Teknisi Tower Bersama Indonesia Group memeriksa salah satu komponen di menara BTS Pulau Tidung, Kabupaten Kepulauan Seribu DKI Jakarta, Rabu (18/9). TBIG memiliki 26.713 penyewaan dan 15.344 site telekomunikasi. 15.272 menara telekomunikasi dan 72 jaringa | Yogi Ardhi/Republika
25 Oct 2021, 09:55 WIB

Mewujudkan Kelanggengan Industri Telekomunikasi 

Jumlah pelanggan telekomunikasi sudah di titik jenuh tapi bertipe konsumen bandwidth hunger.

Program Transformasi Digital Nasional 2024 yang dicanangkan pemerintah merupakan harapan bangkitnya ekonomi Indonesia di masa pandemi. Program ini diharpkan dapat melahirkan pertumbuhan rata-rata lima persen, dari 2022 hingga 2026. 

Sektor telekomunikasi dianggap bisa menjadi salah satu industri pendorong. Lewat ekonomi digital yang bertumpu pada kemajuan teknologi telematika, diharapkan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah dapat terealisasi.

Sayangnya, industri telekomunikasi saat ini di Indoesia, bahkan di seluruh dunia, sedang tidak berada dalam kondisi baik. Menurut Sarwoto Atmosutarno selaku Ketua Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), capex (capital expenditure-Red) perusahaan terus meningkat akibat kebutuhan bandwith yang lebih besar.

“Dapat dikatakan sekarang jumlah pelanggan telekomunikasi sudah di titik jenuh tapi bertipe konsumen bandwidth hunger. Sedangkan harga layanan data di Indonesia merupakan yang terendah setelah India,” ujarnya menjelaskan, dalam diskusi terbatas pekan lalu.

Terkait

Dengan harga layanan yang terus turun, hal ini berpengaruh pula pada pendapatan yang menurun. Sedangkan, biaya investasi tinggi dan teknologinya memiliki durasi tertentu dengan kebutuhan pergantian platform. 

Saat ini, Sarwoto menyebutkan, pergeseran nilai telekomunikasi sudah tidak lagi dikuasai oleh operator, tapi beralih ke perangkat dan aplikasi. Kondisi ini sudah diprediksi sejak 2013 dimana pendapatan konten akan lebih besar dari infrastruktur. 

Padahal tanpa operator telekomunikasi semua industri teknologi itu tidak berdaya. Untuk itu industri telekomunikasi membutuhkan langkah-langkah inovasi, salah satunya dengan melakukan konsolidasi bisnis atau merger, seperti yang dilakukan oleh Indosat Ooredoo dan Hutchison Tri Indonesia belum lama ini. 

Menurut Sarwoto, dengan merger, akan terjadi sinergi sehingga bisa melakukan efisiensi dan menekan biaya. Sebab, operator yang tidak bisa mencapai target EBITDA enam hingga delapan persen pertahun selama empat sampai enam tahun berturut akan mati dengan sendirinya.  

Lewat merger, kedua perusahaan juga bisa melakukan akuisisi data konsumen dan membangun market share bersama. Saat ini, jumlah pelanggan Tri sebanyak 44 juta dan Indosat Ooredoo 60 juta, yang jika dijumlahkan akan menempati posisi kedua operator dengan jumlah pelanggan terbanyak. 

Tren Bertumbuh 

photo
Petugas melayani pelanggan Indosat Ooredoo di Menara Indosat, Jakarta, Kamis (19/11). Indosat resmi menjadi Indosat Ooredoo yang akan menghadirkan dunia digital lebih mudah diakses dan terjangkau. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/nz/15 - (ANTARA FOTO)

Namun merger hanyalah pintu masuk untuk menyelamatkan operator dari kondisi pasar saat ini. Untuk keluar dari posisi bertahan hingga mencapai kondisi sehat dan bertumbuh, operator juga perlu bertransformasi menjadi perusahaan teknologi. 

Caranya, adalah dengan mengakuisisi perusahaan-perusahaan teknologi rintisan sembari berinvestasi di infrastruktur. Pertumbuhan perusahaan teknologi secara global berkembang pesat dengan kapitalisasi pasar tumbuh 29 persen. Tren ini makin  diakselerasi oleh dampak Covid-19, sedangkan perusahaan telekomunikasi tumbuh stagnan hanya tiga persen. 

Melihat data tersebut maka akan sangat menguntungkan jika perusahaan telekomunikasi mau mengubah diri menjadi perusahaan teknologi. Menurut Sawrwoto, perburuan usaha rintisan juga tengah menjadi tren di kalangan operator saat ini. 

Meski berisiko besar, mengakuisisi usaha rintisan jauh lebih murah dan diharapkan lebih menguntungkan, dibandingkan dengan mengakuisisi perusahaan teknologi kelas unicorn. “Lewat merger dan perbaikan infrastruktur, operator bisa mempunyai posisi tawar yang baik untuk dapat mengakuisisi perusahan teknologi incarannya,” Sarwoto melanjutkan, 

Sehatnya industri telekomunikasi tidak hanya akan berguna bagi industri itu sendiri. Tapi juga, keberlangsungan hidupnya memberi dampak sangat besar bagi program transformasi digital nasional. 

Karena tanpa internet, ekonomi digital yang diharapkan meningkatkan pendapatan negara  tidak akan tercapai. Butuh peran pemerintah untuk mempercepat regulasi yang dibutuhkan dan peran masyarakat untuk mendorongnya agar index digital Indonesia dapat meningkat.


×