Warga antre membeli minyak goreng dan gula saat operasi pasar di Pasar Kreneng, Denpasar, Bali, Kamis (13/1/2022). Operasi pasar oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Bali, Bulog dan Polda Bali itu diselenggarakan untuk menjaga k | ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/rwa.

Kabar Utama

14 Jan 2022, 03:10 WIB

Warga Berburu Minyak Goreng Murah

Operasi pasar minyak goreng murah mulai digencarkan sejumlah pemerintah daerah.

BANDUNG -- Operasi pasar (OP) minyak goreng murah mulai digencarkan sejumlah pemerintah daerah. Warga pun berbondong-bondong menyerbu lokasi OP untuk mendapatkan minyak goreng seharga Rp 14 ribu per liter. 

Hal tersebut seperti yang terlihat dalam pelaksanaan OP minyak goreng di Taman Dewi Sartika, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (13/1). Operasi pasar itu digelar Dinas Perdagangan dan Perindustrian Pemerintah Provinsi Jawa Barat  bekerja sama dengan Pemerintah Kota Bandung. 

Operasi pasar di Taman Dewi Sartika digelar dengan menggunakan sebuah tenda. Meski harus mengantre, warga tak mempermasalahkan itu demi mendapatkan minyak goreng murah. 

Dewi, salah seorang warga asal Jalan Cagak, Kota Bandung, mengatakan, dirinya sengaja datang ke Taman Dewi Sartika untuk membeli minyak goreng murah. Ia membeli sebanyak 2 liter minyak goreng dalam operasi pasar tersebut. "Lumayan, ada operasi minyak goreng murah. Harga (minyak) lagi mahal sekarang," kata Dewi, Kamis (13/1).

Dewi merasa terbantu dengan adanya penjualan minyak goreng murah. Ia berharap harga minyak goreng cepat turun agar tidak membebani masyarakat.

Hal serupa disampaikan Citra, warga Cibeunying Kidul, yang turut mencari minyak goreng murah dalam operasi pasar. Citra sangat berharap pemerintah bisa secepatnya menurunkan harga minyak goreng.

photo
Warga membeli minyak goreng di Kios Segoro Amarta, Pasar Kranggan, Yogyakarta, Kamis (13/1/2022). Kios pengendali harga pasar ini merupakan kerjasama dari Bulog dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Yogyakarta. Fungsi kios ini untuk menjaga inflasi daerah di bawah empat persen. Beras, minyak goreng, tepung terigu, dan gula menjadi produk yang diburu warga saat ini karena harga yang lebih rendah dari pasaran. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Menurut Citra, harga minyak goreng di pasar masih sangat mahal, yaitu mencapai Rp 23 ribu per liter. Sebagai pedagang, ia merasa terbantu oleh operasi pasar minyak goreng murah. "Kalau di sini (operasi pasar—Red), harganya Rp 14 ribu. Saya yang jualan, seenggaknya ada keuntungan, enggak mencekik," katanya.

Ia mengatakan, kenaikan harga minyak goreng mulai terasa beberapa bulan lalu. Bahkan, ia sempat tidak berjualan karena lebih sering mengalami kerugian. "Saat harga dinaikkan, pembeli kabur," katanya yang sehari-hari berjualan makanan ringan.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan, operasi pasar minyak goreng akan diperluas dari saat ini di 11 kota/kabupaten menjadi 27 kota/kabupaten di Jawa Barat. Ia menuturkan, penyaluran minyak goreng dilakukan dengan berbagai cara untuk mengantisipasi kerumunan. "Ada dipusatkan di titik tertentu dan ada dikirim melalui kelurahan, sehingga warga cukup datang ke kantor desa kelurahan. Nanti di desa dilaksanakan operasi pasar," katanya.

Pria yang akrab disapa Emil ini mencontohkan, penyaluran minyak goreng melalui kelurahan dilakukan di Kota Bandung dengan tujuan meminimalkan potensi kerumunan. Ia berharap operasi pasar yang didukung Kementerian Perdagangan terus berlanjut karena harga minyak goreng masih mahal.

"Pantauan di lapangan, Rp 40 ribu per 2 liter. Diharapkan bisa kembali normal di level Rp 14 (ribu) sampai Rp 15 ribu per liter," katanya. 

Di Kota Bogor, operasi pasar minyak goreng dilakukan sebanyak tiga kali pada pekan ini. Kepala Dinas Perdagangan Industri dan KUKM Kota Bogor Ganjar Gunawan mengatakan, operasi pasar telah dimulai sejak Rabu (12/1). “Pelaksanaannya melibatkan beberapa produsen minyak goreng yang menjadi mitra Kementerian Perdagangan dan Disperindag Provinsi Jawa Barat,” kata Ganjar.

Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Dalam Negeri, Perlindungan Konsumen, dan Tertib Niaga Pemerintah Kota Bogor, Mohamad Soleh, mengatakan,  operasi pasar dengan 6.000 liter minyak goreng sudah digelar di Kecamatan Tanah Sareal pada Rabu. Adapun pada Kamis (13/1), operasi pasar dilakukan di Kecamatan Bogor Utara juga dengan minyak sebanyak 6.000 liter, lalu pada Jumat (14/1) dilaksanakan di Kecamatan Bogor Barat sebanyak 7.200 liter.

“Untuk pekan depan, pelaksanaan operasi pasar dilaksanakan di dua  pasar, yakni Pasar Kebon Kembang dan Pasar Bogor dengan kapasitas sampai dengan 40 ribu liter,” kata Soleh.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Perum BULOG (perum.bulog)

Di Jawa Timur, Pemerintah Kota Surabaya menggelontorkan 14.400 ribu liter minyak goreng melalui operasi pasar pada Rabu kemarin. Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan Kota Surabaya Fauzie Mustaqiem mengatakan, operasi pasar dilakukan hingga beberapa hari ke depan. 

Operasi pasar minyak goreng antara lain dilaksanakan di Jalan Tambak Dukuh 1, RW 9, Kelurahan Kepasari, Kecamatan Genteng, dan Balai RW 3 di Jalan Peneleh Gang 3, Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Surabaya.

Fauzie mengatakan, dalam operasi pasar, pihaknya bekerja sama dengan produsen atau distributor dari PT Mega Suryamas yang menyediakan 8.400 liter minyak goreng dan PT Smart sebanyak 6.000 liter. "Jadi, kami di-support oleh mereka, makanya harganya hanya Rp 14 ribu," kata Fauzie. 

Ia menjelaskan, operasi pasar dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Surabaya, terutama yang terdampak langsung kenaikan harga minyak goreng, seperti para pelaku usaha kecil dan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). "Makanya kami batasi juga pembeliannya, maksimal setiap orang membeli 2 liter. Masing-masing pembeli juga harus membawa dan menyerahkan salinan KTP supaya tidak ada yang dobel pembeliannya." 

Salah satu warga Tembok Dukuh, Nuraini, bersyukur karena adanya operasi pasar minyak goreng. Dia mengatakan, operasi pasar sangat bermanfaat, apalagi harga minyak goreng terus merangkak naik. "Alhamdulillah, ada operasi pasar semacam ini, jadi lebih ringan," katanya. 

Harus diperbanyak

Operasi pasar menjadi strategi pemerintah untuk menekan harga minyak goreng. Kementerian Perdagangan sebelumnya menyatakan, pemerintah menyiapkan 1,2 miliar liter minyak goreng bersubsidi selama enam bulan ke depan. 

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rusli Abdullah menyarankan agar pemerintah memperbanyak jumlah minyak goreng bersubsidi. Menurut dia, jumlah yang tengah disiapkan pemerintah tidak akan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat. 

"Operasi pasar bisa menurunkan harga, tapi apakah itu cukup? Perhitungan kami, itu tidak cukup," kata Rusli saat dihubungi Republika, kemarin.

 
Operasi pasar bisa menurunkan harga, tapi apakah itu cukup? Perhitungan kami, itu tidak cukup.
 
 

Rusli menjabarkan, rata-rata konsumsi minyak goreng mencapai 0,94 liter per kapita per bulan. Dengan asumsi jumlah penduduk 238,9 juta penduduk usia 5-70 tahun yang memungkinkan mengonsumsi makanan goreng, maka dibutuhkan sedikitnya 1,35 miliar liter selama enam bulan.

Adapun untuk menutup selisih harga minyak goreng yang ditanggung pemerintah untuk membayar minyak goreng agar dijual Rp 14 ribu per liter, nilainya bisa mencapai Rp 4,04 triliun. Namun, dana yang disiapkan pemerintah sekitar Rp 3 triliun atau cukup untuk 1,2 miliar liter. "Artinya, kurang 150 juta liter untuk enam bulan," kata Rusli.

Soal langkah lain yang lebih mendasar untuk dapat menurunkan harga minyak goreng, Rusli menilai pemerintah perlu memberikan subsidi secara langsung kepada produsen, bukan distributor. Pabrikan yang telah memiliki fasilitas pengemasan tentu akan dengan mudah menjalankan program subsidi. 

Untuk pabrik yang masih murni memproduksi minyak curah, ia berharap mereka dapat terdorong untuk melengkapi fasilitas pengemasan minyak goreng. "Saya kira itu langkah yang ideal," katanya.


Ironi Harga Minyak Goreng

Bukan saatnya lagi hanya memainkan operasi pasar untuk menurunkan harga minyak goreng.

SELENGKAPNYA

Tata Niaga Minyak Sawit Dalam Negeri Diperlukan

Pemerintah diharapkan mengatur tata niaga minyak sawit yang dikhususkan untuk dalam negeri.

SELENGKAPNYA
×