Aktivis pendidikan Pakistan, Malala Yousafzai. | (AP Photo/Nati Harnik)
27 Sep 2021, 03:45 WIB

Malala Desak Dunia Lindungi Perempuan Afghanistan

Keraguan menyelimuti tentang penghormatan perempuan oleh Taliban.

NEW YORK -- Peraih Nobel Perdamaian Malala Yousafzai memohon kepada dunia internasional untuk melindungi hak-hak perempuan Afghanistan setelah Taliban berkuasa. Menurutnya, tak ada kompromi pada perlindungan hak perempuan.

Termasuk untuk mengenyam pendidikan di negara tersebut. "Kami tidak bisa berkompromi tentang perlindungan hak-hak perempuan dan perlindungan martabat manusia," kata Malala pada panel pendidikan anak perempuan di Afghanistan di sela-sela Sidang Umum ke-76 PBB, Jumat (24/9) lalu.

Ketika negara dan organisasi mengambil langkah pertama terlibat dengan Taliban, Malala justru khawatir Taliban akan bertindak seperti yang dilakukan kelompok Islam garis keras 20 tahun lalu ketika berkuasa. Padahal sejak itu, kesempatan kerja dan pendidikan bagi perempuan Afghanistan telah sangat berkembang.

"Sekarang saatnya kita berpegang teguh pada komitmen itu dan memastikan bahwa hak-hak perempuan Afghanistan dilindungi. Dan salah satu hak penting itu adalah hak atas pendidikan," katanya menambahkan.

Terkait

Malala ditembak militan Tehrik-i Taliban Pakistan pada 2012 karena mengampanyekan pendidikan bagi perempuan. Ia ditembak di kepala saat menuju Distrik Swat untuk menjalani ujian. Ia berhasil diselamatkan di Inggris dan kemudian memperoleh penghargaan Nobel Perdamaian. 

Beberapa pemimpin dunia berjanji untuk memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak perempuan Afghanistan pada pertemuan tahunan PBB pekan ini. Namun belum begitu jelas bagaimana mereka akan melakukannya.

Presiden Joko Widodo juga menyinggung soal hak perempuan Afghanistan dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB. Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi dalam beberapa pertemuannya di rangkaian Sidang Majelis Umum PBB juga mendesak agar hak-hak perempuan Afghanistan diutamakan.

Retno mengungkapkan kekhawatirannya, kemajuan yang selama ini dicapai di Afghanistan bisa saja mengalami kemunduran. Termasuk di bidang pembangunan dan pemberdayaan perempuan.

"Oleh karenanya masyarakat internasional harus bersatu menyampaikan harapan yang sama, yakni terbentuknya pemerintahan inklusif di Afghanistan, penghormatan hak asasi manusia, khususnya hak-hak perempuan, dan memastikan wilayah Afghanistan tidak dijadikan tempat untuk kegiatan terorisme," ujar Menlu Retno dalam briefing secara virtual, Kamis (23/9) lalu.

Ia juga menyampaikan pada salah satu pertemuan bahwa Taliban sangat penting untuk memenuhi semua janji-janji yang telah dikemukakan. Diperlukan langkah nyata untuk memenuhi janji tersebut.

photo
Anak-anak perempuan berjalan menuju kelas di Kabul, Afghanistan, Ahad (12/9/2021). - (AP/Felipe Dana)

Kekhawatiran atas hak-hak perempuan di Afghanistan meningkat sejak Taliban secara kilat mengambil alih kekuasaan pada Agustus. Meski Taliban mengeklaim kelompoknya sudah berubah sejak pemerintah 1996-2001, ketika mereka melarang perempuan meninggalkan rumah tanpa kerabat laki-laki.

Namun keraguan menyelimuti dunia tentang langkah penghormatan perempuan oleh Taliban. Sebab mereka mengatakan, akan membuka sekolah untuk anak laki-laki usia sekolah menengah, tapi tidak untuk anak perempuan.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan, keinginan Taliban untuk pengakuan internasional adalah satu-satunya pengaruh global untuk menekan pemerintah yang inklusif dan menghormati hak-hak, terutama bagi perempuan.

Di antara mereka yang berbicara di PBB tentang penderitaan perempuan dan anak perempuan Afghanistan adalah Presiden Dewan Uni Eropa, Charles Michel dan Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez.

Michel menyerukan agar melestarikan sebanyak mungkin keuntungan dari 20 tahun terakhir ketika pasukan AS terlibat di sana. "Tidak ada masyarakat yang memungkinkan setengah dari populasinya untuk bergerak maju, dan dengan sengaja membuat setengah lainnya di belakang, yang berkelanjutan," katanya. 


×