Petugas memberikan informasi kepada nasabah terkait Sukuk Tabungan (ST) Seri ST006 di Bank Muamalat di Jakarta, Selasa (5/11). ST006 merupakan jenis sukuk hijau ritel (green sukuk retail) yang digunakan untuk membiayai proyek-proyek terkait lingkungan. Su | Republika/Prayogi

Ekonomi

13 Jan 2022, 08:26 WIB

Surat Berharga Negara Masih Jadi Primadona

Keuntungan surat berharga negara ritel lebih tinggi dari deposito.

Surat berharga negara (SBN) ritel dinilai masih akan menjadi primadona di mata investor pada 2022. Kondisi likuiditas investor yang cukup baik disebut menjadi katalis positif tingginya tingkat serapan obligasi negara tahun ini.

"Likuiditas ritel masih baik. Hal ini tecermin dari jumlah tabungan di atas Rp 2 miliar di perbankan yang juga masih selalu tumbuh setiap bulan," kata ekonom senior Samuel Sekuritas Fikri C Permana kepada Republika, Rabu (12/1).

Selain itu, investor saat ini cenderung mencari keuntungan investasi dengan risiko yang relatif lebih terjaga. Hal tersebut bisa didapatkan dari imbal hasil SBN ritel yang lebih tinggi dari deposito.

Tingkat suku bunga juga diperkirakan mengalami kenaikan pada tahun ini. Hal itu terlihat dari sikap bank sentral Amerika Serikat, the Federal Reserve, yang kemungkinan besar diikuti oleh Bank Indonesia. Menurut Fikri, peningkatan imbal hasil SBN juga akan naik, terutama pada semester II 2022.

Faktor lainnya yang membuat investasi di SBN ritel lebih menarik adalah penurunan pajak penghasilan (PPh) untuk bunga obligasi yang kini mencapai 10 persen. Literasi keuangan yang semakin membaik juga mendukung penyerapan SBN ritel secara optimal. "Saya pikir beberapa faktor ini bisa menjadi pendorong investor ritel untuk menambah kepemilikan di SBN," ujar Fikri.

Kendati demikian, Fikri melihat investor juga masih bersikap wait and see seiring dengan adanya potensi peningkatan suku bunga dan inflasi AS. Kondisi itu akan memicu pelemahan rupiah sehingga surat utang Indonesia tidak menarik lagi di mata investor. "Secara keseluruhan, serapan SBN ritel pada 2022 bisa naik tapi masih terbatas," tutur Fikri.

Dalam penawaran obligasi negara ritel baik syariah maupun konvensional pada tahun lalu, pemerintah mencatat sejumlah kinerja positif. Pemerintah mencatat total penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) ritel sebesar Rp 48,73 triliun sepanjang 2021. Realisasi tersebut mampu menarik sebanyak 99.581 investor.

Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pembiayaan Pengelolaan Risiko Kementerian Keuangan (DJPPR) Kementerian Keuangan Dwi Irianti Hadiningdyah mengatakan, SBSN ritel yang diterbitkan terdiri atas SR014, SR015, SWR002, dan ST008.

 “Hasil penjualan SR015 mencapai Rp 27 triliun merupakan terbesar sepanjang sejarah penerbitan SBN ritel, baik konvensional dan syariah, melalui platform e-SBN sejak 2018,” ujar Dwi.

Dwi mencatat, jumlah investor SR015 sebanyak 49.027 investor juga merupakan yang terbanyak sepanjang penerbitan SBN ritel. Meski terjadi penurunan tingkat imbal hasil, sukuk negara juga tetap diburu investor. Dwi menyampaikan, kupon ST008 sebesar 4,80 persen merupakan yang terendah sepanjang sejarah penerbitan SBN ritel.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by DJPPR Kementerian Keuangan RI (djpprkemenkeu)

“Permintaan ST-008 sangat tinggi sehingga pemerintah menerapkan kuota harian untuk memperluas distribusi dan meningkatkan keritelan. Penawaran ST-008 harus ditutup dua hari lebih cepat dari masa penawaran yang diumumkan,” ucapnya.

Pada tahun ini, pemerintah akan menerbitkan empat sukuk negara ritel. Meski begitu, jadwal penerbitan masih bersifat tentatif. 

“Rencananya, masa penawaran SR016 akan dibuka pada Maret, lalu ada cash waqf linked sukuk (CWLS) pada periode Ramadhan, kemudian SR017 pada September, dan ditutup oleh ST009 pada November,” ucapnya. Secara keseluruhan, pemerintah berencana menerbitkan tujuh seri obligasi ritel sepanjang tahun ini. 


×