Petani menjemur jagung di Desa Toabo, Mamuju, Sulawesi Barat, Jumat (30/7/2021). Menurut petani setempat, harga jagung di tingkat petani mengalami kenaikan harga dari Rp3.500 per kilogram menjadi Rp4.000 per kilogram akibat meningkatnya permintaan untuk | ANTARA FOTO ANTARA FOTO/Akbar Tado/wsj.

Ekonomi

24 Nov 2021, 08:39 WIB

Pemerintah Perkuat Produksi Jagung Lokal

Kementan tengah melaksanakan program peningkatan indeks pertanaman.

JAKARTA – Pemerintah mendorong produksi jagung dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan nasional. Presiden Joko Widodo (Jokowi) meninjau langsung serta melakukan penanaman jagung di area pertanian di Kecamatan Kelara, Jeneponto, Sulawesi Selatan. 

Jokowi berharap penanaman jagung varietas NASA 29 di area seluas 1.000 hektare tersebut dapat meningkatkan produksi jagung nasional. Setiap hektare dari lahan pertanian tersebut diharapkan mampu menghasilkan 6 sampai 7 ton jagung. “Kita harapkan dari setiap hektare nanti akan muncul hasil 6 sampai 7 ton dan di seluruh Provinsi Sulawesi Selatan kita harapkan juga akan keluar produksi 1,8 juta ton,” kata Jokowi, Selasa (23/11).

Ia mengatakan, kebutuhan jagung secara nasional memang masih belum tercukupi. Oleh karena itu, Jokowi berharap semakin banyak petani yang menanam jagung untuk memenuhi kebutuhan nasional dan mengurangi impor. “Semakin banyak petani yang menanam jagung, kekurangan stok jagung secara nasional dapat segera kita tutup dan tidak usah impor lagi,” ujarnya.

Mengenai harga jagung, Jokowi menyampaikan, harga jagung saat ini di Jeneponto relatif baik, yakni sebesar Rp 4.000 per kilogram. Namun, ia juga meminta agar harga jagung tersebut tidak memberatkan para peternak ayam dalam menyediakan pakan ternak.

“Ini memang dua hal yang harus bisa seimbang. Petani juga diuntungkan, tetapi para peternak juga harus diuntungkan. Inilah yang baru kita cari keseimbangannya kalau produksi secara nasional itu tercukupi,” ujarnya.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo optimistis dapat meningkatkan produksi jagung nasional. Saat ini, Kementan tengah melaksanakan program peningkatan indeks pertanaman sehingga petani dapat menanam jagung hingga tiga kali per tahun.

"Upaya konkret yang dilakukan untuk tercapainya peningkatan indeks pertanaman ini yakni penambahan alat mesin pertanian untuk percepatan olah tanah dan tanam, penggunaan bibit unggul, penyediaan sumur bor, dan terjaminnya aliran air irigasi dari bendungan Karalloe. Termasuk juga penyediaan fasilitas dana kredit usaha rakyat (KUR) bagi petani," ungkapnya.

Saat ini, indeks pertanaman jagung Jeneponto sebesar dua kali tanam setahun. Kementan terus mendorong pertanaman bisa menjadi tiga kali setahun. Jeneponto memiliki luas lahan jagung hingga 70.052 hektare dengan produktivitas 6 sampai 7 ton per hektare. Dari lahan itu dapat diperoleh produksi jagung sebanyak 280 ribu ton.

Jika indeks pertanaman ditingkatkan menjadi tiga kali setahun dan luas lahan jagung bisa ditingkatkan menjadi 100 ribu hektare, produksi yang diperoleh dapat mencapai 400 ribu ton.

"Dengan demikian, adanya peningkatan indeks pertanaman ini memberikan tambahan produksi jagung sebesar 120 ribu ton dan tambahan pendapatan sebesar Rp 540 miliar," ujarnya.

Teknologi pertanian

Rektor IPB University Arif Satria menyampaikan, penggunaan teknologi digital dalam sektor pertanian dapat menjadi jawaban saat ini untuk bisa memperkuat mitigasi terhadap ancaman krisis pangan nasional. Ancaman terhadap pangan bisa datang dari masalah krisis iklim, kekeringan, maupun kebakaran hutan. Memasuki era yang serbadigital, ia menilai budi daya pertanian dengan intervensi teknologi digital bisa memproyeksi faktor-faktor utama yang dapat memicu krisis pangan.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Kementerian Pertanian RI (kementerianpertanian)

"Kita bisa deteksi risiko-risiko apa yang akan muncul di sekitar kita dengan teknologi 4.0. Kami mendorong pelaku usaha di sektor pertanian untuk dapat mempercepat adaptasi teknologi sehingga kita bisa survive," kata Arif dalam webinar Propaktani, Selasa (23/11).

Arif mengatakan, sektor pangan yang menjadi bagian dari pertanian berperan penting dalam menopang krisis ekonomi dunia saat ini. Meski dihantam pandemi, geliat usaha pertanian tetap mampu menjaga kelangsungan ekonomi Indonesia, penyerapan lapangan kerja, hingga menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Dia menekankan, kebutuhan pangan tidak pernah putus dan terus meningkat seiring pertambahan jumlah penduduk. Oleh karena itu, ke depan, berbagai ancaman yang bisa menghambat kegiatan pertanian sebagai penghasil pangan harus dapat dimitigasi dengan cepat dan tepat.

"Bencana yang bisa datang ini harus direspons dengan efektif. IPB juga sudah memiliki pusat studi bencana yang memiliki kekhasan dalam masalah ini," ujarnya. 


×