Pemain sepak bola teramputasi Palestina bermain dalam kompetisi yang digelar Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional di Gaza, Agustus lalu. | EPA-EFE/MOHAMMED SABER

Kisah Mancanegara

06 Dec 2021, 03:45 WIB

Cerita Bahagia dari Lapangan Bola Gaza

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Palestina memiliki tim nasional sepak bola yang digawangi para pemuda dengan kaki yang diamputasi.

OLEH RIZKY JARAMAYA

Dunia olahraga sejatinya, adalah milik siapa saja. Kondisi keterbatasan fisik, ternyata sama sekali tidak menghalangi 20 puluh pemuda Palestina untuk berpartisipasi dalam skuat nasional sepak bola.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Palestina memiliki tim nasional sepak bola yang digawangi oleh para pemuda, dengan kaki yang diamputasi. Tim nasional tersebut diluncurkan pada Jumat (3/12),  bertepatan dengan Hari Internasional untuk Penyandang Disabilitas.

Skuat nasional Asosiasi Sepak Bola Amputasi Palestina pun mendapatkan dukungan oleh Komite Internasional Palang Merah (ICRC).  Skuat tersebut terdiri dari 20 pemuda Palestina yang kehilangan bagian tubuh mereka, ketika ikut terlibat dalam perang dengan Israel maupun kecelakaan.

Para pemain menggunakan kruk dan kaki palsu untuk bermain sepak bola saat mereka berlatih di sebuah stadion di Kota Gaza. Rencananya, mereka berpartisipasi dalam Piala Dunia Sepak Bola Amputee yang digelar di Turki pada Maret 2022.

photo
Pemain sepak bola teramputasi Palestina bermain dalam kompetisi yang digelar Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional di Gaza, Agustus lalu. - ( EPA-EFE/MOHAMMED SABER)

Salah satu pemain sepak bola yang bergabung dengan skuat tersebut, Ahmed Alkhodari menjelaskan, ia kehilangan kakinya pada Maret 2019 saat Great March of Return. Ketika itu, ratusan warga Palestina tewas, dan puluhan ribu terluka dalam tembakan Israel. Setidaknya 156 orang yang terluka harus menghadapi amputasi.

Alkhodari yang saat ini berusia 23 tahun tersebut mengatakan, kepada Aljazirah bahwa, dia ingin berpartisipasi dalam turnamen di luar Palestina. “Berpartisipasi dalam tim nasional telah menambah nilai bagi kehidupan.Saya yakin, tim ini akan meraih sukses di kejuaraan internasional di seluruh dunia,” ujarnya, dilansir Aljazirah, Ahad (5/12).

Pemain lainnya yaitu, Ibrahim Madi mengungkapkan antusiasmenya menjadi bagian dari tim nasional tersebut. Dia mengatakan, menjadi bagian dari tim nasional Palestina, dapat mengurangi rasa sakit mental dan fisik yang dideritanya. "Berada di sini sangat berarti bagi saya. Ini mengkompensasi semua rasa sakit mental dan fisik yang saya derita setelah kehilangan kaki saya,” ujar Madi.

photo
Pemain sepak bola teramputasi Palestina bermain dalam kompetisi yang digelar Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional di Gaza, Agustus lalu. - ( EPA-EFE/MOHAMMED SABER)

Ia mengingat kembali hari-hari tergelap dalam hidupnya. Tepatnya, ketika kaki Madi terpaksa diamputasi karena terkena tembakan peluru oleh tentara Israel pada 2018, dalam demonstrasi di perbatasan Gaza. “Saya menghabiskan 11 hari dalam rasa sakit yang tak tertahankan di rumah sakit. Dokter kemudian memutuskan untuk mengamputasi kaki saya," kata Madi, mengenang momen pilu yang dihadapinya.

Sekretaris Jenderal European Amputee Football Federation, Simon Baker, membantu meningkatkan keterampilan dan memberikan pelatihan kepada wasit serta pelatih sejak tiga tahun lalu. Kaki Baker juga mengalami amputasi.

Baker pertama kali melakukan perjalanan ke Gaza pada 2019 untuk mengerjakan proyek tim sepak bola amputee, sebagai konsultan di ICRC. Di Jalur Gaza, Baker telah melatih 15 pelatih, 12 wasit, dan 80 pemain yang diamputasi.

Dari 80 pemain yang dilatihnya, sebanyak 20 pemain dipilih memperkuat tim nasional yang akan bertanding dalam Piala Dunia Sepak Bola Amputee tahun depan. "Proyek ini telah melewati beberapa tahap dalam memilih 20 pemain terbaik untuk memperkuat tim nasional. Kami berharap akhir Maret nanti timnas sudah bisa bertanding di Piala Asia dan lolos ke Piala Dunia 2022 di Istanbul,” ujar Baker.

 
Kami tidak ingin orang mengasihani mereka dan kasihan pada mereka karena mereka tinggal di Gaza.
 
 

Menurutnya, kekurangan fisik yang dimiliki oleh para pemain bukan untuk dikasihani. Baker mengatakan, penyandang disabilitas dapat menjadi anggota masyarakat yang berharga. "Kami tidak ingin orang mengasihani mereka dan kasihan pada mereka karena mereka tinggal di Gaza. Ini adalah kisah bahagia dan positif yang keluar dari Gaza," lanjut Baker.

Senada, Juru bicara ICRC di Gaza, Suhair Zaqout mengatakan, Palestina telah menorehkan sejarah baru dengan membentuk tim nasional amputee yang pertama. Ia menyoroti peran organisasinya dalam mendukung penyandang disabilitas, terutama di Jalur Gaza yang mengalami konflik dan siklus kekerasan. “Kami mendukung olahraga bagi orang yang diamputasi sebagai jendela untuk mencapai integrasi sosial dan psikologis,” kata Zaqout.

Zaqout mengatakan, ICRC mendukung lima olahraga lain untuk orang yang diamputasi di Gaza, termasuk bola basket, atletik, bersepeda, dan tenis meja. 


×