Pekerja menimbang telur ayam hasil panen di sebuah peternakan ayam petelur di Wonokoyo, Malang, Jawa Timur, Selasa (21/9/2021). Tak kunjung naiknya harga telur ayam yang berada di kisaran Rp14.500 per kilogram dalam tiga bulan terakhir membuat peternak a | ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/wsj.
08 Oct 2021, 14:37 WIB

Kementan Dorong Industri Pengolahan Telur

Industrialisasi komoditas telur diperlukan sehingga terdapat diversifikasi produk.

JAKARTA -- Kementerian Pertanian akan mendorong industrialisasi olahan telur ayam. Industrialisasi komoditas telur diperlukan sehingga terdapat diversifikasi produk yang mendukung peningkatan konsumsi telur dan menciptakan stabilisasi harga.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian Nasrullah mengatakan, sejauh ini memang belum terdapat industri tepung telur di Indonesia. Karena itu, pemerintah harus mendorong adanya industrialisasi produk turunan telur.

"Kami akan mendorong swasta dan juga BUMN untuk (membangun) industri tepung telur," ujarnya, Kamis (7/10).

Presiden Peternak Layer Nasional Ki Musbar Mesdi menilai, industri tepung telur perlu dibangun pemerintah. Menurut dia, industri pengolahan telur akan menghasilkan produk turunan yang bernilai tambah.

Terkait

Dia meyakini, hal itu mendukung kemajuan koperasi peternak layer sehingga memasok tepung telur bagi perusahaan industri makanan olahan. Musbar mengatakan, sejauh ini Indonesia masih mengimpor tepung telur untuk industri makanan sebagai bahan baku produksi.

"Jika itu dibangun, negara kita tidak perlu lagi impor telur dan pemerintah harus proteksi penuh itu dengan diberikan kepada koperasi peternak. Jangan beri peluang ke perusahaan multinasional untuk impor," ujar Musbar.

Ketua Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka) Ali Usman menuturkan, pembangunan industri tepung telur diperlukan saat ini karena adanya permintaan yang terus meningkat dari industri makanan dan minuman. Selain itu, industri tepung telur juga bisa ikut membantu mengatasi kelebihan suplai yang terjadi pada industri ayam broiler.

Ali mengatakan, sejauh ini pemerintah mengatasi kelebihan suplai ayam broiler dengan memusnahkan telur ayam yang akan ditetaskan menjadi bibit ayam broiler. Langkah itu semestinya tidak terus-menerus dilakukan karena merupakan langkah yang sangat merugikan.

Ia mengatakan, pada dasarnya telur ayam yang dihasilkan dari ayam broiler sama dengan telur yang dihasilkan oleh ayam petelur. Telur dari ayam broiler pun dapat dikonsumsi selama belum masuk dalam proses pengeraman dan penetasan.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Ditjen PKH Kementan RI (ditjen_pkh)

Wacana industri tepung telur, kata Ali, sudah muncul sejak 2019. Namun, belum ada tindak lanjut konkret hingga saat ini. Industrialisasi justru terus terjadi pada sektor ayam broiler di mana semakin banyak perusahaan integrator perunggasan dan menyebabkan terjadinya kelebihan suplai daging ayam yang berimbas pada anjloknya harga.

Kemudian, Ali mengatakan, saat ini perusahaan integrator mulai merambah pasar telur ayam. Ia menyebut, produksi telur ayam secara nasional saat ini sekitar 15 persen disumbang dari perusahaan skala industri. Padahal, sesuai aturan pemerintah, produksi telur ayam sebanyak 98 persen dikuasai oleh peternak layer. Seharusnya, kata Ali, industri yang saat ini ikut menikmati bisnis telur ayam diarahkan kepada industri olahan telur, yakni tepung telur.

"Jangan sampai nasib peternak layer sama dengan nasibnya peternak broiler," ujar Ali.

Permintaan terhadap impor tepung telur selalu ada setiap tahun seiring berkembangnya industri makanan dalam negeri. Pada 2019, tercatat total impor tepung telur mencapai 2.750 ton dan produk olahan telur sebesar 549 ton. Negara asal impor, di antaranya Belgia, Denmark, India, Italia, Ukraina, dan Amerika Serikat.


×