Pengunjung membaca kitab kuno bertema Islam di perpustakaan Masjid Agung Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat di Solo, Solo, Jawa Tengah, Jumat (16/4/2021). Intelektual Muslim berperan penting dalam penyebaran syiar Islam sejak ratusan tahun silam. | ANTARA FOTO/Maulana Surya
19 Oct 2021, 09:28 WIB

Intelektual Islam Indonesia Dalam Sejarah

Intelektual Muslim berperan penting dalam penyebaran syiar Islam sejak ratusan tahun silam.

 

OLEH MUHYIDDIN

 

Kaum cendekiawan dan intelektual Muslim berperan penting dalam penyebaran syiar Islam sejak ratusan tahun silam. Karena itu, geliat dakwah di Tanah Air tidak terlepas dari perkembangan gagasan dan pemikiran mereka sepanjang sejarah. Dinamika itu terus berlangsung, baik pada waktu sebelum, selama, dan sesudah kolonialisme bangsa-bangsa Eropa melanda Nusantara.

Terkait

Kurun waktu antara abad ke-19 dan 20 bisa dipandang sebagai klimaks penjajahan Barat di Indonesia. Pada masa itu, kalangan alim ulama menjadi motor perjuangan bangsa Pribumi dalam melawan penindasan. Beberapa kali, rezim kolonial memadamkan pemberontakan. Bagaimanapun, ide dan spirit jihad tidak bisa dipadamkan.

Bagaimana kiprah golongan cerdik cendekia Muslim dalam rentang sejarah masa itu? Untuk menjawabnya, karya Dr Miftahuddin Mhum ini bisa menjadi sebuah opsi. Kitab referensi itu berjudul Sejarah Perkembangan Intelektual Islam di Indonesia: Dari Abad XIX Sampai Masa Kontemporer. Buku tersebut memotret perkembangan intelektual Muslim di Tanah Air, serta dalam konteks jaringan ulama global.

Miftahuddin merupakan seorang penulis dengan latar belakang dunia santri. Ia pernah menimba ilmu-ilmu agama di Pondok Pesantren Wahid Hasyim Gaten, Condongcatur, Daerah Istimewa Yogyakarta. Adapun pendidikan tinggi pertama-tama ditempuhnya di Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Gelar doktor pun diraihnya di kampus yang sama, yakni dalam bidang studi Sejarah Kebudayaan Islam. Sejak 2003, dirinya tercatat sebagai salah satu dosen program studi Ilmu Sejarah, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Dalam karyanya ini, Miftahuddin menguraikan kronik sejarah pemikiran Islam sejak permulaan abad modern di Indonesia. Bagaimanapun, penjelasannya tidak langsung bermula pada kurun abad ke-19. Terlebih dahulu, dirinya menjelaskan awal pembumian Islam di Nusantara serta embrio perkembangan intelektual Muslimin setempat.

Menurut penulis, periode sejak akhir abad ke-16 hingga 19 telah memunculkan tonggak-tonggak intelektualitas Muslim yang cemerlang. Hal itu ditandai dengan munculnya banyak ulama yang juga penulis kitab-kitab. Dengan begitu, reputasi mereka tidak hanya dikenal melalui dakwah lisan yang dilakukannya, tetapi juga karya-karyanya yang melintasi ruang dan waktu.

 
Pada abad ke-17, kaum Muslimin di Asia Tenggara dilanda dua gelombang intelektualitas.
 
 

Pada abad ke-17, lanjutnya, kaum Muslimin di Asia Tenggara dilanda dua gelombang intelektualitas. Pertama, apa yang disebut Miftahuddin sebagai gelombang Syekh Hamzah Fansuri dan Syekh Samsuddin. Corak yang dominan dari keduanya ialah pemikiran Wahdat al-Wujud.

Kedua, gelombang yang lebih berwarna-warni. Para ulama dalam kelompok ini tidak hanya dikenal luas sebagai ahli tasawuf, tetapi juga fikih dan syariat. Sebut saja tokoh-tokoh semisal Nuruddin al-Raniri, Abdurrauf al-Singkili, dan Syekh Muhammad Yusuf al-Makassari. Tren intelektualitas yang mereka usung terus bertahan di Indonesia hingga memasuki abad ke-19.

Pembahasan buku ini terbagi ke dalam tiga bab. Pertama menjelaskan awal mula syiar Islam di Tanah Air dalam konteks aktivitas kaum intelektual, sebagaimana dibahas di atas. Bab kedua mengulas tentang dinamika intelektual Islam pada abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20.

Seperti dijelaskan penulis di awal buku ini, pembaharuan Islam pertama di Nusantara ditandai dengan munculnya pemikiran Nuruddin al-Raniri dan Abdurrauf al-Singkili pada abad ke-17. Menurut Mifahuddin, inti dari pembaharuan ini adalalah mengkritisi pemikiran tasawuf falsafi dan menawarkan bentuk tasawuf sunni.

Kemudian, wacana pembaharuan Islam di Indonesia baru muncul lagi pada masa-masa pertama abad ke-19 dengan mengusung gagasan “reformasi Islam”. Menurut penulis, saat itu para pelajar Indonesia yang telah belajar di Makkah al-Mukarramah banyak yang membawa ide-ide Wahabiyah ke Tanah Air.

Untuk selanjutnya, gagasan-gagasan pembaruan Islam mulai diperkenalkan di Indonesia. Itu terutama berlangsung pada tahun-tahun terakhir abad ke-19. Dengan demikian, semakin banyak kaum Muslimin Indonesia yang menaruh perhatian besar pada dinamika di “pusat” dunia Islam, yakni Tanah Suci dan juga Mesir.

 
Semakin banyak kaum Muslimin Indonesia yang menaruh perhatian besar pada dinamika di “pusat” dunia Islam, yakni Tanah Suci dan juga Mesir.
 
 

Negeri Piramida pada awal abad ke-20 menghadirkan dialektika yang sangat dinamis. Mesir saat itu mengalami persentuhan intelektualitas dengan dunia Barat. Gagasan modernisme dan kemajuan (progres) menjadi pembahasan banyak cendekiawan Muslim setempat.

Maka, lahirlah ulama-ulama yang mengusung ide pembaharuan Islam. Sebut saja, Syekh Jamaluddin al-Afghani (wafat 1897), Muhammad Abduh (wafat 1905), dan Muhammad Rasyid Ridha (wafat 1935). Melalui para pelajar Indonesia di Tanah Suci serta majalah-majalah terbitan Mesir, gagasan mereka akhirnya diterima di beberapa daerah Tanah Air. Bahkan, sejumlah ulama besar kemudian mendirikan organisasi-organisasi dengan semangat tajdid Islam.

Sementara kaum pembaharu bergiat, kalangan pesantren terus berdinamika. Mereka tetap mempertahankan tradisi ahlus sunnah waljama’ah (aswaja). Mayoritasnya berkiblat pada pemikiran seorang imam mazhab, yakni Imam Syafii. Dalam bidang kalam, rujukannya ialah antara lain Abu Musa al-Asy’ari. Adapun dalam hal tasawuf, acuannya ialah antara lain Syekh Juneid.

Pada bab kedua ini, penulis juga memaparkan tentang kondisi sosial-keagamaan umat Islam awal abad ke-20 dan pertentangan Islam modern dan Islam tradisional. Selain itu, penulis juga membahas tentang relasi Islam dan Negara yang menyuguhkan pandangan pemikiran Islam Soekarno dan pemikiran Mohammad Natsir.

Sedangkan pada bab yang ketiga, penulis menyuguhkan pembahasan tentang wacana intelektual Islam pada masa kontemporer. Pada bagian ini, penulis memulai pembahasannya dengan menggambarkan Islam dan kondisi sosial-politik pada masa Orde Baru.

Dengan naiknya rezim Orde Baru dan gagalnya kudeta PKI pada 1965, banyak kalangan pemimpin dan aktivis politik Islam yang memiliki harapan besar. Harapan itu tampak jelas di kalangan bekas pemimpin Masyumi dan pengikut-pengikutnya. Selama periode Demokrasi Terpimpin, mereka benar-benar tersudutkan.

Era kontemporer

Dalam membahas pembaruan Islam di masa kontemporer, penulis juga menunjukkan peran kelompok muda pada awal dasawarsa 1970-an. Seorang tokohnya ialah Nurcholis Madjid atau Cak Nur.

Salah satu coraknya ialah cenderung enggan kembali pada memori tentang politik Islam atau Islam politik, sebagaimana terjadi pada masa Orde Lama. Mereka mengimpikan perjuangan umat yang lebih terarah pada substansi ajaran agama ini. Lebih khusus lagi, perhatiannya pada upaya pemodernan pemahaman Islam.

Dalam hal ini, gagasan sekularisasi yang dikumandangkan Nurcholis Madjid pun masuk ke dalam pembicaraan publik. Berbagai gagasan lainnya juga muncul dan mendominasi wacana keislaman. Cak Nur lalu menghadapi banyak diskusi dan prokontra seputar idenya itu.

Tidak hanya dirinya. Dalam masa ini, seorang pemikir lainnya yang layak dikenang ialah KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Presiden keempat RI itu mengajukan banyak gagasan, semisal kontekstualisasi dan pribumisasi Islam.

Ada pula, Munawir Sjadzali dengan idenya tentang reaktualisasi Islam. Selain menjabarkan konsep pembaharuan pemikiran Islam Nurcholis Madjid dan Gus dur, pada bagian akhir buku ini juga mengupas tentang gagasan Islam rasional dari Harun Nasution.

Pada bagian akhir inilah, menurut kami, terletak daya tarik buku tersebut. Karena, pada bagian ini penulis banyak menyuguhkan gagasan-gagasan baru dari para pemikir dan intelektual Muslim Indonesia. Sebagai contoh, seorang guru besar UIN Syarif Hidayatullah, Prof Azyumardi Azra.

Di samping itu, penulis juga membahas tentang peran kalangan muda Nahdlatul Ulama (NU) dalam pembaruan Islam terkini. Pada awal 1990-an, situasi telah banyak berubah dan terasa kian dinamis. Menurut penulis, kelompok-kelompok muda, semisal NU itu, menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Hal itu diakui para pengamat, semisal Martin van Bruinessen.

Secara umum, buku ini banyak mendiskusikan tema wacana intelektual Islam masa kontemporer hingga peran kaum intelektual dalam pembaruan Islam. Buku ini layak dibaca oleh para peneliti, akademisi, dan juga para calon pemikir Islam di masa sekarang ini.

Tidak seperti buku sejarah yang pada umumnya membosankan, khazanah pemikiran yang terkandung di dalamnya sangat mudah untuk dipahami dan memunculkan rasa penasaran. Karena itu, buku ini menjadi bacaan wajib bagi siapapun yang ingin memperluas wawasan pemikiran keagamaan Islam. 

photo
Historiografi pemikiran kaum intelektual Muslim Indonesia sejak era modern dijelaskan dengan bernas dalam buku ini. - (DOK PRI)

DATA BUKU

Judul: Sejarah Perkembangan Intelektual Islam di Indonesia: Dari Abad XIX Sampai Masa Kontemporer

Penulis: Miftahuddin

Penerbit: UNY Press

Tebal: 153 halaman


×