ILUSTRASI Arwa binti Abdul Muthalib merupakan seorang bibi Nabi Muhammad SAW. | DOK PXFUEL
10 Oct 2021, 05:03 WIB

Keteguhan Hati Sang Bibi Rasul

Salah satu bibi Rasulullah berteguh hati dalam membela perjuangannya.

OLEH HASANUL RIZQA

Dalam menjalankan misi kenabian, Rasulullah SAW memperoleh dukungan dari keluarga, kaum kerabat, dan umatnya. Mereka berteguh hati dalam membela Nabi Muhammad SAW. Salah seorang pembela dakwah beliau ialah Arwa binti Abdul Muthalib radhiallahu ‘anha.

Dialah salah satu bibi Rasul SAW. Suami pertamanya bernama Umair bin Wahb. Sesudah lelaki itu wafat, ia menikah dengan Arta bin Sharahbil. Arwa memperoleh hidayah Ilahi sehingga dirinya memeluk Islam. Cahaya petunjuk Allah SWT itu didapat melalui seorang anaknya, Thulaib bin Umair.

Sebelumnya, putranya itu tertarik mendengarkan ceramah Nabi SAW di Darul Arqam. Waktu itu, Rasulullah SAW masih menjalankan dakwah secara sembunyi-sembunyi. Ajaran Islam sangat menyentuh hati Thulaib. Pemuda itu pun langsung menyatakan dirinya berislam.

Terkait

Thulaib suatu hari menemui ibunya dan berkata, “Wahai Ibu, ketahuilah bahwa aku kini menjadi pengikut Muhammad. Aku beriman kepada Allah dan bersaksi bahwa Muhammad ialah utusan-Nya.”

“Sungguh, anak pamanmu itu adalah yang paling utama engkau ikuti dan bela. Demi Allah, seandainya kami, kaum wanita, bisa melakukan apa-apa yang dilakukan laki-laki (dalam membela Muhammad SAW), maka kami pasti mengikutinya,” jawab Arwa panjang-lebar.

“Lantas, apa yang masih menghalangimu untuk memeluk Islam? Bahkan, saudara lelakimu, Hamzah, telah menjadi Muslim juga,” kata Thulaib lagi.

“Aku hanya menunggu respons saudari-saudariku,” jawabnya.

Merasa tidak puas akan jawaban itu, Thulaib terus membujuk sang ibu. Dikatakannya, tidak perlu menanti siapa-siapa. Cukuplah dengan kerelaan hati dan keyakinan.

“Aku mohon kepadamu dengan menyebut nama Allah,” kata Thulaib, “temuilah dia (Nabi Muhammad SAW), ucapkanlah salam kepadanya, dan bersaksilah di hadapannya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.”

Arwa kemudian berdiri dan mendekati putranya itu. “Sungguh aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah,” katanya.

Thulaib menangis haru begitu mendengar perkataan yang meluncur dari lisan ibunya itu. Iman dan Islam telah menerangi hati bibi Nabi SAW tersebut sejak saat itu.

 
Thulaib menangis haru begitu mendengar perkataan yang meluncur dari lisan ibunya itu. Iman dan Islam telah menerangi hati bibi Nabi SAW tersebut sejak saat itu.
 
 

Sebagai seorang Muslimah, Arwa binti Abdul Muthalib tidak tinggal diam untuk mendukung syiar Islam. Saat itu, Rasulullah SAW belum masuk dalam fase dakwah secara terang-terangan. Bagaimanapun, tekanan dan ancaman yang beliau terima dari kaum musyrikin Quraisy begitu besar. Banyak tokoh Makkah yang sesumbar menghina, mencemooh, dan bahkan menyakiti al-Musthafa.

Pada suatu hari, Nabi SAW sedang mendirikan shalat. Tiba-tiba, datanglah Abu Jahal. Tokoh Quraisy itu memukul beliau hingga kepalanya terluka. Melihat kejadian itu, Thulaib seketika berlari ke arah Abu Jahal.

Musuh Allah ini lalu diseretnya agar menjauh dari Rasulullah SAW. Di tengah lapangan, sosok bernama asli Amr bin Hisyam bin Mughirah itu dihajarnya keras-keras.

Perkelahian pun tak terhindarkan. Abu Lahab yang sedang berjalan di dekat mereka segera melerai keduanya. Sebelum meninggalkan lokasi, Thulaib mengancam Abu Jahal kalau sampai orang musyrik itu masih berani menyakiti Nabi SAW.

Kejadian ini dilaporkan Abu Lahab kepada Arwa binti Abdul Muthalib. “Coba lihat Thulaib, anakmu itu! Hanya untuk membela Muhammad, dia sampai nekat memukul Abul Hakam (sebutan dari kaum musyrikin untuk memanggil Abu Jahal)!”

 
Coba lihat Thulaib, anakmu itu! Hanya untuk membela Muhammad, dia sampai nekat memukul Abul Hakam.
 
 

“Sungguh, inilah hari terbaiknya, ketika dia membela putra pamannya sendiri. Muhammad SAW sungguh merupakan utusan Allah,” kata Arwa dengan tenangnya.

“Kau telah menjadi pengikut Muhammad!?” seru Abu Lahab.

“Benar,” jawabnya yenang.

“Aku heran denganmu. Mengapa kau malah berpaling dari agama ayah kita (Abdul Muthalib) dan mengikuti Muhammad?”

“Begitulah adanya,” timpal Arwa dengan tenang, “kau pun seharusnya berdiri membela putra saudaramu itu! Bila nanti dakwahnya diterima banyak orang, kau pun ikut dalam kebaikan bersama dengannya. Maka ikuti dan lindungilah ia (Nabi Muhammad SAW) dari sekarang.”

Namun, Abu Lahab tetap saja menolak untuk beriman. Bersama dengan Abu Jahal, gembong musyrikin Quraisy ini selalu menghalangi manusia dari dakwah Islam.

Sewaktu hijrah diserukan, Arwa termasuk dalam rombongan yang berangkat dari Makkah ke Madinah—dahulu bernama Yastrib. Hingga akhir hayatnya, perempuan ini selalu setia membela Islam.

Bibi Rasulullah SAW ini wafat pada tahun 15 H atau ketika era pemerintahan Khalifah Umar bin al-Khattab.


×