Warga melihat kondisi rumah yang rusak akibat gempa di Kadu Agung Timur, Lebak, Banten, Jumat (14/1/2022). Gempa berkekuatan 6,7 SR tersebut mengakibatkan sejumlah rumah rusak. | ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/rwa.

Nasional

18 Jan 2022, 03:29 WIB

BMKG: Banyaknya Gempa Susulan tak Mengarah ke Gempa Besar

Pemda setempat berupaya menggerakkan bantuan untuk membantu warga terdampak gempa.

JAKARTA -- Koordinator Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono menjelaskan bahwa banyaknya gempa susulan tidak berarti akan mengarah pada kejadian gempa besar. Pernyataan Daryono ini menyikapi aktivitas kegempaan seusai gempa magnitudo 6,6 di Banten pada Jumat (14/1).

"Gempa susulan jika banyak terjadi, tidak mengarah pada kejadian gempa besar, tetapi meluruh dan tidak terjadi lagi," ujar Koordinator Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono ketika dihubungi dari Jakarta pada Senin (17/1).

Dia menjelaskan, gempa susulan biasanya terjadi memiliki kekuatan atau magnitudo yang lebih kecil dari gempa utama. Gempa susulan juga akan semakin mengecil kekuatannya dan semakin jarang terjadi.

"Jadi, makin lama akan main mengecil kekuatannya dan makin jarang terjadi hingga kemudian stabil dan normal kembali," katanya.

Indonesia dalam beberapa waktu terakhir mengalami beberapa kali gempa bumi, yaitu gempa bumi magnitudo 6,6 pada Jumat lalu (14/1), yang memiliki episenter 53 kilometer barat daya Sumur di Kabupaten Pandeglang, Banten, dengan kedalaman 40 kilometer.

BMKG mencatat sampai dengan esok harinya sampai dengan pukul 12.00 WIB terjadi 33 kali aktivitas gempa susulan usai gempa utama. Sehari setelahnya, pada Sabtu (15/1), juga terjadi gempa bumi magnitudo 4,1 dengan pusat gempa 23 kilometer tenggara Bangkalan di Jawa Timur pada kedalaman 14 kilometer.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by DARYONO BMKG (daryonobmkg)

Gempa kemudian kembali terjadi pada Senin ini, pukul 07.25 WIB, dengan magnitudo 5,4 dan pusat gempa berada di laut 84 kilometer barat daya Bayah, Banten. Daryono memastikan, ketiga gempa itu tidak memiliki keterkaitan satu dengan lainnya mengingat Indonesia memiliki sumber gempa yang banyak, yaitu lebih dari 295.

"Jika terjadi gempa berdekatan jaraknya atau waktunya berdekatan itu faktor kebetulan saja, tidak ada hubungannya. Tidak ada saling picu dan tidak ada rambatan gempa," ujarnya.

Adapun kerusakan rumah di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, akibat gempa tektonik berkekuatan 6,6 yang terjadi Jumat (14/1), bertambah menjadi 2.224 unit. Sebelumnya, tercatat sebanyak 1.909 unit rumah rusak tersebar di 30 kecamatan dan 167 desa.

"Kami masih melakukan pendataan jumlah rumah yang rusak itu, " kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD) Pandeglang Girgi Jantoro, di Pandeglang, Senin.

Bencana gempa bumi di Kabupaten Pandeglang itu, hingga kini tidak ditemukan korban jiwa, tetapi dua warga mengalami luka-luka akibat tertimpa puing bangunan rumah. Kini, kedua orang itu sudah kembali pulih setelah menjalani perawatan medis di puskesmas setempat.

Sumber : Antara


×