Sejumlah pelajar dan guru mengisi data diri sebelum menjalani tes usap PCR di SMPN 1 Cimahi, Jalan Raden Embang Artawidjadja, Kota Cimahi, Kamis (18/11/2021). Pemerintah Kota Cimahi melalui Dinas Kesehatan Kota Cimahi dan Dinas Pendidikan Kota Cimahi mela | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Nasional

30 Nov 2021, 03:45 WIB

Terus Bertambah, Ratusan Siswa Positif Covid-19

Klaster PTM di Pekanbaru disebabkan karena tidak dilakukan testing acak Covid sejak PTM dimulai.

PEKANBARU – Kasus positif Covid-19 klaster pembelajaran tatap muka (PTM) di Pekanbaru, Provinsi Riau, terus bertambah. Berdasarkan tes PCR hasil pelacakan yang dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi Riau, terkonfirmasi sebanyak 113 orang di SMP dan SMA Abdurrab Islamic Center Pekanbaru positif Covid-19.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Mimi Yuliani Nazir, 113 orang positif tersebut merupakan hasil pelacakan kontak erat dengan tiga orang siswa Abdurrab Islamic Center yang sebelumnya dinyatakan positif terlebih dahulu karena mengeluh demam. Jumlah tersebut bertambah dari 69 orang yang dinyatakan positif pada Sabtu (27/11).

“Dari total 340 kontak erat di SMP dan SMA Abdurrab Islamic Center, 113 orang positif Covid-19,” kata Mimi, Senin (29/11).

Mimi mengatakan, saat ini ratusan siswa dan guru yang terpapar dari klaster Abdurrab Islamic Center Pekanbaru ini sudah diisolasi secara terpadu di Asrama Haji. Aktivitas di sekolah Abdurrab Islamic Center Pekanbaru sudah dihentikan sementara sejak Jumat (26/11) kemarin. Penutupan sekolah ini dilakukan sampai 14 hari ke depan.

photo
Vaksinator menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada pelajar di SMAN 1 Kota Pekanbaru, Riau, Rabu (14/7/2021). Pemerintah Provinsi Riau bersama Badan Intelijen Negara (BIN) menggelar vaksinasi massal untuk pelajar untuk mendukung serta mempercepat program vaksinasi nasional. - (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)

Juru Bicara Penanganan Covid-19 Riau, Indra Yovi, menduga, klaster Abdurrab Islamic Center Pekanbaru disebabkan karena tidak melakukan testing acak sejak PTM di sekolah tersebut dimulai. Menurut Indra, sebagai tindakan pengawasan, pihak sekolah harusnya berkoordinasi dengan satgas atau Dinas Kesehatan supaya konsisten melakukan testing kepada siswa dan guru secara acak sebagai tindakan pencegahan agar tidak meluas.

“Ke depan, sekolah yang sudah melaksanakan tatap muka harus melakukan testing secara acak kepada siswa, guru dan seluruh pegawai. Minimal dua kali dalam sepekan,” ujar Indra.

Klaster PTM juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Gunung Kidul, DIY. Sebanyak 21 siswa di salah satu SMA di daerah tersebut terkonfirmasi positif Covid-19. Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 DIY, Berty Murtiningsih, mengatakan, skrining akan dimasifkan di sekolah-sekolah yang melaksanakan PTM di lima kabupaten/kota se-DIY. “Skrining ini bertujuan untuk mengidentifikasi sedini mungkin terhadap klaster yang mungkin terjadi,” kata Berty.

Dinas Kesehatan di masing-masing kabupaten/kota juga sudah diminta untuk terus melakukan skrining secara berkala selama berlangsungnya PTM. Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Aryani, mengatakan, skrining di sekolah-sekolah sudah dimulai sejak pekan kemarin. Per sekolah, 10 persen dari total peserta didik menjadi sasaran skrining, termasuk tenaga pendidik.

photo
Pelajar antre untuk pengambilan sampel tes usap PCR di SD Negeri Kestalan 5, Solo, Jawa Tengah, Selasa (23/11/2021). Pengambilan sampel PCR secara acak bagi pelajar Solo itu untuk antisipasi penyebaran Covid-19 pada pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM). - (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)

Kepala Dinas Kesehatan DIY, Pembayun Setyaningastutie, mengatakan, pihaknya terus mengintensifkan 3T (tracing, testing dan treatment). 3T dimasifkan mengingat mobilitas masyarakat saat ini sudah semakin meningkat. Skrining juga dimasifkan di sekolah-sekolah yang melaksanakan PTM.

“3T tetap kita kuatkan dan lakukan termasuk skrining tidak hanya untuk PTM, tetapi juga menghadapi semakin meningkatnya mobilisasi masyarakat. Tracing khususnya untuk kontak erat yang positif,” kata Pembayun.

Wakil Ketua DPRD DIY Huda Tri Yudiana meminta Satgas untuk melakukan persiapan dini terkait potensi adanya gelombang ketiga penyebaran Covid-19 di DIY.  Satgas Covid-19 DIY diminta untuk melakukan persiapan mulai dari shelter, rumah sakit, oksigen dan koordinasi yang baik dengan pihak-pihak terkait.

Persiapan sejak dini, menurut Huda, perlu dilakukan agar melonjaknya kasus positif hingga kematian Covid-19 seperti Juni dan Juli 2021 lalu tidak terjadi kembali. Terlebih menjelang libur Natal dan Tahun Baru 2022, yang mana DIY sudah ramai dikunjungi wisatawan. Sehingga, ada potensi meningkatnya penambahan kasus baru positif Covid-19 di DIY.

“Kita tidak ingin jatuh korban lagi sebagaimana yang telah lalu, apalagi pekan ini DIY dua kali menduduki ranking pertama penularan di Indonesia,” ujar Huda.


×