Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

Salah Kira

Jika seseorang buruk sangka dan tidak mengklarifikasi, ia akan salah kira.

Oleh Hasan Basri Tanjung

 

OLEH HASAN BASRI TANJUNG

Dahulu, ada dua orang bersaudara dari Bani Israil yang perilakunya berbeda. Seorang suka berbuat dosa, sedangkan seorang lagi rajin beribadah. Lalu, ketika melihat saudaranya yang pendosa, ahli ibadah selalu menasihati, “Berhentilah!”

Hingga suatu hari, ia melihatnya berbuat dosa lagi dan mengingatkan, “Berhentilah!” Namun, saudaranya menjawab, “Biarkan aku bersama tuhanku, apakah engkau diutus hanya untuk mengawasiku?” Seketika ahli ibadah itu berkata, “Demi Allah, sungguh Allah tidak akan mengampunimu atau tidak akan memasukkanmu ke surga.”

Kemudian, Allah mencabut nyawa keduanya dan mengumpulkan di sisi Rabb semesta alam. Allah pun bertanya kepada ahli ibadah, “Apakah engkau lebih tahu dari-Ku, atau engkau mampu melakukan apa yang ada pada kekuasaan-Ku?” Lalu, Allah berkata kepada ahli maksiat, “Pergi dan masuklah ke dalam surga dengan rahmat-Ku.” Kemudian, Allah pun berkata kepada ahli ibadah, “Pergilah engkau ke dalam neraka.” (HR Abu Daud).

Setidaknya, ada dua kesalahan ahli ibadah tersebut yang mesti kita hindari. Pertama, salah kira terhadap orang lain. Sikap ini muncul dari buruk sangka yang mengira orang berdosa tidak diampuni bahkan tidak akan masuk surga. Padahal, setiap amal bukan hanya dinilai dari pangkal dan tengah, akan tetapi juga ujungnya (HR Bukhari).

Jika seorang buruk sangka dan tidak mengklarifikasi, ia akan salah kira. Mengira orang lain gagal, padahal berhasil. Mengira orang lain bohong, padahal jujur. Mengira orang lain salah, padahal benar. Bahkan, mengira orang lain masuk neraka, padahal masuk surga. Salah kira akan menanggung dosa dan siksaan batin yang melelahkan.

Kedua, salah kira terhadap diri sendiri. Sikap ini timbul dari ujub (kagum) dan takabur (membesarkan diri). Orang yang ujub dan takabur selalu fokus pada kelebihan dirinya dan enggan mengakui keunggulan orang lain. Sikap ini sangat berbahaya dan tidak disukai Allah SWT. Oleh sebab itulah, sebiji zarah kesombongan pun dalam hati akan menjerumuskan ke neraka (HR Bukhari).

Jika seorang dihinggapi penyakit hati tersebut, maka ia akan salah kira. Mengira dirinya benar, padahal salah. Mengira dirinya baik, padahal buruk. Mengira dirinya pandai, padahal bodoh. Bahkan, mengira dirinya masuk surga, padahal masuk neraka. Ia tersesat di jalan yang terang, karena tertipu oleh rayuan setan (QS az-Zukhruf [43]: 37).

Allah SWT berfirman, “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Apakah perlu kami beri tahukan orang-orang yang paling rugi perbuatannya kepadamu?’ (Yaitu) orang-orang yang sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu adalah orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhannya dan pertemuan dengan-Nya….” (QS al-Kahf [18]: 103-105).

Prof Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar menjelaskan, serugi-ruginya amalan adalah usaha yang menghabiskan tenaga, tapi hasilnya tidak ada bahkan mengecewakan. Sejak semula telah sesat memilih jalan.

Tuhan telah menunjukkan jalan yang lurus, tetapi tidak mau menempuh jalan itu dan membuat jalan sendiri. Mereka mendahulukan kehendak hati dan tidak mengacuhkan tuntunan Tuhan.

Allahu a’lam bissawab.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat