Petugas memberikan informasi kepada nasabah terkait Sukuk Tabungan (ST) Seri ST006 di Bank Muamalat di Jakarta, Selasa (5/11). ST006 merupakan jenis sukuk hijau ritel (green sukuk retail) yang digunakan untuk membiayai proyek-proyek terkait lingkungan. Su | Republika/Prayogi
18 Nov 2021, 04:07 WIB

Sukuk RI Jadi Kontributor Utama Pasar Modal Syariah Global

Total penerbitan sukuk hijau Indonesia secara global senilai 3,5 miliar dolar AS sejak 2018.

JAKARTA – Kementerian Keuangan menyampaikan, Indonesia merupakan kontributor utama dalam penerbitan surat utang syariah atau sukuk di pasar modal syariah internasional. Total bagian Indonesia tercatat sebesar 23,11 persen dari seluruh penerbitan sukuk global.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, kontribusi Indonesia dari penerbitan sukuk global senilai 23,65 miliar dolar AS. “Di pasar modal syariah global, Indonesia merupakan kontributor utama penerbitan sukuk di pasar internasional. Bagian Indonesia adalah 23,11 persen dari penerbitan global,” ujar Sri dalam acara AICIF 2021 secara virtual, Rabu (17/11).

Menurut dia, Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk mengembangkan lebih banyak varian sukuk, seperti cash waqf linked sukuk (CWLS) dan sukuk hijau. Hal itu sejalan dengan komitmen pembahasan mengenai perubahan iklim di seluruh dunia.

Tercatat pada semester pertama 2021, pemerintah berhasil menerbitkan sovereign green sukuk tingkat global senilai 700 juta dolar AS. Total penerbitan sukuk hijau Indonesia secara global senilai 3,5 miliar dolar AS sejak 2018.

Terkait

“Dalam satu dekade terakhir, keuangan syariah menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat di industri keuangan global, bahkan melampaui pasar keuangan konvensional,” ucapnya.

Dia melanjutkan, laporan ekonomi syariah global 2020 memperkirakan nilai aset keuangan syariah akan meningkat sebesar 13,9 persen pada 2019. Namun, karena Covid-19, nilai aset keuangan diperkirakan stagnan pada 2020.

"Laporan ekonomi syariah global juga memperkirakan keuangan syariah global akan tumbuh sebesar 5 persen per tahun selama periode 2019 hingga 2024. Hal ini diperkirakan akan mencapai level aset 3,69 triliun dolar AS pada 2024," ucapnya.

 

Selain itu, industri halal juga memiliki potensi untuk tumbuh pesat. Tercatat pada 2019, total konsumsi produk halal di Indonesia sebesar 11,2 miliar dolar AS. Sri mengatakan, pengembangan industri halal menjadi fokus Indonesia karena tidak hanya dapat menopang perekonomian, tetapi juga mendorong terciptanya keadilan sosial. "Sangat penting untuk melanjutkan peluang ini dan membuat peran yang berarti dalam konteks permintaan yang terus tumbuh," ujarnya.

Meski begitu, penerbitan sukuk korporasi nasional masih lesu dan belum menunjukkan geliat signifikan. Kepala Divisi Pemeringkatan Korporasi Pefindo Niken Indriarsih menyampaikan, penerbitan sukuk korporasi tercatat sekitar Rp 6,5 triliun hingga kuartal III 2021.

"Penerbitan sukuk memang hingga kuartal III ini sekitar Rp 6,5 triliun. Dari sisi mandat yang kami terima, untuk penerbitan sukuk yang belum terealisasi yakni Rp 1,4 triliun," katanya.

Penerbitan sukuk yang diperingkat Pefindo tercatat sebesar Rp 4,5 triliun dari perusahaan BUMN dan Rp 1,5 triliun dari non-BUMN. Mayoritas penerbitan sukuk di sektor konstruksi diikuti pulp and paper, multifinance, serta pembiayaan.

Niken mengatakan, instrumen sukuk mencatat jumlah penerbitan paling rendah dibandingkan dengan instrumen lainnya. Dari sisi mandat penerbitan, sukuk memiliki rencana emisi terkecil dibandingkan dengan rencana penawaran umum berkelanjutan (PUB) yang sebesar Rp 10,3 triliun, PUB baru Rp 7,2 triliun, obligasi Rp 4,9 triliun, medium term notes (MTN) Rp 2,4 triliun, dan sekuritisasi Rp 1,8 triliun.


×