Ustaz Umaier Khaz | DOK IST
17 Oct 2021, 03:39 WIB

Ustaz Umaier Khaz, Hikmah Taat kepada Allah

Amalan hati yang paling penting dan paling sulit dilakukan adalah ikhlas.

Allah SWT menciptakan manusia agar mereka beribadah hanya kepada-Nya. Dalam melaksanakan amal ibadah, ketaatan perlu untuk dipegang teguh setiap hamba-Nya yang beriman. Hal itu disampaikan Ustaz Umaier Khas.

Menurut ketua umum Forum Komunikasi Aktivis Masjid (FKAM) itu, taat bisa dimaknai sebagai ketundukan kepada Allah Ta’ala. Seorang Muslim tunduk secara suka rela kepada-Nya karena hatinya tergerak untuk itu. Untuk menjaga konsistensi, diperlukan profesionalitas. Dalam arti, ketaatannya kepada Allah pun dilakukan secara profesional.

“Banyak ulama membahas soal profesionalitas dalam ketaatan. Maksudnya, ini isyarat bagi kita bahwa profesional itu bukan hanya dalam urusan-urusan pekerjaan duniawi,” ujar dosen Pendidikan Da’i Akademik Alquran Klaten, Jawa Tengah, itu.

Seperti apa makna dan hikmah taat itu? Bagaimana menjaga tekad dalam diri agar selalu konsisten menaati-Nya? Seperti apa kiat-kiat menjadi seorang Muslim yang saleh, menurut para ulama dan sufi?

Terkait

Berikut hasil perbincangan wartawan Republika, Muhyiddin, bersama alumnus Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta ini, beberapa waktu lalu.

Dalam Alquran, perintah taat sering disebutkan. Apa maknanya?

Secara bahasa, taat  itu sebenarnya tidak hanya tunduk secara terpaksa. Tunduknya itu juga dengan sukarela. Makanya, Allah berfirman, misalnya, dalam surah Ali Imran ayat 83. “Afaghaira diinillaahi yabghuuna wa lahuu aslama man fis samaawaati wal ardhi thaw ‘aw wa karhaa.” Artinya, “Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain agama Allah, padahal apa yang di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, (baik) dengan sukarela maupun terpaksa.”

Jadi, memang ada ketaatan tanpa paksaan. Nah, kita sebagai Muslimin mengetahui, manusia diciptakan oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya. Inti dari beribadah adalah taat, yaitu tunduk pada perintah-perintah Allah. Semua yang diperintahkan-Nya dikerjakan. Semua larangan-Nya dijauhi.

Bagaimana kiat menjadi seorang Mukmin yang taat?

Jika untuk urusan dunia saja kita harus serius dan profesional, mengapa tidak juga untuk akhirat? Taat kepada Allah pun harus dilakukan dengan profesional. Banyak ulama membahas soal profesionalitas dalam ketaatan.

Maksudnya, ini isyarat bagi kita bahwa profesional itu bukan hanya dalam urusan-urusan pekerjaan duniawi, tetapi juga ketaatan kita kepada Allah.

Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi menyertakan bab khusus, yakni “Al-Iqtishadu fit Tha’ah. Artinya, profesionalitas dalam ketaatan. Di situ, ia menyebutkan sebuah hadis dari Siti ‘Aisyah yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

Dalam hadis itu, Rasulullah SAW menegur seorang temannya ‘Aisyah yang sangat rajin beribadah sampai-sampai lupa waktu, “Hendaknya dia menghentikan kebiasaannya itu dan beramal sesuai dengan kemampuannya. Demi Allah, Allah tidak bosan sampai kamu sendiri yang merasa bosan.”

Berarti, orang hendaknya taat kepada Allah sesuai kadar yang dimiliki?

Ya, dan konsistensi juga penting. Rasulullah SAW juga bersabda, “Sebaik-baik amalan di sisi Allah itu adalah yang dikerjakan secara terus menerus.”

Dari hadis ini, Imam Nawawi dan para ulama lainnya memberikan keterangan, profesional dalam ketaatan itu dianjurkan Nabi SAW. Dan, itu diringkas Imam Nawawi menjadi empat kaidah penting.

Apa saja keempat kaidah itu?

Pertama, tidak saleh sendirian. Maksudnya, kita harus mengajak orang lain untuk menjadi saleh juga. Orang-orang di sekeliling kita, terutama. Kedua, beramal sesuai kemampuan.

Dengan kata lain, tidak berlebihan dalam beribadah. Sebab, ibadah yang berlebihan, yakni di luar batas kemampuan, hanya akan menjadikan kita orang yang futur. Atau, kondisi imannya malah menjadi tidak baik karena kaget dengan amalan yang berlebihan tadi.

Kaidah ketiga, dalam beramal harus maksimal. Sebab, Allah tidak pernah bosan melihat amalan kita. Yakinlah bahwa Allah pasti membalas setiap amalan kita, dan melihat pula usaha-usaha kita. Keempat, dalam beramal yang penting ialah tidak hanya kualitas dan kuantitas, tetapi juga kontinuitas. Sabda Nabi SAW, sebaik-baik amal yang dicintai Allah ialah yang dikerjakan terus-menerus.

Bagaimana tolok ukur ketaatan seseorang dalam beragama?

Tolok ukurnya, syariat, yaitu Alquran dan Sunnah sesuai petunjuknya para ulama. Arahan alim ulama penting karena kita, orang biasa, tidak bisa memahami Alquran dan Sunnah sendirian. Intinya, harus punya guru.

Banyak ulama mengatakan, “Barangsiapa yang belajar tanpa guru, maka setanlah gurunya”. Maksudnya, dalam diri manusia bisa dominan hawa nafsunya. Dan, hawa nafsu selalu mengajak kepada keburukan.

Nah, kalau kita mempelajari Alquran dan as-Sunnah sendirian, khawatirnya nanti kita condong pada apa-apa yang kita mau saja, bukan yang diinginkan Allah.

Perihal konsistensi dalam beramal, adakah kiatnya untuk menjaga hal itu?

Pertama-tama, kita berdoa kepada Allah  dengan susunan kata-kata yang diajarkan Rasulullah SAW. Kedua, kita pun mesti mengenali kondisi iman dalam diri sendiri. Ketika imannya lagi naik, seseorang biasanya akan memaksimalkan amalan-amalan sunah. Sebaliknya, kalau lagi turun, minimal dia menjaga amalan wajib saja.

Ketiga, kita harus dekat juga dengan ilmu dan para ahli ilmu. Dengan begitu, perkara-perkara yang tidak diketahui bisa langsung ditanyakan kepada ulama. Maka, dia harus gemar menghadiri majelis-majelis ilmu. Dengan ilmulah, kita dapat membedakan, mana yang benar dan mana yang salah.

Keempat, pertemanan. Carilah komunitas yang baik atau kawan-kawan yang saleh. Berkawan memang bisa dengan siapa saja, tetapi persahabatan semestinya utamakan dengan orang-orang saleh. Sebab, mereka akan selalu mengingatkan kita pada kebenaran dan kebaikan. Terakhir, mengingat kematian. Zikrul maut akan menyadarkan bahwa kita masih butuh banyak bekal nanti menjalani kehidupan di akhirat.

Sering dikatakan, ikhlas menjadi kata kunci untuk ketaatan. Bagaimana mencapai derajat ikhlas?

Benar, ikhlas adalah kata kunci untuk taat kepada-Nya. Dalam konsep beribadah, amalan-amalan hati itu lebih prioritas atau lebih diperhatikan daripada amalan-amalan yang sifatnya fisik. Jika amalan hatinya baik, insya Allah akan menjadi amalan fisik yang baik. Namun, ketika amalan fisik baik, belum tentu amalan hatinya ikut baik.

Amalan hati yang paling penting dan paling sulit dilakukan adalah ikhlas. Para ulama mengatakan, dua hal yang menjadi pengotor hati manusia sehingga sukar ikhlas dalam beribadah. Pertama, niatan untuk mendapatkan pujian. Kedua, hasrat untuk mendapatkan dunia.

Lantas bagaimana cara mencapai ikhlas? Pertama, gantilah kegelisahan kita terhadap dunia menjadi kegelisahan terhadap akhirat. Maka, kita akan tergerak untuk melakukan semua amalan hanya untuk Allah.

Kedua, khawatirlah dengan amalan-amalan kita. Takutlah kalau amalan kita tidak diterima oleh Allah. Ketiga, tafakur diri. Introspeksi bahwa kita ini masih kurang banyak amal salehnya.

Keempat, dan ini dinasihatkan para ulama juga, ialah senantiasa menyembunyikan amalan. Dengan begitu, lebih selamat dari ujian. Sebab, terkadang hati tidak kuat kalau dipuji-puji orang lain.

Kelima, jangan meremehkan amalan-amalan kecil. Bisa jadi amalan kecil itulah yang justru, karena dikerjakan secara ikhlas, menjadi penyebab kita masuk surga.

Seorang insan sering tergelincir dalam kesalahan dan dosa. Bagaimana kiat agar tobat bisa mengubah diri menjadi lebih taat kepada Allah?

Agar betul-betul mengubah karakteristik seseorang, maka tobatnya haruslah sampai ke level nasuha. Allah SWT telah memerintahkan begitu, seperti tersirat dalam Alquran surah at-Tahrim ayat 8. Nah, seperti apakah tobat nasuha itu?

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan, tobat nasuha adalah bahwa seseorang bertobat dari satu dosa. Orang itu pun berkomitmen untuk tidak mengulanginya dosa yang sama lagi. Syarat tobat itu sendiri ada tiga, pertama adalah al-Iqla. Maknanya, betul-betul meninggalkan maksiat.

Kedua, an-Nadam, yakni menyesali dosa-dosa yang lalu. Ketiga, mesti ada al-Azm, yakni keingingan yang kuat untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Setelah itu, insya Allah, tobatnya diterima oleh Allah.

Makanya, momen yang penting itu justru setelah bertobat. Banyak orang yang, setelah tobat, justru balik lagi ke masa lalunya. Makanya, Imam Ghazali menyebutkan dalam kitabnya, Ihya’ Ulum ad-Din, lima tips setelah bertobat. Kami istilahkan itu dengan “5 M.” Yakni, mu'ahadah, mujahadah, muraqabah, muhasabah, dan mu'aqabah.

Sebagai seorang aktivis masjid, apa pesan-pesan Anda untuk generasi muda Muslim?

Kita harus menyadari bahwa hidup ini bukan atas kemauan orang lain atau bahkan diri kita sendiri. Setiap manusia hidup di atas muka bumi ini atas kemauan Allah. Allah menginginkan agar kita semua taat kepada-Nya. Karena itu, kita harus taat kepada-Nya secara serius dan profesional.

Untuk itu, tidak harus menjadi orang yang menggurui.

Sebab, sebenarnya taat itu urusan pribadi kita masing-masing. Taat itu harus dilakukan tanpa syarat. Jadi, saat dikasih lapang oleh Allah, kita tidak lalai. Saat kita dikasih sempit atau kesulitan, tidak membuat kita berpaling dari-Nya.

photo
Ustaz Umaier Khaz - (DOK IST)

 

 

Kesan Dakwah ke Mancanegara

 

Sejak berusia belasan tahun, Ustaz Umaier Khaz sudah aktif dalam dunia dakwah. Berbagai pengalamannya, ada yang cukup berkesan baginya. Di antaranya, safari dakwah ke beberapa negara.

Ustaz Umaier menuturkan, dirinya pernah mengunjungi langsung para pengungsi etnis Rohingya di Myanmar. Di samping itu, komunitas Muslim Uighur di Republik Rakyat Cina (RRC) juga sempat disambanginya. Tak lupa, saudara-saudara seiman di Palestina juga dikunjunginya.

Pemilik nama lengkap Umaier Khadimul Azis ini mengaku sangat terinspirasi oleh kedua orang tuanya. Ayah dan ibunya menginginkan dirinya agar menjadi dai pelayan dan pencerah umat. Lelaki kelahiran Solo, Jawa Tengah, itu menjalani pendidikan keagamaan yang penuh disiplin sejak dini.

Dai yang hobi membaca dan menulis itu pernah nyantri di Pondok Pesantren Darusy Syahadah Boyolali. Setelah lulus SMA, pada 2012 ia kemudian melanjutkan pendidikan S-1 ke Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta. Ilmu Syariah menjadi jurusan yang diambilnya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Umaier Khaz