Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan materi saat menjadi narasumber dalam kegiatan Workshop Nasional DPP PAN di Nusa Dua, Badung, Bali, Selasa (5/10/2021). Hari kedua Workshop Nasional DPP PAN itu diisi dengan kegiatan sharring session yang menghadirkan | ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/hp.

Ekonomi

30 Nov 2021, 07:44 WIB

Laba Konsolidasi BUMN Rp 61 Triliun

Kinerja bank BUMN diprediksi terus positif pada tahun depan.

JAKARTA — Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, kinerja Kementerian BUMN dan seluruh perusahaan pelat merah cukup berhasil dalam dua tahun terakhir. Erick menyebutkan, laba konsolidasi BUMN mencapai Rp 61 triliun pada kuartal III 2021. 

“Hasil keuangan terlihat dengan efisiensi dan perubahan model bisnis serta mengangkat kalangan profesional, laba bersih konsolidasi BUMN yang pada 2020 sebesar Rp 13 triliun, hari ini menjadi pada kuartal III 2021 saja sudah Rp 61 triliun,” kata Erick dalam acara Forum Humas BUMN di Jakarta, Senin (29/11).

Erick meminta tren positif ini terus berlanjut hingga akhir tahun dan tahun depan. Mantan presiden klub Inter Milan itu menilai konsistensi menjadi kunci utama dalam keberlanjutan kinerja positif BUMN.

“Kelemahan BUMN yakni tidak adanya kesinambungan, dan saya sangat berharap juga bahwa kita semua yang diberikan amanah pada saat ini melakukan review atau evaluasi terhadap program-program BUMN yang sebelumnya bagus, maka perlu diteruskan. Sedangkan, program-program lama yang tidak bagus diakhiri dan jangan dilanjutkan serta diganti dengan program bagus lainnya,” ujar Erick.

Erick menyampaikan, Kementerian BUMN akan terus menjaga kebijakan, tetapi transformasi secara nyata harus dijalankan para pimpinan perusahaan-perusahaan BUMN. Erick berharap Forum Humas bisa menjadi sebuah kesatuan yang pada ujungnya memastikan BUMN bisa bersaing dalam pasar terbuka secara global. 

“Kita pastikan bahwa BUMN ini punya ekosistem yang kuat, model bisnis yang kuat. Kita pastikan juga bagaimana program-program BUMN ini sebagai keseimbangan dari market, dan kita harus pastikan juga ada hasilnya bagi kita semua, terutama untuk negara,” kata Erick menambahkan.

Terkait kinerja BUMN, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Handiman Soetoyo memprediksi tiga bank BUMN akan membukukan kinerja cemerlang pada tahun depan. Ia mengatakan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menjadi salah satu bank yang akan mendapatkan keuntungan dari pemulihan ekonomi. 

Dengan memanfaatkan posisinya sebagai mitra perbankan utama pemerintah untuk pembiayaan proyek korporasi dan infrastruktur, menurut Handiman, emiten bersandi saham BMRI ini akan menikmati percepatan pertumbuhan pinjaman pada 2022. “Hal ini seiring dengan pulihnya ekonomi dan proyek-proyek pemerintah yang dilanjutkan kembali,” kata Handiman.

Selain itu, Handiman menyebut, BMRI juga akan memperoleh keuntungan dari  bergabungnya Bank Syariah Mandiri, BRI Syariah, dan BNI Syariah. Menurutnya, konsolidasi PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) ini akan berkontribusi pada pertumbuhan pinjaman, simpanan, dan pendapatan BMRI yang kuat pada 2021.

Alih-alih mengakuisisi bank kecil dan mengubahnya menjadi bank digital, BMRI memutuskan mengembangkan super app-nya di dalam bank. BMRI memanfaatkan jaringan fisik luas yang terdiri atas 2.500 cabang, 13.087 anjungan tunai mandiri (ATM), dan 214.330 EDC di seluruh Indonesia.

Handiman memperkirakan pertumbuhan pinjaman BMRI mencapai 11,1 persen pada 2022 dibandingkan 25,0 persen pada 2021 yang sebagian besar pertumbuhan pinjaman didorong oleh konsolidasi BRIS. Proyeksi Handiman cukup konservatif karena pertumbuhan pinjaman prapandemi rata-rata sebesar 11,1 persen secara tahunan.

Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) juga diprediksi menorehkan kinerja yang memuaskan. Handiman memperkirakan, pertumbuhan kredit emiten bersandi saham BBNI ini akan tumbuh sebesar 10,7 persen pada 2022.

Handiman juga memprediksi BBNI akan membukukan pendapatan Rp 15,449 miliar pada tahun depan atau tumbuh 11,6 persen. Pertumbuhan pendapatan akan didorong oleh pertumbuhan kredit yang lebih kuat sebesar 10,7 persen secara tahunan sehingga menghasilkan pendapatan bunga yang lebih kuat. 

Handiman menyebutkan, kinerja PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk juga akan positif pada 2022. Emiten bersandi saham BBRI ini kian menegaskan kepemimpinannya dalam perbankan mikro. Sinergi holding ultramikro yang terdiri atas BBRI, Pegadaian, dan Permodalan Nasional Madani (PNM) juga menguntungkan bagi kinerja perseroan. 

“Kami percaya sinergi dari tiga entitas tersebut akan mempercepat pertumbuhan melalui pemasaran bersama, cross-selling// dan berbagi jaringan, mengurangi biaya kredit, operasional, dan cost of fund,” kata Handiman.

Tercatat BRI mampu menekan biaya dana alias cost of fund ke tingkat terendah sepanjang sejarah seiring keberhasilan perseroan melakukan transformasi struktur liabilitas. Pada akhir September 2021, biaya dana BRI mencapai 2,14 persen, jauh lebih baik dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu sebesar 3,45 persen.

“Perlu saya sampaikan cost of fund BRI 2,14 persen ini adalah yang terendah sepanjang sejarah,” kata Direktur Utama BRI Sunarso. Ia menjelaskan, penurunan biaya dana tersebut tak terlepas dari keberhasilan perseroan dalam meningkatkan dana murah atau current account saving account (CASA) yang tercatat Rp 673,1 triliun pada kuartal III 2021, naik sekitar 5,3 persen dari periode yang sama tahun 2020 yang sebesar Rp 639,2 triliun.

Selain itu, tabungan yang dihimpun BRI pada kuartal III 2021 mencapai Rp 467,7 triliun dan giro sebesar Rp 205,5 triliun, naik dari masing-masing Rp 424 triliun dan Rp 215 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Adapun total dana pihak ketiga yang dibukukan BRI hingga September 2021 mencapai sebesar Rp 1.121 triliun, atau naik sekitar 5,5 persen dari kurun waktu yang sama pada 2020, yakni sebesar Rp 1.062,7 triliun.

Sunarso menambahkan, perbaikan cost of fund menjadi salah satu pendorong kinerja pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) yang tumbuh signifikan, yaitu 26,88 persen menjadi Rp 72,43 triliun pada kuartal III 2021.


×