IKHWANUL KIRAM MASHURI | Daan Yahya | Republika
25 Oct 2021, 03:45 WIB

Syekh Al-Azhar Tabuh Lonceng Bahaya Perubahan Iklim

Bahaya perubahan iklim tahun ini sangat dirasakan penduduk di berbagai belahan dunia.

OLEH IKHWANUL KIRAM MASHURI 

Prioritas Syekh Akbar Al-Azhar Prof Dr Ahmad Tayeb tampaknya kini bergeser. Sebelumnya, pemimpin tertinggi Al-Azhar ini mengampanyekan moderasi Islam, dialog antarpemeluk agama, perang terhadap radikalisme-ekstremisme-terorisme, sekarang ia lebih banyak bicara bahaya perubahan iklim.

Bahaya perubahan iklim tahun ini sangat dirasakan penduduk di berbagai belahan dunia. Dari banjir bandang di beberapa negara Eropa, suhu panas yang mencapai rekor tertinggi di wilayah Arab dan Asia Tengah, hingga beberapa pulau tenggelam di beberapa negara.

Syekh Al-Azhar terpanggil membunyikan lonceng tanda bahaya, mengingatkan siapa saja, utamanya pemimpin negara yang akan menghadiri COP26, forum tingkat tinggi tahunan 197 negara membicarakan perubahan iklim dan bahayanya. COP26 akan digelar di Glasgow, Skotlandia, awal November ini.

Terkait

 

 
Bahaya perubahan iklim tahun ini sangat dirasakan penduduk di berbagai belahan dunia. 
 
 

 

Lonceng tanda bahaya itu ditindaklanjuti Syekh Al-Azhar dengan mengajak pemimpin agama dari berbagai belahan dunia. Sebuah ‘dokumen seruan bersama’ ditandatangani, di Vatikan, 4 Oktober lalu, bertema ‘Iman dan Ilmu Pengetahuan: Menuju Konferensi Perubahan Iklim PBB COP26’.

Syekh Al-Azhar meyakini, semua agama peduli untuk melestarikan bumi. Ia menegaskan, semua pihak, utamanya pemimpin negara, harus segera bertindak serius memerangi bahaya perubahan iklim.

Menurut Ahmad Sawi, pemimpin redaksi majalah Voice of Al-Azhar, sebagaimana dikutip BBC News Arabic, Al-Azhar sadar perannya yang besar dalam melestarikan alam setelah perubahan iklim benar-benar menjadi ancaman umat manusia.

Al-Azhar kini menjadikan bahaya perubahan iklim sebagai isu utama, yang dimulai sejak 2012 ketika memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Di dalam negeri, Syekh Al-Azhar bersama Paus Tawadros II dari Gereja Koptik Mesir, berkampanye untuk meningkatkan kesadaran warga mengenai bahaya pencemaran lingkungan.

Pada April 2020, saat peringatan Hari Bumi Sedunia, Al-Azhar menyerukan ‘untuk tidak merusak tanah yang telah Tuhan berikan kepada kita, bersih, murni, dan layak untuk kehidupan’. Al-Azhar meminta semua pihak menghindari perilaku merusak alam.

 

 
Pada April 2020, saat peringatan Hari Bumi Sedunia, Al-Azhar menyerukan ‘untuk tidak merusak tanah yang telah Tuhan berikan kepada kita, bersih, murni, dan layak untuk kehidupan’.
 
 

 

Peran Al-Azhar melestarikan bumi bukan sekadar seruan, melainkan juga dalam aksi.  Antara lain, melalui komite ‘pengabdian masyarakat dan pengembangan lingkungan’ yang didirikan Universitas Al-Azhar, menjadikan institusi Al-Azhar ramah lingkungan.

Al-Azhar memproduksi energi listrik dari matahari. Dalam dua tahun terakhir, Al-Azhar menyusun kurikulum pelestarian alam dan lingkungan yang wajib diajarkan kepada siswa dari tingkat SD hingga SMA di lingkungan Al-Azhar.  

Pengaruh Al-Azhar dinilai sangat mendunia, termasuk melalui puluhan ribu alumnusnya. Alumninya itu banyak menjadi ulama besar, pemimpin, dan tokoh masyarakat di negara masing-masing. Sikap Al-Azhar tentu menjadi acuan alumninya.

Selaras dengan sikap Al-Azhar, kesadaran ahli fikih dan ulama terhadap pentingnya pelestarian alam, meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Dokumen penting mereka rilis dengan judul "Deklarasi Islam tentang Perubahan Iklim".

Dokumen ini diterbitkan di Istanbul, Turki, pada 2015, dan disusun melalui pendekatan yurisprudensi Islam (fikih) terhadap posisi agama dalam perubahan iklim, yang berangkat dari fakta ‘ekosistem dan kehidupan manusia terancam akibat dari perubahan iklim’.

Dalam pengantar tertulis: "Tuhan tidak menciptakan ciptaannya dengan sia-sia atau tidak berharga...Dia (Tuhan) menciptakan bumi dalam keseimbangan sempurna dan memberi kita tanah subur, udara bersih, air segar, dan semua karunia bumi yang membuat hidup kita menyenangkan."

 
Selaras dengan sikap Al-Azhar, kesadaran ahli fikih dan ulama terhadap pentingnya pelestarian alam, meningkat dalam beberapa tahun terakhir. 
 
 

Namun, bencana terjadi akibat perubahan iklim yang disebabkan manusia yang tidak menjaga keseimbangan.

"Kita hanyalah salah satu dari banyak makhluk hidup yang dengannya kita berbagi bumi ini dan tidak berhak menindas atau merusak makhluk lain. Kita harus memperlakukan segala sesuatu dengan ketakwaan dan kebaikan.’’

Menurut ulama yang menandatangani dokumen itu, solusi radikal perubahan iklim terletak pada negara kaya dan penghasil minyak.

Mereka menyerukan kepada negara kaya dan penghasil minyak, mengurangi emisi gas rumah kaca, memberi dukungan kepada negara kurang makmur mengurangi emisi, dan mengurangi konsumsi sehingga orang miskin memperoleh manfaat dari sisa-sisa bahan bumi yang tidak dapat diperbarui itu.

Kepada lembaga dan organisasi Islam, Dokumen Istanbul menuntut mereka menghilangkan kebiasaan buruk yang menyebabkan perubahan iklim, kerusakan alam dan lingkungan, serta hilangnya keanekaragaman hayati.

Kepada umat Islam, ulama meminta untuk meneladan Nabi Muhammad SAW. Antara lain, melindungi hak makhluk lain, tidak menebang pohon, tidak boros, menghemat air, dan mendaur ulang barang lama dengan memperbaikinya atau memberikannya kepada orang lain.

Di Indonesia, rasanya tak sulit ikut melestarikan alam, bisa diajarkan  kepada anak sekolah, disampaikan lewat khutbah Jumat dan majelis taklim, serta acara peringatan maulid Nabi SAW seperti sekarang. 


×