Migran asal Timur Tengah menginap di pusat logistik di Kuznitsa, perbatasan Belarusia-Polandia, Kamis (18/11/2021). Meraka terpaksa diterbangkan pulang setelah ditolak masuk melintasi Polandia. | AP/Leonid Shcheglov/BelTA
25 Nov 2021, 03:45 WIB

HRW: Belarusia-Polandia Lakukan Pelanggaran HAM Serius

Belarusia dan Polandia melakukan pelanggaran HAM serius dalam menangani krisis migran.

NEW YORK – Organisasi hak asasi manusia (HAM) Human Rights Watch (HRW) mengatakan, Belarusia dan Polandia telah melakukan pelanggaran HAM serius dalam menangani krisis migran yang terjadi di perbatasan kedua negara. HRW memperingatkan Belarusia dan Polandia memiliki kewajiban mencegah jatuhnya korban luka maupun jiwa lebih lanjut.

HRW mengungkapkan, mereka telah melakukan wawancara mendalam dengan 19 migran yang mengalami aksi kekerasan di perbatasan Belarusia-Polandia. Pelakunya adalah pasukan atau polisi dari kedua negara.

Para migran tersebut mengaku menerima aksi kekerasan dan perlakuan tak manusiawi dari pasukan Belarusia. Saat mendekat ke perbatasan Polandia, mereka didorong mundur, terkadang dengan kekerasan oleh personel penjaga perbatasan negara.

Menurut HRW, dalam beberapa kasus, perlakuan keras mungkin berupa penyiksaan. “Sementara Belarus membuat situasi ini tanpa memperhatikan konsekuensi manusia, Polandia berbagi tanggung jawab atas penderitaan akut di daerah perbatasan,” kata peneliti senior HRW untuk Eropa dan Asia Tengah, Lydia Gall, Rabu (24/11).

Terkait

HRW mendesak Belarusia dan Polandia menghentikan aksi saling dorong terhadap para migran di perbatasan kedua negara. HRW mendesak agar pengamat independen, jurnalis, dan pekerja HAM diberi akses ke daerah tersebut.

photo
Migran asal Timur Tengah menginap di pusat logistik di Kuznitsa, perbatasan Belarusia-Polandia, Kamis (18/11/2021). - (AP/Leonid Shcheglov/BelTA)

HRW menegaskan apa yang sedang berlangsung di perbatasan Belarusia-Polandia melanggar hak atas suaka di bawah undang-undang Uni Eropa. HRW mendesak Uni Eropa mulai menunjukkan solidaritas kepada para migran di perbatasan yang menderita dan sekarat.

Saat ini Pemerintah Belarusia sedang merelokasi migran dan pencari suaka di wilayah perbatasan ke tempat penampungan sementara. Namun belum jelas bagaimana mereka hendak menyelesaikan krisis migran di sana. Politisi Barat menuding Presiden Belarusia Alexander Lukashenko menggunakan migran dan pencari suaka sebagai "senjata" untuk membalas dendam terhadap sanksi Uni Eropa.

Kekerasan

Komite Perbatasan Negara Belarusia melaporkan pada Selasa (23/11) bahwa para migran yang ingin menyeberang ke Eropa melalui perbatasan Belarusia-Polandia didorong mundur dengan menggunakan bahan peledak. Bahan peledak diduga digunakan untuk melawan kelompok tak bersenjata itu.

Sebuah pernyataan video oleh Belarusia mengatakan, sekelompok migran menolak untuk pergi ke wilayah Belarusia melalui perbatasan Polandia dan mencoba berlindung di wilayah Polandia. "Pasukan Polandia melemparkan bahan peledak ke wilayah Belarusia dari garis perbatasan dan menggunakan gas air mata untuk membubarkan para migran," kata pernyataan itu dilansir dari Anadolu Agency, Rabu (24/11).

Masih menurut pernyataan itu, penggunaan bahan peledak terhadap migran oleh pasukan Polandia bukan pertama kalinya. Tindakan tersebut pun meningkatkan ketegangan dengan pencari suaka dan menyebabkan provokasi di perbatasan.

"Penggunaan bahan peledak, bom suara, meriam air, dan gas (bom) oleh pihak Polandia melanggar hukum internasional dan merupakan serangan langsung terhadap kelompok pengungsi yang rentan," katanya.

photo
Tentara Polandia berjaga-jaga di perbatasan Belarusia-Polandia tak jauh dari Grodno Grodno, Belarusia, Selasa (9/11/2021). - (Leonid Shcheglov/BelTA via AP)

Komite Perbatasan Negara Belarusia mengumumkan sebelumnya, karena tidak ada yang tersisa di kamp-kamp di hutan, wartawan tak dapat bekerja di daerah tersebut, tetapi bisa melanjutkan di pusat pemrosesan di wilayah perbatasan Bruzgi tempat para migran sekarang menetap. Sebuah gudang di wilayah perbatasan Bruzgi diubah menjadi pusat pemrosesan para migran.

Atas instruksi Presiden Belarusia Aleksandr Lukashenko, bantuan medis, air, dan produk kebersihan dibagikan kepada para migran. Setelah menghabiskan 10 hari di tenda dalam cuaca dingin, kelompok migran dengan cepat menuju pusat pemrosesan. Di area terlindung, anak-anak bermain, sementara ibu merawat bayi mereka.

Sejak Agustus, negara-negara Uni Eropa yang berbatasan dengan Belarusia --Lituania, Latvia, dan Polandia-- telah melaporkan jumlah penyeberangan tidak teratur yang meningkat secara dramatis. Lebih dari 8.000 orang telah mencoba memasuki blok itu melalui perbatasan Belarusia-Uni Eropa pada 2021, naik tajam dari tahun-tahun lalu.

Menurut Uni Eropa , Belarusia menjangkau calon pelancong melalui saluran yang tampaknya resmi, termasuk misi diplomatik dan agen perjalanan, dan mengundang mereka ke Belarusia dengan menawarkan mereka visa. Mereka kemudian diduga dipandu ke perbatasan Uni Eropa.

Dalam sepekan terakhir, setidaknya 2.000 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, terjebak di daerah perbatasan Belarusia-Polandia dalam kondisi yang mengerikan.

Sumber : Associated Press


×