dan bisa berat juga (gejalanya),” ujar Erlina.

Berdasarkan laporan dari 43 kasus omikron di Amerika Serikat pada 1-8 Desember 2021, sebanyak 37 pasien simptomatik atau bergejala yang mengalami batuk sebesar 89 persen, fatigue 65 persen, hidung tersumbat 59 persen, demam 38 persen, mual atau muntah 22 persen, sesak napas 16 persen, diare 11 persen, dan anosmia 8 persen.

Sementara itu, berdasarkan pengamatan pada 17 pasien probable omikron dan positif omikron di RSUP Persahabatan, kata Erlina, sebanyak 65 persen bergejala ringan, batuk kering 63 persen, nyeri tenggorokan 54 persen, pilek 27 persen, sakit kepala 36 persen, demam 18 persen.

 
Ada satu hal paling utama yang bisa membedakan omikron dengan flu biasa, yakni gejala anosmia atau tidak mampu mencium.
 
 

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Siti Nadia Tarmizi mengatakan, ada satu hal paling utama yang bisa membedakan omikron dengan flu biasa, yakni gejala anosmia atau tidak mampu mencium. Flu, kata dia, tidak menyebabkan anosmia atau kehilangan penciuman, tapi gejala tersebut juga jarang terjadi dalam kasus omikron.

Dokter di Amerika Serikat telah mengonfirmasi, orang yang tidak divaksinasi maupun yang sudah divaksinasi lengkap dapat tertular varian omikron. Omikron memiliki kemampuan untuk menyebar ke individu yang sudah divaksinasi dan tidak divaksinasi. Namun, hasil penelitian menunjukkan, mereka mengalami gejala yang sangat berbeda. 

Seorang profesor di New York University Meyers College of Nursing, Maya N Clark-Cutaia, mengatakan, orang yang sudah divaksinasi dan terinfeksi omikron cenderung mengeluhkan sakit kepala, nyeri tubuh, dan demam. “Seperti pilek yang sangat parah,” kata dia, dilansir dari Best Life Online, Kamis (27/1).

Namun, pada orang yang tidak mendapatkan vaksin, infeksi omikron membuat mereka mengalami sesak napas, batuk, dan gejala mirip flu lainnya.

Direktur Kesehatan Global dalam Pengobatan Darurat di New York-Presbyterian dan Columbia University Medical Center, Craig Spencer, mengatakan, orang yang telah di-booster juga mungkin mengalami sakit tenggorokan. Sedangkan, mereka yang diberi dua dosis mungkin mengalami kelelahan dan batuk. “Tapi, tidak ada yang sesak napas,” kata dia.

Hilangnya indra penciuman dan perasa adalah gejala yang kurang umum pada omikron. Efeknya juga melemah karena gejalanya kian berkurang, misalnya sudah jarang yang mengeluhkan demam. 

“Saya pikir apa yang kami alami adalah sama seperti orang-orang yang sudah divaksinasi atau sudah di-booster. Kami tidak melihat banyak yang mengalami demam, jika ada, itu adalah orang yang belum divaksinasi,” kata Kepala Penyakit Menular di Penn Presbyterian Medical Center Judith O’Donnell.

Ia mengatakan, orang yang telah divaksinasi tapi memiliki gejala pilek, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, tapi tidak mengalami demam kemungkinan terinfeksi Covid-19. 

Namun, banyak dokter mengatakan, perbedaan terbesar efek infeksi omikron di antara orang yang divaksinasi dan tidak divaksinasi bukanlah jenis gejalanya, melainkan tingkat keparahan gejalanya. Orang yang tidak divaksinasi kemungkinan akan mengalami gejala selama lima hari atau lebih. Sementara itu, mereka yang sudah divaksinasi lengkap mungkin hanya memiliki gejala selama satu atau dua hari. 

“Pada orang yang tidak divaksinasi, omikron menyebabkan pneumonia. Mereka datang (di unit gawat darurat) dengan sesak napas karena pneumonia, seperti yang terjadi pada gelombang sebelumnya dan varian sebelumnya,” kata O’Donnell.


×