Relawan Rumah Zakat Indonesia menyiapkan bantuan untuk korban erupsi gunung Semeru saat pemberangkatan Truk Kebaikan Semeru di Balai Kota Kediri, Jawa Timur, Jumat (10/12/2021). Rumah Zakat Indonesia meluncurkan program Truk Kebaikan Semeru tahap pertama | ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani

Khazanah

12 Jan 2022, 08:19 WIB

Milenial Makin Giat Berzakat

Layanan digital memudahkan kaum milenial berdonasi

JAKARTA – Donasi dari kaum milenial mendominasi penghimpunan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) di Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) pada 2021. Dalam catatan Baznas, dominasi tersebut mencapai 70 persen dari total hasil penghimpunan ZIS pada tahun lalu.

Pimpinan Baznas Bidang Penghimpunan, Rizaludin Kurniawan, mengatakan, kemudahan donasi melalui kanal digital membuat kaum milenial semangat berzakat. “Saya kira ini berbanding lurus dengan penguatan pengumpulan ZIS Baznas di kanal digital yang naik 51 persen pada 2021, ini (kanal digital) memudahkan kaum muda untuk berdonasi,” kata Rizal kepada Republika, Selasa (11/1).

“Kedua, tingkat kemandirian ekonomi kaum muda saat ini meningkat. Ketiga, sikap peduli mereka dengan lingkungan menjadikan mereka pahlawan," kata dia.

Melihat perkembangan yang baik ini, menurut Rizal, Baznas akan berusaha lebih merangkul kaum milenial. Bukan saja sebagai donatur, tetapi juga sebagai relawan.

Sebelumnya, Ketua Baznas Prof Noor Achmad mengaku kagum dengan kalangan milenial yang mendominasi sebagai donatur ZIS pada tahun lalu. Kaum milenial ini berada dalam rentang usia 25-44 tahun.

"Kami kagum dengan perkembangan milenial yang berzakat. Analisis kami, mereka cinta zakat, dan melakukan zakat, infak, sedekah ada suatu kesadaran keagamaan," ujar Noor.

Ia berharap tingginya semangat milenial untuk berzakat bukan hanya terjadi pada masa pandemi Covid-19. “Mudah-mudahan setelah Covid berlalu, lebih dari itu. Ke depan kami akan mendorong milenial, kekuatannya sangat berpengaruh secara nasional terhadap perzakatan Indonesia,” ujar Noor.

Pengamat ekonomi syariah dari Universitas Indonesia, Yusuf Wibisono, menyampaikan, dominasi donatur muda yang mencapai 70 persen pada pengumpulan ZIS di Baznas pada 2021 patut diapresiasi. Menurut dia, hal ini menunjukkan Baznas mampu memfasilitasi kalangan muda sehingga mereka nyaman berdonasi.

"Saya cukup kaget juga. Luar biasa, karena banyak sekali (mencapai 70 persen)," kata Direktur lembaga riset Institute for Demographic and Poverty Studies (Ideas) itu, kepada Republika, Selasa (11/1).

Dominasi tersebut, Yusuf mengatakan, tidak bisa lepas dari layanan pembayaran digital. Dia mengatakan, cara pembayaran ini berpengaruh karena kelompok muda apalagi milenial sangat melek digital. Sehingga wajar juga ketika akhir-akhir ini banyak lembaga zakat yang menghadirkan cara pembayaran digital.

"Itu menurut saya sangat positif dalam memfasilitasi kalangan milenial. Karena dalam hal teknologi, milenial ini sangat familiar dan melek teknologi," ujarnya.

Menurut dia, memiliki basis donatur dari kelompok muda merupakan langkah yang lebih strategis ketimbang basis donatur di segmen usia yang sudah lanjut. Secara umur, tentu kelompok muda memiliki masa berdonasi yang lebih panjang. Dalam jangka panjang, jumlah donasi berpotensi mengalami kenaikan.

"Memang sekarang kariernya (milenial) itu belum mantap, dan donasinya sedikit. Tetapi seiring waktu, menuju kematangan karier, donasi mereka harusnya bertambah dan meningkat," ujarnya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Badan Amil Zakat Nasional (baznasindonesia)

Namun, Yusuf mengingatkan, cara menggaet donatur dari kelompok muda ini sebetulnya tidak hanya dengan digitalisasi. Digitalisasi itu memang penting, tetapi belum memadai. Menurut dia, diperlukan juga daya tarik melalui program yang ditawarkan, atau dengan melakukan penguatan brand.

Yusuf berpendapat, kalangan milenial lebih tertarik pada dorongan kemanfaatan sosial daripada kemanfaatan dari sudut pandang keagamaan. Misalnya, dengan membuat narasi bahwa donasi yang diberikannya akan membantu banyak orang keluar dari belenggu kemiskinan. "Menurut saya lebih ke arah itu," ucapnya.

Dia menambahkan, kalangan milenial juga kritis terhadap hal yang terkait transparansi dan kredibilitas. Karena itu, lembaga zakat harus terus melakukan transparansi dan menjaga kredibilitas. Akses digital pun perlu diberikan, misalnya melalui berbagai media sosial. Tujuannya supaya mudah diakses oleh generasi milenial.

"Kalau nggak aktif di media sosial, sulit mengarahkan suatu brand ke segmen mereka (milenial). Karena mereka menuntut akses digital juga. Jadi, lembaga-lembaga zakat itu harus menunjukkan transparansi dan kredibilitas tidak hanya lewat laporan keuangan, tetapi juga ditunjukkan di sarana media digital.” 


×