Petugas menyapu area replika kabah di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Rabu (1/12/2021). Kementerian Agama menyiapkan Asrama Haji Pondok Gede sebagai tempat karantina jamaah umrah dan akan menerapkan kebijakan satu pintu pemberangkatan jamaah. | Republika/Putra M. Akbar

Kabar Utama

02 Dec 2021, 03:45 WIB

Malaysia Kirim 228 Jamaah Umrah

Malaysia berencana memberangkatkan 75 ribu jamaah hingga tahun depan.

SEPANG -- Sebanyak 228 jamaah umrah asal Malaysia kembali berangkat dari Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) ke Madinah, Arab Saudi, untuk menjalankan ibadah di Tanah Suci, Selasa (30/11). Pemberangkatan ini merupakan yang kesekiankalinya dilakukan negeri jiran itu selepas Kerajaan Saudi membuka kembali umrah untuk sejumlah negara.

Kantor berita Bernama melaporkan pada Rabu (1/11), para jamaah berangkat dengan menggunakan pesawat Airbus A330. Penyedia penerbangan carteran haji dan umrah, Amal by Malaysia Airlines, menjadi maskapai yang dipercaya dan beroperasi membawa rombongan jamaah ini untuk pertama kalinya, setelah lama vakum sejak 7 Maret 2020 akibat pandemi Covid-19 .

Chief Operating Officer Amal by Malaysia Airlines, Muhammad Najmi Mansor, mengatakan, perusahaan akan melakukan delapan penerbangan langsung dalam sepekan. Masing-masing empat penerbangan ke Jeddah dan Madinah hingga April tahun depan.

Muhammad Najmi mengatakan, jumlah penerbangan telah berkurang 40 persen dibandingkan dengan periode prapandemi, ketika mereka menawarkan penerbangan langsung ke Jeddah dan Madinah dua kali dalam sehari. Informasi tersebut ia sampaikan kepada wartawan, seusai keberangkatan penerbangan umrah yang disaksikan Menteri di Departemen (UU) Perdana Menteri Idris Ahmad.

Muhammad Najmi mengatakan, kinerja perusahaan diharapkan kembali ke level prapandemi pada kuartal keempat 2022. Hal ini didukung oleh frekuensi penerbangan yang akan dilakukan ke Madinah dan Jeddah.

“Permintaan untuk umrah tetap ada. Seperti yang kita lihat dari penerbangan hari ini yang beroperasi dengan load factor hampir 100 persen. Kami memperkirakan permintaan akan terus meningkat," kata dia.

Sampai Mei 2022, pihaknya menargetkan dapat menampung hingga 75 ribu penumpang. Tetapi, hal ini akan bergantung pada skenario Covid-19 saat ini, yang harus terus dipantau.

Saudi mula-mula membuka pintu perjalanan umrah pada Agustus lalu setelah penutupan kembali pada Mei 2021 lalu. Malaysia kemudian mengirimkan jamaah perdana sebanyak 11 orang pada 25 Oktober lalu. Sejauh ini sudah 16 negara yang mengirimkan jamaah ke Saudi sejak pembukaan dengan total 58 ribu jamaah tiba di Tanah Suci.

Indonesia menyatakan sudah mendapatkan nota diplomasi pembukaan umrah dari Kerajaan Saudi pada Oktober lalu. Selain itu, otoritas Saudi juga sudah mengumumkan dibukanya penerbangan dari Indonesia ke Saudi yang berlaku mulai Rabu (1/12) kemarin.

Kepastian itu ditekankan lagi dengan pengumuman dari Otoritas Umum Penerbangan Sipil Saudi (GACA), kemarin. Mereka membenarkan penangguhan penerbangan langsung ke Arab Saudi dari enam negara dicabut sejak pukul 01.00 dini hari kemarin.

photo
Sejumlah calon jamaah umrah yang batal berangkat ke Jeddah lewat Singapura mencari koper miliknya saat tiba di Bandara International Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (28/2/2020). Sebanyak 112 orang calon jamaah umrah dari Sumatera Selatan melalui bandara Changi, Singapura dipulangkan kembali ke tanah air akibat adanya penangguhan visa umrah dan wisata yang dikeluarkan Kerajaan Arab Saudi terkait penyebaran virus corona. - (ANTARA FOTO)

Adapun enam negara yang disebut bisa memberangkatkan jamaah umrah maupun pelancong, di antaranya Indonesia, Pakistan, Brasil, Vietnam, Mesir dan India. Dilansir Riyadh Daily, Rabu (1/12), pelancong dan jamaah dari enam negara ini bisa langsung masuk Kerajaan Saudi tanpa harus menghabiskan 14 hari di luar negara-negara tersebut sebelum memasuki Kerajaan.

Meski penangguhan telah dicabut, GACA menekankan kepada semua maskapai penerbangan tentang pentingnya menerapkan prosedur kedatangan. Salah satu yang harus dipenuhi adalah mampu menunjukkan sertifikat PCR yang valid, 72 jam sebelum penerbangan.

Tak hanya itu, setiap penumpang sudah harus mendaftar di platform Qudoom. Penerapan prosedur karantina institusional dilakukan dengan jangka waktu lima hari, terlepas dari status imunisasi di luar Kerajaan. Terakhir, GACA mengingatkan akan kepatuhan pengambilan swab medis pada hari pertama dan kelima karantina institusional.

Terlepas dari pengumuman itu, sejauh ini belum ada jamaah yang diberangkatkan. Kondisi ini terlepas dari penularan kasus Covid-19 yang masih terjaga di kisaran 350 kasus per hari sepekan belakangan, berbanding dengan Malaysia yang masih mencatatkan rerata 5.100 kasus perhari merujuk data Johns Hopkins University.

Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Hilman Latief memastikan edaran yang diterbitkan otoritas penerbangan Arab Saudi atau General Authority of Civil Aviation (GACA), tertanggal 25 November 2021 juga berlaku untuk penerbangan jamaah umrah. Namun demikian, Hilman menegaskan,  keberangkatan umrah tidak serta merta dapat dilakukan pada 1 Desember.

Sebab masih ada proses persiapan yang perlu dilakukan, antara lain terkait dengan pendataan jamah, paket layanan dan pengurusan visa.  "Menindaklanjuti dicabutnya suspend penerbangan, Kementerian Agama RI dan Kementerian Haji Saudi akan membahas teknis penyelenggaraan umrah," ujar Hilman dikutip Republika, Rabu (1/12).

"Saya dan tim Konsul Haji KJRI Jeddah telah membahas dan mendiskusikan skenario penyelenggaraan umrah bersama Kementerian Haji dan Umrah Saudi," kata dia menjelaskan. Hilman menyatakan , pihaknya akan memaparkan kesiapan Indonesia dan skenario pemberangkatan jemaah umrah di masa pandemi.

Skenario tersebut antara lain berkenaan dengan one gate policy (kebijakan satu pintu), skema karantina, validasi sertifikat vaksin dan hasil PCR, manasik umrah di masa pandemi, serta lainnya.

"Dengan Kementerian haji dan Umrah Saudi, kita juga akan bahas skema dan durasi waktu karantina di Saudi, proses pengurusan visa, paket layanan, termasuk jadwal pergerakan dan masa tinggal jamaah selama di Tanah Suci," kata Hilman.

Dirjen PHU berharap rencana bersama ini bisa segera disepakati sehingga dapat menjadi panduan bagi pemerintah, penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU), dan juga jamaah umrah. "Semoga jamaah umrah Indonesia bisa segera mengobati kerinduannya untuk ziarah ke Tanah Suci," ujar Hilman.


×