Pemilik UMKM Hidrofarm, Arief (kanan) bersama pekerja melakukan perawatan tanaman sayuran yang dibudidayakan di Padang, Sumatera Barat, Selasa (9/11/2021). Arief mengembangkan usaha dengan konsep urban farming (pertanian di perkotaan) dengan memanfaatkan | ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

Ekonomi

10 Jan 2022, 03:19 WIB

Kuota KUR Himbara Naik 

KUR Himbara merupakan salah satu penopang pertumbuhan UMKM di Indonesia.

JAKARTA — Pemerintah memutuskan menambah plafon kredit usaha rakyat (KUR) kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pada tahun ini. Hal ini dilakukan untuk mempercepat pemulihan ekonomi di tengah pandemi Covid-19.

Pada tahun ini pemerintah menargetkan penyaluran KUR ditingkatkan menjadi Rp 373,17 triliun dengan suku bunga tetap sebesar enam persen. Kenaikan tersebut membuat jatah KUR Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) tumbuh signifikan pada tahun ini. 

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menargetkan penyaluran KUR sebesar Rp 195 triliun pada tahun ini. Target tersebut setara 93,02 persen dengan pencapaian KUR perseroan sebesar Rp 181,39 triliun pada November 2021.

Sekretaris Perusahaan BRI Aestika Oryza Gunarto mengatakan, realisasi KUR pada November 2021 diberikan kepada lebih dari enam juta nasabah. “BRI merespons kebijakan pemerintah untuk melanjutkan program KUR pada 2022 sebagai sesuatu yang positif. Sektor ekonomi yang mendominasi penyaluran KUR BRI, yakni perdagangan dan pertanian,” kata Aestika ketika dihubungi Republika di Jakarta, Ahad (9/1).

Menurut Aestika, KUR merupakan salah satu penopang pertumbuhan UMKM di Indonesia. Saat ini, BRI telah mempersiapkan infrastruktur dalam pengembangan UMKM, termasuk penyaluran KUR. 

“Strategi penyaluran KUR BRI dilakukan dengan pendekatan selective growth, seperti halnya penyaluran kredit BRI secara umum. Optimalisasi dilakukan kepada usaha dari sektor ekonomi yang dinilai unggul dan relatif mampu bertahan dan berpotensi tetap tumbuh di tengah pandemi,” ujar Aestika.

Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk optimistis penyaluran kredit bersubsidi atau KUR tahun ini akan bergerak cepat sesuai pertumbuhan yang dikehendaki pemerintah. Hal ini seiring dengan BNI mendapat alokasi KUR sebesar Rp 38 triliun untuk mengoptimalkan potensi ekspansi ekonomi segmen UMKM pada 2022. 

Direktur Kelembagaan BNI Sis Apik Wijayanto mengatakan, alokasi KUR BNI meningkat 22,7 persen dari alokasi tahun lalu Rp 30,95 triliun. "Kami cukup yakin untuk penyaluran KUR akan sesuai alokasi pemerintah. Terlebih, kami melihat permintaan dan kinerja KUR BNI yang sangat baik,” kata Sis.

Sis menyebutkan, saat ini, kredit segmen UMKM mengalami peningkatan permintaan kredit yang kuat. Segmen UMKM merupakan sektor yang paling cepat pulih setelah tertekan oleh pandemi Covid- 19. 

“BNI sebagai bank internasional memiliki strategi tersendiri dalam pengembangan segmen UMKM. Perseroan fokus untuk mendorong UMKM go produktif, go digital, dan go global,” ujar Sis.

Sis menyampaikan, BNI juga menitikberatkan pada peningkatan kinerja UMKM guna mendorong segmen ini naik kelas. Termasuk, meningkatkan adopsi digitalnya serta membuka peluang lebih besar untuk ekspor. 

Sis menjelaskan, BNI memiliki tiga fokus strategi untuk mendorong UMKM naik ke level internasional. Pertama, memberdayakan UMKM ekspor serta diaspora, BNI tidak hanya menggarap para pelaku UMKM untuk melakukan ekspansi bisnis keluar negeri, tetapi juga mendorong pengembangan usaha para warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri atau diaspora. 

Kedua, menciptakan ekosistem bisnis unggulan, yakni BNI fokus menggarap sektor unggulan masing-masing daerah guna mendorong pemberdayaan serta penyerapan tenaga kerja lokal. Ketiga, membentuk digital value chain, BNI memberikan dukungan menyeluruh melalui pembiayaan hingga pendampingan para mitra BNI dari hulu ke hilir. 

Anggota Himbara lainnya, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, tercatat telah menyalurkan KUR senilai Rp 33,68 triliun pada November 2021. Kredit berbunga rendah ini disalurkan kepada lebih dari 353 ribu debitur.

Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rudi AS Aturridha mengatakan, realisasi tersebut sudah mencapai 96,24 persen dari total target penyaluran KUR perseroan pada 2021. Bank berlogo pita emas ini mendapatkan mandat menyalurkan KUR sebesar Rp 35 triliun sepanjang 2021.

Jika diperinci berdasarkan sektor usahanya, mayoritas disalurkan sektor produksi sebesar Rp 19,69 triliun atau sekitar 58,46 persen dari total realisasi. Bank Mandiri juga mendorong penyaluran ke sektor prioritas lainnya, yaitu pertanian dengan total penyaluran KUR sebesar Rp 9,62 triliun dan sektor jasa produksi senilai Rp 6,66 triliun.

“Salah satu strategi yang sudah diterapkan perseroan, yakni dengan mengoptimalkan aplikasi Mandiri Pintar untuk mempercepat proses penyaluran kredit,” kata Rudi.

Selain itu, Bank Mandiri terus mendorong gerak pertumbuhan bisnis berbagai sektor ekonomi, termasuk sektor pariwisata. Rudi menilai, pariwisata menjadi salah satu sektor yang terdampak pandemi Covid-19 menyusul langkah Indonesia dan dunia internasional mengetatkan jalur masuk bagi wisatawan global guna mencegah penyebaran virus korona.

Wilayah di Indonesia yang banyak menjadi destinasi turis internasional, seperti Bali dan Yogyakarta pun harus mengandalkan pada kunjungan wisatawan lokal. Bank Mandiri menyadari, pelaku sektor usaha, khususnya UMKM terdampak Covid-19 perlu mendapatkan perlakuan khusus agar mereka bisa bertahan atau bahkan bangkit dengan melakukan penyesuaian proses bisnis.

Rudi mengatakan, Bank Mandiri secara aktif menyalurkan KUR ke sektor pariwisata sebesar Rp 4,79 triliun pada Januari-November 2021 kepada lebih dari 44 ribu pelaku UMKM.

"Saat ini, perekonomian masyarakat sudah menunjukkan perbaikan dan terus meningkat. Kami berharap, tren ini dapat terus berkembang sehingga memberikan dampak positif pada sektor usaha lainnya seperti pariwisata,” ujar Rudi. 


×