Menteri BUMN Erick Thohir mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (30/8/2021). Rapat tersebut membahas laporan keuangan Pemerintah Pusat APBN TA 2020, progres realisasi anggaran TA 2021, pembahasan RKA K/L | ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
23 Sep 2021, 11:53 WIB

BUMN Konstruksi Berpeluang Pulih

Pemulihan BUMN konstruksi ini sangat bergantung pada penanganan pandemi Covid-19.

JAKARTA — PT Fitch Ratings Indonesia memproyeksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dalam sektor konstruksi akan pulih pada paruh kedua tahun ini. Perusahaan pelat merah yang berpotensi bangkit itu utamanya yang menggenggam kontrak baru dari pemerintah.

"Fitch memperkirakan sebagian besar profitabilitas kontraktor dan kontrak baru akan terwujud pada semester kedua karena pemerintah biasanya mempercepat tender proyek dan pencairan anggaran terkait infrastruktur pada kuartal keempat," kata analis Fitch Rating Indonesia Ana Halim dalam risetnya, seperti dikutip Republika, Rabu (22/9).

Peningkatan kontrak baru pada semester I 2021 dan pelonggaran pembatasan pergerakan secara bertahap akan membantu kontraktor meningkatkan arus kas mereka. Peningkatan kegiatan usaha juga akan mendukung kontraktor dalam mengurangi siklus modal kerja yang panjang.

Adapun kontrak baru berkaitan dengan pemerintah yang digenggam empat kontraktor terbesar Indonesia meningkat hingga 18 persen secara tahunan pada semester I 2021. PT Wijaya Karya (Persero) Tbk membukukan kontrak baru sebesar Rp 10,5 triliun pada semester I 2021, naik lebih dari tiga kali lipat dibandingkan jumlah tahun sebelumnya.

Terkait

Kontrak baru PT Adhi Karya (Persero) Tbk juga melonjak hampir 70 persen. Sementara, PT PP (Persero) Tbk relatif masih sama dibandingkan periode tahun lalu.

Sebaliknya, kontrak baru PT Waskita Karya (Persero) Tbk anjlok 62 persen secara tahunan pada semester I 2021 saat sedang menjalani restrukturisasi utang. Begitu juga kontrak baru PT Hutama Karya (Persero) turun 32 persen secara tahunan pada semester I 2021.

Wika, kontraktor terkait pemerintah dengan order book terbesar, mencatatkan rasio order book terhadap pendapatan dalam 12 bulan terakhir (LTM) naik menjadi 5,07 kali pada akhir semester I 2021 dibandingkan 3,46x pada tahun sebelumnya. Rata-rata pendapatan order book lima kontraktor terbesar terkait pemerintah adalah 3,8 kali pada akhir 2020.

Menurut Fitch, pemulihan BUMN sektor konstruksi ini sangat bergantung pada penanganan pandemi Covid-19. Saat ini, beberapa daerah di Indonesia telah melonggarkan pembatasan pergerakan karena kasus Covid-19 lokal telah menurun. "Infeksi di tempat kerja dan gangguan terkait tetap menjadi risiko operasional utama bagi kontraktor karena dapat menunda kemajuan konstruksi," kata Ana.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by PT Waskita Karya (Persero) Tbk (waskita_karya)

 

Untuk beberapa kontraktor terkait pemerintah, seperti Wika dan Hutama Karya, profil jatuh tempo utang yang dapat dikelola dan akses pendanaan yang solid juga dapat mengurangi risiko penurunan akibat pandemi yang berkepanjangan. Hal ini menempatkan Wika dan Hutama Karya dalam posisi yang lebih baik untuk memenangkan kontrak dan meningkatkan order book dibandingkan dengan kontraktor lain.

Wika tidak memiliki utang jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam 12 bulan ke depan. Akses pendanaan ke perbankan dan pasar utang tetap solid karena menerbitkan obligasi domestik, termasuk sukuk, senilai Rp 5 triliun pada Desember 2020 dan Maret 2021.

Sementara itu, hanya 16 persen dari utang jangka panjang Hutama Karya pada akhir 2020 yang akan jatuh tempo sebelum 2025. Hutama Karya juga menerima suntikan modal sebesar Rp 6,2 triliun dari pemerintah pada kuartal III 2021.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by WIKA (ptwijayakarya)

Wika optimistis dapat pulih lebih baik pada semester III 2021. Wika menilai penanganan pandemi yang semakin komprehensif serta vaksinasi yang semakin meluas cukup mampu membawa Indonesia keluar dari gelombang kedua Covid-19. "Upaya ini tentunya berdampak pada mulai bergairahnya pasar konstruksi di Tanah Air," ujar Sekretaris Perusahaan Wika Mahendra Vijaya.

Mahendra mengatakan, Wika optimistis mampu mencapai target kontrak baru setelah review pada kisaran Rp 35 triliun. Namun, jika ekpektasi tender mengalami pergeseran waktu, Wika tetap merespons baik karena dapat menjadi modal order book untuk diproduksi pada 2022.


×