Warga mengamati kondisi rumah yang tertimbun abu vulkanik dari guguran awan panas Gunung Semeru di Desa Sumberwuluh, Lumajang, Jawa Timur, Ahad (5/12/2021). | ANTARA FOTO/Zabur Karuru

Kisah Dalam Negeri

06 Dec 2021, 03:50 WIB

Sumberwuluh Ditenggelamkan Abu

Seluruh rumah warga rata dengan tanah tertimbun material lahar Gunung Semeru.

Warna-warni hilang dari Kampung Renteng di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Lumajang, Ahad (5/12) pagi kemarin. Rumah warga, tanaman, masjid, pabrik, kendaraan, pepohonan, seluruhnya kelabu. Abu vulkanis menutupi semuanya. 

Bangunan dan kendaraan tak sedikit yang hanya tampak bagian atasnya saja. Di bawah, abu menumpuk lebih tinggi dari lutut orang dewasa, sekitar 30 cm, sisa dari letusan Gunung Semeru pada Sabtu (4/12) sore. 

Ahad pagi, sebagian warga sudah mencoba kembali. "Mulai tadi pagi banyak yang datang. Ada yang melihat-lihat, ada yang ingin tahu kondisi keluarganya," kata Ponijan, warga Kampung Renteng. Hujan abu juga menyebabkan kematian beberapa ternak di Kampung Renteng.

Aparat TNI dan Polri serta sukarelawan meminta warga tidak mendekati bagian kampung yang tertimbun abu, tapi permintaan mereka tidak diindahkan. Baru sekitar pukul 06.30 WIB, warga yang memadati Kampung Renteng berhamburan lari meninggalkan kampung itu karena petugas menyampaikan peringatan munculnya asap dari sekitar Gunung Semeru.

photo
Warga berlarian di atas timbunan material guguran awan panas Gunung Semeru saat terdengar suara gemuruh dari Gunung Semeru di Desa Sumberwuluh, Lumajang, Jawa Timur, Ahad (5/12/2021). Akibat awan panas guguran Gunung Semeru puluhan rumah warga rusak dan ratusan warga mengungsi. - (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)

Ponijan mengatakan, setelah erupsi Gunung Semeru pada Sabtu sore (4/12) ada beberapa warga kampung yang dilaporkan hilang, diduga tertimbun abu. "Di bawah ini ada rumahnya warga. Yang di ujung itu pabrik tepung. Semuanya tertimbun," katanya sambil menunjuk bangunan yang tertutup abu.

Peringatan untuk menjauhi sungai dan menyelamatkan diri apabila terdapat tanda-tanda berbahaya dipasang di dekat sungai di Kampung Renteng. Rambu-rambu jalur evakuasi juga sudah ada di kampung tersebut. 

Sejumlah warga kampung terlihat kembali ke rumah untuk mengambil barang-barang mereka, termasuk pakaian, kasur, televisi, meja, dan kursi. "Saya ke sini mengambil baju-baju yang masih bisa diselamatkan. Syukurlah keluarga semua aman," kata Muchsin, warga Kampung Renteng yang mengungsi ke rumah kerabat untuk menghindari dampak erupsi Semeru.

Pada Sabtu sore (4/12), Gunung Semeru mengeluarkan asap panas dan menimbulkan hujan abu ke daerah di sekitarnya. Warga yang tinggal di perkampungan di sekitar gunung setinggi 3.676 meter di atas permukaan laut itu mengungsi untuk menghindari dampak guguran awan panasnya.

photo
Warga mengamankan kasur dari rumahnya yang rusak akibat diterjang material guguran awan panas Gunung Semeru di Desa Sumberwuluh, Lumajang, Jawa Timur, Ahad (5/12/2021). - (ANTARA FOTO/ZABUR KARURU)

Sinten (60 tahun), warga Dusun Curah Kobokan, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, mengatakan, saat awan panas mulai berguguran, dirinya tengah berada di rumah bersama keluarga. "Tiba-tiba suasana menjadi gelap, ada hujan batu disertai awan panas berguguran," katanya kepada Jatimnow, media rekanan Republika, saat ditemui di RSUD dr Haryoto Lumajang, Sabtu (4/12) malam.

Seketika itu juga dirinya langsung panik dan bergegas meninggalkan lokasi rumah bersama anak-anaknya. "Di luar sudah banyak orang berhamburan dan berlarian saat kejadian," tutur Sinten.

Sinten mengaku, saat musibah itu datang, dirinya langsung berlari tanpa memikirkan rumah dan harta benda yang ia miliki. "Rumah hancur, saya tidak memikirkan harta, yang penting saya selamat. Tadi kejadian di sana kayak kiamat," ungkapnya.

Sinten menuturkan keberadaannya di rumah sakit karena anak laki lakinya atas nama Syamsul Arifin (30) mengalami luka bakar. "Dia terkena awan panas karena anak saya bekerja jaga portal," ujarnya.

Dewi Novitasari (17) yang merupakan anak Sinten mengaku gemetar melihat kondisi kejadian di daerahnya karena letusan Gunung Semeru. "Baru kali ini kejadian gunung paling besar yang saya tahu, Mas," ujarnya.

photo
Warga mengamati truk pengangkut pasir yang tertimbun material guguran awan panas Gunung Semeru di Desa Sumberwuluh, Lumajang, Jawa Timur, Ahad (5/12/2021). - (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)

Dirinya bersama saudara dan ibunya langsung berlari menyelamatkan diri menuju lokasi pengungsian. "Sing penting slamet, nggak mikir apa-apa di rumah," ucap Dewi.

Ada juga kisah relawan Baret Rescue Gerakan Pemuda Nasdem Jember menemukan jenazah seorang ibu yang sedang menggendong bayinya tertimbun lahar di Dusun Curah Kobokan, Desa Supiturang, kemarin. "Saat melakukan penyisiran, relawan menemukan jenazah ibu dan anak yang tertimbun lahar Semeru," kata Ketua Baret Gerakan Pemuda Nasdem Jember David Handoko Seto saat dihubungi di Lumajang. 

Ia mengatakan, ada 15 orang tim Baret Rescue yang terjun ke lokasi letusan Gunung Semeru untuk membantu tim BPBD Lumajang mengevakuasi korban. "Kami juga menemukan tiga jenazah yang masih terjebak di dalam truk pengangkut pasir yang tertimbun lahar Semeru," katanya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by khofifah indar parawansa (khofifah.ip)

Pihaknya langsung berkoordinasi dengan Basarnas dan BPBD Lumajang untuk mengevakuasi total tujuh jenazah yang mereka temukan. David mengatakan, seluruh rumah warga rata dengan tanah tertimbun material lahar Gunung Semeru. Relawan sempat kesulitan ke lokasi karena ketebalan abu vulkanis Semeru.

Tak hanya korban jiwa, Jembatan Perak Piket Nol di Lumajang juga putus diterjang lahar dingin Gunung Semeru. Hal itu menghambat proses pemulihan pasokan listrik di wilayah tersebut.

General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur Adi Priyanto mengatakan, akibat adanya hambatan itu, sedikitnya masih ada 82 gardu distribusi dan 23.015 pelanggan yang terdampak padam.

photo
Pakaian tertutup abu vulkanis Gunung Semeru di salah satu rumah warga di Desa Sumberwuluh, Lumajang, Jawa Timur, Ahad (5/12/2021). - (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)

"Beberapa daerah yang masih padam belum dapat dijangkau oleh petugas PLN karena adanya akses jalan utama yang putus akibat lahar dingin, seperti Jembatan Perak Piket Nol," kata Adi.

Akses menuju lokasi masih tertutup akibat patahnya jembatan. Personel PLN ia sebut siap untuk segera mengamankan pasokan listrik saat akses telah kembali terbuka.

Adi memerinci, setidaknya ada 112 gardu dan 30.523 pelanggan PLN terdampak akibat letusan Gunung Semeru yang ditunjukkan dengan guguran awan panas yang mengarah ke Besuk Kobokan, Desa Supiturang, Pronojiwo. "Hingga Sabtu malam, petugas PLN berhasil memulihkan dan menyalakan kembali 30 gardu terdampak. Sudah ada 7.508 pelanggan terdampak telah mendapatkan suplai listrik," katanya.

Airnav Indonesia juga melakukan pengalihan rute penerbangan. "Airnav Indonesia mengarahkan pesawat yang terbang pada rute di atas Gunung Semeru untuk terbang melewati rute di sebelah utara Pulau Jawa," kata Sekretaris Perusahaan Airnav Indonesia, Rosedi, dalam pernyataan tertulis, Ahad (5/12). 

Airnav Indonesia juga melakukan antisipasi dengan berkoordinasi antarwilayah Flight Information Region (FIR) Ujung Pandang dan Jakarta. Rosedi mengatakan, rute W33 di sebelah selatan Surabaya untuk sementara tidak digunakan.

Rosedi memastikan, Airnav Indonesia terus berkoordinasi dengan stakeholder penerbangan terkait. Pihaknya juga bersiaga jika ada informasi terbaru tentang dampak erupsi Semeru yang berpotensi memengaruhi penerbangan.

Airnav Indonesia juga berkoordinasi dengan penyelenggara bandar udara di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. "Ini dilakukan untuk terus melakukan update hasil paper test yang dapat mengidentifikasi intensitas sebaran abu vulkanis di lokasi masing-masing," ujar Rosedi. 

Rosedi menuturkan, Airnav memperbarui informasi potensi dampak sebaran abu vulkanis terhadap penerbangan. "Airnav akan melaporkan update informasi terkini, terutama kepada para pengguna jasa untuk memastikan semua penerbangan dapat terhindar dari sebaran abu Semeru," tutur Rosedi.

Sumber : antara


×